- Pasar keuangan RI ditutup kompak pada zona pelemahan
- Wall Street ambruk karena kekhawatiran harga minyak
- Lonjakan harga minyak, dampak inflasi AS dan PPI Jepang menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak melemah baik di pasar saham, mata uang ataupun obligasi.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan bergerak melemah lagi karena data inflasi Amerika Serikat (AS) sehingga akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya serta potensi supply chain yang terganggu akibat bencana alam yang melanda Indonesia dari berbagai macam spektrum.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). IHSG ditutup anjlok 1,29% atau 86,30 poin ke level 6.591,90.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG bergerak dalam rentang cukup lebar sepanjang perdagangan. Indeks dibuka di level 6.688,18 dan sempat menguat hingga 6.712,50. Namun, tekanan jual kemudian membawa IHSG jatuh ke level terendah 6.585,56 sebelum ditutup di 6.591,90.
Dengan penutupan di 6.591,90, IHSG kembali berada di bawah level psikologis 6.600 setelah sempat menguji area 6.700 pada awal perdagangan.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume mencapai 51,1 miliar saham. Nilai transaksi tercatat Rp21,6 triliun dengan frekuensi 2,67 juta kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 150 saham menguat, 516 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup merata di pasar.
Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign outflow sebesar Rp 1,95 triliun di all market dan mencatatkan net foreign outflow pula di pasar reguler sebesar Rp 747,51 miliar
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 70,16 triliun di all market dan Rp 97,69 triliun di reguler market.
Tekanan paling besar datang dari sektor energi yang anjlok 2,21%. Selanjutnya, sektor kesehatan melemah 1,69%, industri koreksi 1,53%, bahan baku -1,22%, dan finansial -1,18%.
Sementara itu, sektor properti menjadi sektor dengan koreksi paling terbatas, yakni 0,07%, disusul utilitas yang turun 0,17%.
Dari jajaran saham pemberat IHSG, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 15,52 poin. Diikuti PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 10,40 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 7,04 poin.
Saham lain yang turut menekan indeks yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,02 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 3,58 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,47 poin, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) 3,27 poin.
Sebaliknya, sejumlah saham masih mampu menjadi penahan laju koreksi IHSG. PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) memberikan kontribusi positif terbesar, yakni 3,72 poin. Disusul PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 2,55 poin, PT Astra International Tbk (ASII) 1,73 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 1,65 poin, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 1,23 poin.
Dari sisi sentimen, pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan bursa global akibat lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Harga Brent telah menembus US$101 per barel.
Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarinkemarin.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,17% dan menutup perdagangan Kamis (10/9/2026) di posisi Rp17.530/US$. Berbalik dibandingkan posisi pembukaan di Rp17.495/US$ atau menguat 0,03%.
Pelemahan tersebut juga membalikkan penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya Rabu (9/9/2026), pada saat rupiah ditutup melesat 0,71% ke level Rp17.500/US$. Meski terkoreksi, rupiah masih berada di sekitar posisi terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,10% ke posisi 98,721.
Pergerakan rupiah kemarinkemarin terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Harga minyak Brent masih bertahan di atas US$100 per barel setelah menembus level tersebut pada perdagangan Rabu kemarin. Kenaikan terjadi ketika Iran dan AS tengah melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap jalur pelayaran di selat Hormuz sejak perang dimulai.
Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kenaikan harga energi juga mendorong kekhawatiran terhadap inflasi sehingga imbal hasil obligasi global kembali meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan menyentuh posisi tertinggi sejak 2023.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan hal ini mengindikasikan investor didominasi oleh penjual dibandingkan dengan pembeli di pasar.
SBN bergerak melemah ke level 7,096% pada perdagangan Rabu kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau ditutup pada level 7,095%

11 hours ago
4

















































