Harga Masih Tinggi, Ini Negara yang Doyan Borong Emas Bank Sentral

12 hours ago 7

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

12 April 2026 15:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas global masih bertahan di jalur positif sepanjang pekan ini. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan kehati-hatian investor terhadap gencatan senjata AS-Iran yang dinilai rapuh membuat minat ke aset aman tetap terjaga. Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) berada di US$ 4.747,49 per troy ons. Meski turun 0,34% harian, dalam sepekan emas masih naik 1,54% secara point-to-point.

Kenaikan harga emas terjadi saat bank sentral dunia juga masih aktif di pasar logam mulia. Namun pola pembeliannya mulai berubah. Rilis World Gold Council edisi April 2026, yang memuat posisi hingga Februari 2026 untuk mayoritas negara, memperlihatkan ada negara yang terus menambah cadangan, sementara sebagian lain mulai mengurangi simpanan.

Polandia menjadi pembeli terbesar tahun ini dengan tambahan 20,2 ton secara year to date. Pembelian tersebut mendorong total cadangan emas Polandia menjadi 570,4 ton, terbesar ke-13 di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, Warsawa konsisten menaikkan porsi emas di tengah risiko keamanan kawasan Eropa Timur dan gejolak ekonomi global.

Uzbekistan menyusul dengan tambahan 7,8 ton. Total cadangan negara itu kini mencapai 406,8 ton. Kazakhstan menambah 7,7 ton menjadi 347,6 ton. Kedua negara ini memiliki produksi emas domestik besar, sehingga pasokan lokal memberi ruang lebih luas untuk menambah cadangan tanpa terlalu bergantung pada pasar internasional.

Asia juga tetap bergerak. Malaysia membeli 1,6 ton dan kini memiliki 43,9 ton emas. China menambah 0,9 ton sehingga total cadangannya mencapai 2.308,5 ton, terbesar ketujuh di dunia. Meski laju pembelian melambat dibanding periode sebelumnya, langkah Beijing tetap diperhatikan pasar karena China menjadi salah satu pemain utama permintaan resmi global.

Dari sisi penjualan, Turki mencatat penurunan terbesar sebesar 8,1 ton. Meski begitu, total cadangan emas negara tersebut masih tinggi di level 595 ton, terbesar ke-12 dunia. Dalam metodologi World Gold Council, angka Turki memakai cadangan emas resmi setelah dikurangi emas yang terkait skema sektor perbankan, swap, deposito, dan instrumen lain.

Rusia juga mengurangi 6,2 ton pada awal tahun ini. Total cadangan emasnya masih mencapai 2.311 ton, terbesar keenam dunia. Posisi ini menempatkan Rusia tepat di atas China. Meski terjadi penurunan, Moskow tetap menjadi salah satu pemilik emas terbesar global hasil akumulasi panjang selama lebih dari satu dekade.

Indonesia tercatat belum mengalami perubahan berarti pada 2026. Total cadangan emas Indonesia berada di level 87 ton, peringkat ke-44 dunia. Angka ini masih di bawah Thailand yang memiliki 234,5 ton dan Singapura 193,8 ton. Porsi emas terhadap total cadangan devisa Indonesia juga sekitar 9,6%, jauh lebih rendah dibanding negara yang agresif menumpuk emas.

Amerika Serikat masih menjadi pemilik emas terbesar dunia dengan 8.133,5 ton. Jerman berada di posisi kedua dengan 3.350,3 ton, disusul IMF 2.814 ton, Italia 2.451,8 ton, dan Prancis 2.437 ton. Negara-negara Barat tetap mendominasi daftar pemilik emas terbesar karena akumulasi cadangan sejak era sistem moneter lama.

Bagi pasar, kombinasi data ini penting. Arus pembelian Polandia dan Asia Tengah masih menopang permintaan. Penjualan dari Turki dan Rusia menambah suplai. Sementara total kepemilikan yang terkonsentrasi di negara besar membuat arah harga emas tetap sensitif terhadap keputusan segelintir bank sentral utama dunia.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |