Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah mengajukan permintaan langsung secara "empat mata" kepada Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak KTT AS-China bulan lalu. Ini guna meminta bantuan dan intervensi Beijing dalam mengakhiri perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
Mengutip laporan Asia Business Daily dari South China Morning Post (SCMP) pada Senin, beberapa sumber yang mengetahui jalannya KTT tersebut mengungkapkan bahwa Trump menyampaikan permintaan khusus ini agar Xi bersedia "membujuk Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera kembali ke meja perundingan". Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi itu sendiri berlangsung di Beijing, China, pada tanggal 14 hingga 15 Mei lalu.
Sejak kembali menduduki takhta di Gedung Putih, Trump memang telah menetapkan resolusi penghentian perang di Ukraina sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya. Kendati demikian, satu-satunya pembicaraan tingkat tinggi yang pernah terjadi antara pihak-pihak yang bertikai yakni Rusia dan Ukraina, hanya terjadi di Türkiye pada Juli tahun lalu.
Tidak hanya itu, pada Maret tahun ini, Trump juga diketahui telah melancarkan tekanan politik yang kuat kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk segera menyepakati sebuah perjanjian damai dengan Rusia. Namun, di tengah berbagai upaya diplomatik tersebut, eskalasi serangan militer di medan perang justru terus melonjak secara mengerikan di lapangan.
Hal ini terbukti ketika Rusia secara brutal menggempur ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik pada tanggal 25 Mei, yang kemudian langsung dibalas oleh Ukraina pada tanggal 30 Mei melalui serangan udara ke pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang saat ini berada di bawah pendudukan militer Rusia.
Sampai saat ini, baik Trump maupun pihak istana White House masih memilih untuk bungkam dan enggan memberikan komentar resmi kepada publik mengenai detail pembicaraan rahasia terkait perang Ukraina tersebut.
Trump hanya memberikan pernyataan singkat yang mengonfirmasi bahwa isu krusial tersebut memang sempat diangkat dalam pertemuan. "Itu adalah salah satu hal yang kami harap dapat segera diselesaikan," kata Trump, dikutip Selasa (2/6/2026).
Di sisi lain, lembar fakta resmi yang dirilis oleh White House sama sekali tidak mencantumkan poin pembahasan mengenai topik Ukraina tersebut. Sementara itu, pernyataan resmi dari pihak pemerintah China hanya menyebutkan secara normatif bahwa kedua pemimpin dunia itu saling bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional utama, termasuk krisis yang terjadi di Ukraina.
Hanya berselang beberapa hari setelah KTT AS-China usai, Xi langsung menggelar pertemuan puncak lanjutan dengan Putin di Beijing pada tanggal 20 Mei. Dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan, kedua pemimpin negara sekutu tersebut menegaskan keteguhan sikap mereka.
"Kedua negara mengakui bahwa akar penyebab krisis Ukraina harus dihilangkan dan kerangka kerja untuk keamanan bersama serta perdamaian abadi harus dibentuk, secara penuh dan komprehensif berdasarkan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," tegas Xi dan Putin.
Mengutip kembali laporan SCMP, meskipun Trump telah memohon kepada Xi untuk menyeret Putin kembali ke meja negosiasi, permintaan ini nyatanya hanya menjadi agenda sekunder atau isu sampingan dalam KTT tersebut. Sebagian besar jalannya diskusi antara AS dan China justru berfokus pada masalah perdagangan dan investasi, sementara untuk isu geopolitik, masalah Taiwan dan Iran jauh lebih diprioritaskan ketimbang urusan Ukraina.
(tps/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
4

















































