Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang makin anjlok mulai berdampak ke harga berbagai produk elektronik.
Sejumlah pedagang di ITC Kuningan mengeluhkan harga smartphone hingga kartu memori terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
Bahkan, menurut pengakuan pedagang, kenaikan harga berpotensi berlanjut dalam waktu dekat karena mengikuti pergerakan dolar AS dan meningkatnya biaya komponen, termasuk chip.
Krisis kelangkaan chip sudah terjadi sejak akhir 2025 lalu. Penyebabnya, lonjakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) membuat produsen mengesampingkan produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, konsol game, dan perangkat elektronik rumah tangga.
Salah seorang pegawai toko di ITC Kuningan mengatakan tren kenaikan harga sudah terasa sejak Maret hingga April 2026 dan berdampak pada hampir seluruh kategori perangkat elektronik.
"Nanti ke depannya naik lagi, karena ngikutin dolar kita. Bisa dua minggu sekali naiknya, gara-gara dolar sama chipset AI," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Ia menyebut kenaikan harga tidak hanya terjadi pada HP, tetapi juga tablet, laptop, jam tangan pintar hingga kartu memori. Dalam skenario terburuk, harga beberapa produk bahkan bisa melonjak berkali-kali lipat.
"Semua HP, elektronik, bahkan memory card, bisa naik sampai tiga kali lipat. Yang biasa Rp100 sekarang jadi Rp300," katanya.
Menurut dia, kenaikan harga terjadi secara bertahap. Untuk produk kelas menengah seperti seri Redmi, kenaikan biasanya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Namun, untuk lini flagship, lonjakannya bisa jauh lebih besar.
"Kalau seri flagship Xiaomi, sekali naik bisa Rp500 ribu. Kalau seri-seri biasa paling Rp100 ribu sampai Rp200 ribu," ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pegawai toko lain di ITC Kuningan. Ia mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada produk baru, tetapi juga perangkat bekas atau second.
"Iya, pada naik semua. Semua baru juga naik, parah naiknya, mahal-mahal," ujarnya.
Untuk perangkat bekas seperti iPhone, kenaikan harga disebut berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Sementara produk baru mengalami kenaikan lebih besar, yakni sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Pedagang tersebut memperkirakan tren kenaikan harga mulai terasa sejak 24 Mei lalu dan mencakup hampir seluruh produk elektronik, mulai dari iPad, MacBook, ponsel hingga laptop.
"Semua, iPad, MacBook, semua juga sama naik," katanya.
Kenaikan harga yang terus terjadi juga berdampak langsung pada aktivitas penjualan. Menurut para pedagang, konsumen kini semakin menahan belanja karena harga yang terus bergerak naik.
"Iya, bukan sepi lagi, parah," ucap penjaga toko tersebut saat ditanya mengenai kondisi penjualan di tengah kenaikan harga elektronik.
Di tengah tekanan kurs dolar AS dan kenaikan biaya komponen global, para pedagang memperkirakan harga ponsel masih akan terus naik dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi ini membuat konsumen yang berencana membeli perangkat elektronik baru harus bersiap menghadapi harga yang makin mahal.
Jualan HP Makin Susah
Kelangkaan chip memori global dikatakan paling terdampak di pasar Asia-Pasifik. Pasalnya, HP murah mendominasi wilayah ini. HP murah umumnya mengambil margin tipis, sehingga ruangnya sangat kecil untuk menghadapi harga chip memori yang naik gila-gilaan.
Firma riset Counterpoint telah memangkas proyeksi pertumbuhan pengapalan HP global untuk 2026 menjadi minus 2,1%. Pabrikan HP China seperti Honor, Oppo, dan vivo, mendapat revisi pengapalan yang paling tajam. Ketiganya diramalkan akan mencatat pertumbuhan minus lebih dari 1% hingga kurang dari 4%.
Harga chip memori masih berpotensi naik 40% sepanjang Q2-2026, sehingga bisa menambah biaya produksi sekitar 8%-15%. Kemungkinan manufaktur harus menelan sendiri risiko ini atau membagi beban dengan menaikkan harga jual ke konsumen.
"Di segmen harga yang lebih rendah, kenaikan harga yang tajam pada HP tidak berkelanjutan," kata analis senior Counterpoint, Yang Wang.
"Dan jika mekanisme pengalihan biaya tidak memungkinkan, OEM akan mulai memangkas sebagian portofolio mereka. Itulah yang sebenarnya mulai kita lihat dengan berkurangnya volume SKU kelas bawah secara signifikan," ia menambahkan.
Rata-rata harga jual HP diramalkan akan naik 6,9% secara tahun-ke-tahun (YoY) di 2026. Persentase itu meningkat dari proyeksi sebelumnya pada September 2025 yang mematok peningkatan 3,6%.
Bagi pasar seperti Asia Tenggara dan India, di mana perangkat dengan harga di bawah US$200 mendorong volume penjualan, ini merupakan pergeseran mendasar dalam dinamika keterjangkauan harga.
Warga Ogah Beli HP Baru di Awal 2026
Menurut laporan firma riset IDC dan Counterpoint di Q1 2026, angka pengapalan HP menurun. Perlu dicatat, jumlah pengapalan tidak secara spesifik merujuk pada jumlah penjualan riil di pasar. Kendati demikian, data pengapalan kerap menjadi indikasi tingginya permintaan produk.
Secara keseluruhan, Counterpoint mencatat pengapalan HP global turun 6% YoY. Sementara itu, IDC menyebut penurunannya 4,1% YoY.
Berdasarkan laporan IDC sepanjang Q1 2026, pengapalan HP global berjumlah 289,7 juta unit. Hal ini mengakhiri tren pertumbuhan selama 10 kuartal berturut-turut yang telah dialami pasar sejak pertengahan tahun 2023.
"Kami memperkirakan perlambatan pada kuartal pertama ini akan menjadi pertanda ringan untuk apa yang akan terjadi di tahun 2026 karena kendala pasokan terkait memori dan kenaikan harga akan semakin menghambat pertumbuhan pasar," tulis laporan IDC.
Di tengah krisis tersebut, IDC mencatat Samsung masih menjadi 'raja' HP dunia dengan pertumbuhan positif 3,6% YoY dengan market share 21,7%. Samsung berhasil mengapalkan 62,8 juta unit Hp di Q1 2026.
Kemudian di posisi kedua ada Apple dengan pertumbuhan positif 3,3%. Apple mengapalkan 61,1 juta unit iPhone dan meraup pangsa pasar 21,1%.
Berbeda dari IDC, Counterpoint mencatat Apple sebagai 'raja' HP di awal 2026, dengan pertumbuhan 5% YoY. Sementara itu, Samsung dilaporkan mengalami penurunan 6% YoY dan menduduki peringkat kedua.
Pabrikan-pabrikan kawakan asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo, masih bertengger di 'Top 5', tetapi mencatat penurunan pengapalan yang signifikan.
(fab/fab)
Addsource on Google

7 hours ago
6

















































