Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) angkat bicara soal alasan strategis di balik kerja sama dengan salah satu produsen protein terbesar di dunia, yakni JBS Group. Investasi ini ditujukan guna mengembangkan bisnis protein di Tanah Air seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pangan dan protein.
Managing Director, Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, terdapat beberapa hal yang mendorong Danantara untuk mengembangkan industri pangan, khususnya untuk protein.
"Satu adalah bahwa memang sektor pangan ini adalah sektor yang pasti dengan bertumbuhnya perekonomian apalagi penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 280 juta, penduduk di Asia Tenggara yang hampir mencapai 800 juta dengan tingkat konsumsi protein di mana Indonesia pada saat ini masih memiliki tingkat konsumsi protein kurang lebih 40% di bawah rata-rata konsumsi protein di negara-negara yang sudah berkembang," ujar dia kepada CNBC Indonesia, ditulis Senin (7/9/2026).
Pahala menilai, dengan adanya target pertumbuhan ekonomi 8%, pertumbuhan penduduk dan juga peningkatan daripada konsumsi protein per penduduknya sendiri, maka akan meningkatkan permintaan terhadap bahan makanan. Termasuk, untuk bahan makanan yang berbasiskan protein.
"Jadi ini yang tentunya menjadi salah satu yang kita lihat tren ke depannya apalagi kalau kita lihat bahwa dengan adanya kondisi geopolitik yang ada ini kan juga akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana supply chain terhadap bahan pangan ini menjadi satu hal yang betul-betul menjadi hal yang sangat strategis," ucapnya.
"Nah ini yang menjadi salah satu dasar kenapa kita melakukan investasi tersebut bersama-sama juga dalam hal ini melihat siapa sebetulnya pada saat ini adalah merupakan salah satu pemain produksi protein terbesar di dunia," terang dia lagi.
Atas dasar itu, Danantara pun menjalin kerja sama dengan JBS Group yang dinilai mempunyai skala teknologi dan kapabilitas mumpuni di industri protein. Dalam hal ini, Danantara menyasar beragam jenis sumber protein hewani seperti sapi, kan, ayam dan lainnya.
"Nah ternyata JBS sebagai perusahaan yang berasal dari Brazil tetapi listing di Amerika saat ini mereka mengoperasikan aset-aset dengan bangsa pasar yang cukup dominan di Australia mencapai antara 45% sampai dengan 50% adalah merupakan salah satu mitra yang sangat berpotensi," jelasnya.
Lebih jauh, Danantara juga menganggap kemampuan yang dimiliki oleh JBS Group bisa mendukung pengembangan dan memperkuat rantai pasok pangan regional, termasuk protein di Indonesia.
"Jadi ini yang memang betul-betul menjadi dasar buat kita melihat bahwa ini ada salah satu pemain utama dan mereka juga sangat tertarik buat mereka bagaimana nantinya mereka bisa mengoptimalkan dan juga melakukan pertumbuhan ke depannya bukan hanya di Australia tapi juga di Indonesia sebagai salah satu market terbesar yang sebetulnya pada saat ini juga adalah berdampingan dengan Australia dan ini adalah merupakan salah satu supply chain dunia pangan yang paling tidak rentan terhadap adanya kondisi geopolitik," jelasnya.
Dari sisi pendanaan, Danantara dan JBS Group masing-masing akan menggelontorkan dana sebesar US$ 2,5 miliar. Alhasil, total dana yang terhimpun mencapai US$ 5 miliar dan akan difokuskan untuk pengembangan bisnis protein di Indonesia pada dua tahun pertama.
(bul/bul)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































