Amalia Zahira, CNBC Indonesia
14 April 2026 16:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman fenomena iklim ekstrem. El Niño diprediksi akan muncul dalam beberapa bulan ke depan, dengan potensi berkembang menjadi "super El Niño" yang dapat memicu lonjakan suhu global dan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat peluang kemunculan El Niño mencapai 62% pada periode Juni hingga Agustus.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat kemungkinan sekitar sepertiga bahwa fenomena ini akan menguat secara signifikan pada akhir tahun.
Di Indonesia, peringatan juga sudah disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BRIN merilis prediksi cuaca ekstrem berupa El Nino Godzilla berpotensi melanda RI di periode musim kemarau tahun 2026 ini. Merespons hal itu, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengingatkan waspada dampak yang dapat ditimbulkan oleh fenomena iklim tersebut, yakni potensi kenaikan harga beras seiring ancaman gangguan produksi di dalam negeri.
Sebab, sambungnya, struktur pertanian Indonesia saat ini masih rentan terhadap perubahan iklim, khususnya kekeringan.
"Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, banyak lahan sawah tadah hujan, dan sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar," kata Eliza kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki pandangan lain. Kondisinya saat ini sebetulnya peluang untuk sampai level super kuat, atau disebut godzila, itu hanya 15-20%. Berdasarkan hasil perhitungan saat ini, peluang terbesarnya hanya sampai level moderate.
Jika skenario Super El Nino terjadi, dunia bisa kembali menghadapi tekanan iklim besar, bahkan berpotensi melampaui episode 2023-2024 yang tercatat sebagai salah satu kondisi terpanas dalam sejarah.
Apa Itu "Super El Niño" dan Mengapa Berbahaya?
Super El Niño merupakan kondisi ekstrem dari fenomena El Niño, ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat jauh di atas normal dalam waktu yang cukup lama.
Fenomena ini berpotensi mendorong suhu rata-rata bumi ke level yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dalam konteks perubahan iklim yang sudah memanas, kehadiran super El Niño dapat menjadi "pemicu tambahan" yang dapat memperparah kondisi.
Artinya jika Super El Niño terjadi, kekeringan parah dan banjir dapat terjadi di berbagai wilayah pada waktu yang bersamaan.
Dampaknya dapat sangat terasa terutama pada sektor pertanian. Risiko gagal panen dan kematian hewan ternak yang semakin tinggi dapat menyebabkan kelangkaan komoditas yang berdampak pada lonjakan harga pangan.
Ketidakpastian Tinggi, Risiko Tetap Nyata
Meskipun berbagai model cuaca semakin mengarah pada kemunculan El Niño, para peramal belum sepenuhnya sepakat mengenai seberapa kuat fenomena ini akan berkembang.
AccuWeather memperkirakan peluang super El Niño sekitar 15% hingga akhir musim badai pada November. Sementara itu, NOAA menilai peluang El Niño kuat mencapai sekitar 33% pada periode Oktober hingga Desember, namun dengan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi.
Artinya, skenario terburuk mungkin belum pasti terjadi, tetapi risikonya cukup besar untuk diwaspadai.
(mae/mae)

6 hours ago
3

















































