Harga Emas Bangkit 0,73%, Tapi Masih Dibayangi Keputusan The Fed

3 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 September 2026 08:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia bangkit pada perdagangan terakhir pekan ini setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir. Namun, kenaikan tersebut belum mampu menyelamatkan emas dari pelemahan selama tiga pekan beruntun.

Merujuk data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (11/9/2026) ditutup menguat 0,73% ke posisi US$4.347,31 per troy ons.

Kenaikan tersebut menjadi titik balik setelah harga emas mengalami tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pembelian pada harga rendah mulai dilakukan pelaku pasar dan membantu emas menjauh dari posisi terendahnya pekan ini.

Meski menguat pada akhir pekan, harga emas masih melemah 1,82% secara mingguan. Pelemahan tersebut membuat emas mencatatkan penurunan selama tiga pekan secara beruntun.

Tekanan terhadap emas sepanjang pekan ini terutama datang dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data inflasi konsumen AS yang diumumkan pada Jumat tadi malam menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.

Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli.

Secara tahunan, inflasi AS bertahan di level 3,4%. Sementara inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, tercatat sebesar 2,4% dan masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.

Kenaikan harga minyak sepanjang pekan ini juga turut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi AS dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga semakin terbuka.

Harga kontrak berjangka suku bunga menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 87% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada rapat FOMC 15-16 September 2026. Peluang tersebut meningkat dari 67% sebelum data inflasi AS dirilis.

Kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, investor memiliki lebih banyak pilihan aset yang menawarkan pendapatan tetap.

Namun, harga emas justru mampu berbalik menguat pada Jumat. Pelaku pasar mulai melakukan pembelian setelah harganya turun tajam dan sempat mendekati US$4.300 per troy ons.

"Pergerakan harga menunjukkan emas mulai menemukan titik terendah jangka pendek setelah penurunan terakhir," kata pedagang logam independen Tai Wong, dikutip dari Reuters.

Menurut Wong, kenaikan emas terjadi ketika pelaku pasar sebenarnya semakin yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan depan. Namun, sebagian besar ekspektasi tersebut sudah lebih dahulu tercermin dalam harga.

Permintaan emas fisik sepanjang pekan ini juga menunjukkan pergerakan yang beragan di dua negara konsumen terbesar dunia. Permintaan di India masih lesu karena pergerakan harga yang tajam membuat pembeli menahan transaksi. Sebaliknya, permintaan investasi emas di China tetap kuat.

Emas Pekan Depan

Pergerakan harga emas pada pekan depan akan sangat ditentukan oleh keputusan suku bunga The Fed. Pasar tidak hanya menunggu keputusan kenaikan suku bunga, tetapi juga pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Survei mingguan Kitco menunjukkan sebagian besar analis Wall Street mulai memperkirakan harga emas akan kembali menguat.

Dari 14 analis yang mengikuti survei, sembilan analis atau 64% memperkirakan harga emas naik pada pekan depan. Dua analis atau 14% memproyeksikan harga turun, sementara tiga analis atau 21% memperkirakan harga bergerak mendatar.

Optimisme juga masih terlihat di kalangan investor ritel. Dari 218 responden, sebanyak 53% memperkirakan emas menguat, 24% memproyeksikan pelemahan, dan 23% memperkirakan harga bergerak sideways.

Marc Chandler, Managing Director Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas berpeluang menguat menjelang rapat The Fed dengan sasaran teknikal di kisaran US$4.460-US$4.510 per troy ons.

Namun, arah selanjutnya akan bergantung pada keputusan bank sentral AS. Jika The Fed batal menaikkan suku bunga, harga emas berpeluang melonjak karena keputusan tersebut berlawanan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar.

Sebaliknya, kenaikan suku bunga disertai pernyataan yang lebih agresif mengenai pengetatan lanjutan dapat kembali menekan harga emas.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |