Harga Minyak Terpeleset, Bayang-bayang Venezuela Kembali Menghantui

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis pagi (15/1/2026) seiring pasar merespons dinamika geopolitik baru dari Venezuela yang kini berada di bawah pengaruh langsung Amerika Serikat.

Melansir Refinitiv, pada pukul 09.20 WIB, Brent berada di US$64,67 per barel, turun tajam dari posisi sehari sebelumnya di US$66,52. WTI juga terkoreksi ke US$60,26 per barel dari US$62,02.

Tekanan jual ini memperpanjang koreksi yang sudah terjadi dua hari terakhir. Dalam dua sesi, Brent telah turun hampir US$2, sementara WTI kehilangan lebih dari US$1,7. Padahal, secara mingguan harga minyak masih jauh di atas posisi awal Januari, saat Brent masih berkisar US$60 dan WTI di US$56. Artinya, pasar sedang berada dalam fase repricing setelah reli cepat pekan lalu.

Pemicu utama perubahan sentimen datang dari Washington. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia melihat Venezuela akan "lebih baik" jika tetap berada di dalam OPEC, meski ia mengakui belum yakin apakah itu menguntungkan bagi Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul setelah AS mengklaim telah mengambil alih kendali atas industri minyak Venezuela pasca operasi militer yang menyingkirkan Nicolas Maduro. Bagi pasar, ini bukan sekadar isu politik, melainkan potensi perubahan besar dalam arsitektur pasokan global.

Venezuela adalah anggota pendiri OPEC dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Jika di bawah pengaruh AS negara itu tetap berada di dalam kartel, maka secara teori Caracas akan tetap terikat kuota produksi. Namun, jika Washington mendorong peningkatan produksi untuk mengalirkan minyak ke pasar global, maka Venezuela berpotensi menjadi sumber konflik internal di OPEC, terutama dengan Arab Saudi yang selama ini menjadi penjaga disiplin pasokan.

Di saat yang sama, gangguan nyata terhadap ekspor Venezuela sudah mulai terasa di Asia. Blokade AS sejak Desember membuat arus minyak Venezuela ke China, pembeli terbesar yang menyerap 75% ekspor Venezuela pada 2025 terjun bebas.

Dari rata-rata 642 ribu barel per hari, aliran yang diperkirakan tiba di China dalam beberapa bulan ke depan kini tinggal sekitar 166 ribu barel per hari. Secara fisik ini adalah faktor bullish, karena berarti pasokan berat seperti Merey dan fuel oil semakin langka.

Namun pasar justru fokus pada sisi lain, China tidak sedang kekurangan minyak. Data pelacakan menunjukkan puluhan juta barel minyak Venezuela masih berada di laut dan China sudah menimbun stok besar sejak akhir 2025. Artinya, meski aliran baru terhambat, kilang China tidak perlu buru-buru mencari pengganti. Dampaknya, potensi lonjakan harga dari sisi kekurangan pasokan tertahan.

Lebih jauh lagi, rencana AS untuk mengalihkan sebagian minyak Venezuela ke pasar domestik dan mendorong perusahaan-perusahaan AS berinvestasi di sana menciptakan persepsi bahwa dalam beberapa bulan ke depan pasokan global justru bisa bertambah. Bagi trader minyak, ini jauh lebih relevan dibandingkan gangguan jangka pendek ke China.

Kombinasi antara ketidakpastian posisi Venezuela di dalam OPEC, potensi peningkatan produksi di bawah pengaruh AS, dan stok China yang masih penuh membuat pasar memilih mengunci profit setelah reli cepat awal tahun.

CNBC Indonesia

(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |