Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
17 April 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Logam tanah jarang atau rare earth mungkin belum sepopuler komoditas lain seperti minyak, batu bara, atau nikel. Namun, komoditas ini diam-diam memegang peran yang sangat penting dalam perekonomian global saat ini.
Logam tanah jarang digunakan dalam berbagai industri strategis, mulai dari kendaraan listrik, energi terbarukan, semikonduktor, perangkat elektronik, hingga sistem pertahanan. Salah satu penggunaan terpentingnya adalah pada permanent magnet, yakni komponen penting yang membantu mengubah energi listrik menjadi gerakan dan sebaliknya.
Secara umum, logam tanah jarang terdiri dari 17 unsur, yakni 15 unsur lantanida serta scandium dan yttrium. Meski digunakan dalam jumlah relatif kecil, unsur-unsur ini memiliki sifat kimia dan fisika yang sangat penting bagi berbagai teknologi masa kini.
Meski demikian, pasar logam tanah jarang sebenarnya relatif kecil jika dibandingkan dengan komoditas besar lainnya. Nilai pasar rare earth oxides pada 2024 diperkirakan hanya sekitar US$6 miliar, sementara pasar permanent magnet mencapai sekitar US$25 miliar.
Namun, di balik ukuran pasar yang kecil itu, logam tanah jarang menjadi input penting bagi banyak industri bernilai tambah tinggi. Karena itu, gangguan kecil pada pasokannya saja bisa menimbulkan efek berantai yang jauh lebih besar terhadap perekonomian global.
China Batasi Ekspor, Dunia Langsung Waspada
Kekhawatiran dunia terhadap logam tanah jarang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah China mulai memperketat ekspor komoditas tersebut.
Melansir laporan World Economic Outlook edisi April 2026 yang dirilis International Monetary Fund (IMF), pada April 2025, setelah Amerika Serikat mengenakan tarif besar kepada banyak mitra dagangnya, China memperkenalkan persyaratan lisensi ekspor untuk tujuh jenis logam tanah jarang dan magnet berbasis logam tanah jarang.
Kebijakan ini memicu gangguan pasokan serius bagi banyak produsen di berbagai negara.
IMF mencatat ekspor permanent magnet China sempat turun sekitar 70% secara tahunan pada Mei 2025. Ini menandakan terjadinya perlambatan pasokan global yang cukup tajam, meski sifatnya tidak berlangsung lama.
Setelah itu, pada Oktober 2025, China kembali mengumumkan pengetatan aturan lisensi ekspor logam tanah jarang, sebelum sebagian kebijakan itu kemudian ditangguhkan pada November dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat. Bahkan, pada Januari 2026, China disebut kembali membatasi ekspor logam tanah jarang berat atau heavy rare earth elements (HREE) ke Jepang.
Masalahnya, dunia memang masih sangat bergantung pada China dalam rantai pasok rare earth.
Untuk kategori logam tanah jarang ringan atau light rare earth elements (LREE), pangsa produksi tambang China memang sudah turun dari 97% pada 2010 menjadi 58% pada 2024.
Namun, dominasi China masih sangat besar di tahap pengolahan, yakni sekitar 88% kapasitas pemisahan oksida dan 93% pemurnian logam global. Untuk HREE, dominasi China bahkan mendekati monopoli, mulai dari penambangan, pemisahan, pemurnian, hingga produksi permanent magnet.
Di sinilah letak persoalan utamanya. Titik paling rawan dalam rantai pasok rare earth ternyata bukan hanya di tambang, melainkan di proses separation dan refining. Tahap ini sangat rumit, mahal, memerlukan keahlian khusus, dan tidak bisa dibangun dengan cepat.
Dampaknya Bukan Cuma ke Pabrik, Tapi Bisa ke PDB
Gangguan pasokan logam tanah jarang tidak hanya berdampak pada satu-dua industri, tetapi bisa menjalar ke perekonomian yang lebih luas. IMF menjelaskan logam tanah jarang digunakan di 34 dari 405 sektor ekonomi di Amerika Serikat.
Sektor-sektor tersebut pada 2017 menyumbang nilai tambah sekitar US$233 miliar, setara dengan 0,8% PDB nominal AS. Paparan serupa juga terlihat di negara lain seperti Prancis 0,4%, Jerman 2,5%, India 1,3%, Jepang 1,7%, dan Inggris 0,6%.
Artinya, logam tanah jarang memang bukan komoditas besar dari sisi nilai pasar, tetapi kehadirannya menopang aktivitas di banyak sektor penting.
Jika pasokannya terganggu, imbasnya bisa meluas ke industri otomotif, elektronik, energi terbarukan, hingga manufaktur berteknologi tinggi lainnya. IMF mencontohkan, jika permanent magnet menjadi langka, maka produksi kendaraan listrik bisa terganggu. Dari situ, efeknya bisa menyebar lagi ke biaya transportasi, biaya produksi, hingga kegiatan ekonomi sektor lain yang bergantung padanya.
Dalam simulasi yang dibuat IMF, jika terjadi pemangkasan pasokan rare earth sebesar 80% dan pelaku usaha punya ruang substitusi yang terbatas, maka dampaknya ke ekonomi bisa cukup besar.
Produk domestik bruto Amerika Serikat diperkirakan bisa turun 1,5%, sementara Jerman sekitar 1,2%. Besarnya dampak ini juga dipengaruhi oleh keterkaitan antarsektor dalam perekonomian.
Ketika satu sektor terganggu, tekanan itu tidak berhenti di situ, tetapi menular ke sektor lain melalui rantai pasok dan jaringan produksi.
Namun, IMF juga menegaskan bahwa dampak tersebut bisa jauh lebih kecil jika dalam jangka panjang produsen memiliki waktu untuk beradaptasi, mencari alternatif, atau mengubah desain produksinya.
Dalam skenario ketika elastisitas substitusi lebih tinggi, rata-rata penurunan PDB menjadi nyaris tak signifikan. Masalahnya, kemampuan adaptasi seperti itu tidak mudah dicapai dalam waktu cepat, terutama untuk industri yang sangat bergantung pada logam tanah jarang tertentu dan tidak memiliki pengganti yang setara.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

5 hours ago
2

















































