Indeks Kerukunan Beragama RI Cetak Rekor, Konflik Agama Selesai 100%?

2 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Agama (Kemenag) merilis Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) terbaru. Data itu menunjukkan, tingkat kerukunan beragama di Indonesia disebut semakin tinggi.

Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan, IKUB tahun 2025 mencapai level tertinggi sejak survei digelar pertama kali pada tahun 2015. Survei IKUB 2025 dilakukan bersama Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia (UI) dengan tema Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025.

Rilis hasil survei ini diumumkan pada momen Refleksi 2025 dan Proyeksi 2026 di Jakarta pada 22 Desember 2025. Tercatat, angka IKUB nasional tahun 2025 mencapai 77,89. Naik dari tahun 2024 yang ada di level 76,47, lalu tahun 2023 di 76,02, tahun 2022 di 73,09, dan tahun 2021 di level 72,39.

Dalam 1 dekade terakhir, IKUB terendah tercatta pada tahun 2020, yaitu di level 67,46 dan terendah kedua di tahun 2018 di level 70,90.

Disebutkan, ada 3 indikator utama dalam Survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama, yaitu toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan.

Dijelaskan, toleransi menyangkut sikap umat beragama menerima dan menghormati orang lain yang berbeda keyakinan/ kepercayaan dengannya. Kesetaraan terkait pandangan dan sikap hidup yang menganggap semua orang adalah sama dalam hak dan kewajiban. Serta, kebersamaan dijelaskan menyangkut tindakan saling bahu membahu dan bersama-sama mengambil manfaat dari eksistensi bersama.

Lantas, apa artinya tercapainya Indeks Kerukunan Umat Beragama tertinggi tersebut?

Kata Kamaruddin, selama 5 tahun terakhir, kenaikan IKUB dimaknai sebagai selesainya semua persoalan kerukunan dan kebebasan beragama. Indeks tahun 2025 yang mencapai 77,89 disebutnya menunjukkan secara agregat kerukunan agama di Indonesia ada pada kategori tinggi.

"Jadi indeks kerukunan yang tinggi ini memang patut kita syukuri. Tapi bukan berarti sudah tidak ada masalah. Kita terus berupaya memitigasi dan menyelesaikan kasus yang muncul agar kerukunan umat tetap terjaga," katanya, dikutip dari situs resmi Kemenag, Selasa (25/8/2026).

Di sisi lain, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Adib Abdusshomad mengakui, masih ada persoalan-persoalan terkait kerukunan beragama yang terjadi.

"Kementerian Agama tidak mengabaikan berbagai peristiwa yang terjadi. Setiap persoalan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama terus dipantau dan dikoordinasikan secara cermat bersama para pemangku kepentingan terkait," tegas Adib.

"Berbagai pendekatan dilakukan agar setiap persoalan dapat ditangani secara proporsional, mengedepankan dialog, pencegahan eskalasi, serta penyelesaian yang berkeadilan," sambungnya.

Deteksi Dini Konflik Beragama di Indonesia

Dan, imbuh dia, pencapaian IKUB selama 11 tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif dalam toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan masyarakat Indonesia.

"Memang sampai saat ini masih terjadi persoalan kerukunan, tapi itu tidak serta-merta membatalkan kesimpulan hasil IKUB. Setiap kasus yang muncul kita upayakan penyelesaian dan mitigasi agar kerukunan tetap terjaga," ucap Adib.

"Toleransi, kebersamaan, dan kehidupan dalam kesetaraan masyarakat Indonesia harus terus dirawat dan ditingkatkan kualitasnya," tegas Adib.

PKUB sendiri, cetusnya, terus memperkuat instrumen deteksi dan pencegahan dini. Salah satunya melalui pengembangan Early Warning System (EWS) atau Sistem Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan. IKUB dan EWS kemudian saling melengkapi.

"EWS dirancang untuk mendeteksi berbagai potensi persoalan sedini mungkin. Dengan demikian, pemerintah tidak hanya hadir setelah terjadi konflik, tetapi dapat melakukan langkah-langkah preventif dan mitigatif sebelum suatu persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar," terangnya.

"IKUB memberikan gambaran mengenai kondisi kerukunan masyarakat secara agregat melalui dimensi toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Sementara itu, EWS berfungsi mendeteksi berbagai peristiwa dan potensi konflik secara lebih dini agar dapat segera dikoordinasikan dan ditangani," paparnya.

Adib tidak mengklaim Indonesia kini bebas dari masalah kerukunan beragama.

"Kita tidak mengatakan Indonesia bebas dari persoalan kerukunan. Yang kita sampaikan adalah bahwa secara agregat, hasil survei menunjukkan kemajuan dalam toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan," ucapnya.

"Adapun setiap peristiwa yang terjadi tetap menjadi perhatian dan ditangani melalui mekanisme koordinasi, pemantauan, serta deteksi dan pencegahan dini," kata Adib.

Negara RI Paling Rajin Beribadah

Sebelumnya disebutkan, Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerajinan beribadah tertinggi di dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari World Bank, sekitar 95% penduduk Indonesia rutin beribadah setiap hari, yang setara dengan lebih dari 270 juta orang.

Angka ini menjadikan Indonesia tidak hanya unggul secara persentase, tetapi juga memiliki jumlah absolut masyarakat yang aktif beribadah harian terbesar di dunia.

Berikut 10 negara dengan persentase penduduk paling rajin berdoa tiap hari:

1. Indonesia, 269,3 juta (jumlah yang berdoa), 95% (persentase populasi berdoa harian)
2. Kenya 47,4 juta - 84%
3. Nigeria 195,5 juta - 84%
4. Malaysia 28,5 juta 80%
5. Filipina 91,5 juta - 79%
6. Brasil 161,1 juta - 76%
7. Bangladesh 130,2 juta - 75%
8. Ghana 25,1 juta - 73%
9. Sri Lanka 15,8 juta - 72%
10. Kolombia 37,6 juta - 71%.

Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin. (Instagram/Kamaruddin Amin)Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin. (Instagram/Kamaruddin Amin) Foto: Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin. (Instagram/Kamaruddin Amin)

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |