Harga Batu Bara Bangkit, Ada Peringatan Bahaya dari Lembaga Dunia

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara bangkit setelah dua hari beruntun. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (16/4/2026) ditutup di US$ 125,75 per ton. Harganya menguat 0,64%.

Penguatan ini memutus derita batu bara dengan ambruk 5,7% dalam dua hari terakhir sebelumnya.

Harga batu bara naik lagi seiring kenaikan harga minyak yang juga melonjak 4% pada Kamis kemarin.

Analisis terbaru Wood Mackenzie mengatakan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi di Timur Tengah memicu lonjakan baru permintaan dan harga batu bara termal global. Pasalnya, banyak negara kembali beralih ke batu bara untuk menjaga pasokan listrik di tengah terbatasnya arus LNG melalui Selat Hormuz.

Wood Mackenzie adalah lembaga riset dan konsultan energi global terkemuka yang berasal dari Edinburgh, Skotlandia (Inggris).

"Dalam guncangan pasokan sebesar ini, batu bara menjadi cadangan penting untuk keamanan energi," kata Sushmita Vazirani, analis utama komoditas curah di Wood Mackenzie, dikutip dari Reuters.

Meski hanya sebagian kecil perdagangan batu bara global melewati Selat Hormuz, gangguan di jalur ini berdampak tidak langsung besar terhadap pasar energi.

Pasokan LNG yang berkurang membuat harga gas global naik, mendorong utilitas dan industry kembali memakai batu bara untuk pembangkit listrik.

Peralihan ini paling terlihat di Asia dan Eropa, ketika keamanan energi mulai mengalahkan target dekarbonisasi jangka pendek.

Taiwan bersiap menghidupkan kembali PLTU Hsinta 2,1 GW, yang bisa mengonsumsi 5,5 juta ton batu bara per tahun. Korea Selatan menaikkan panduan impor batu bara Rusia. Jepang diperkirakan lebih mengandalkan tenaga nuklir, termasuk restart reaktor Kashiwazaki-Kariwa Unit 6, untuk mengurangi ketergantungan LNG mahal.

Dari Eropa, Italia mempertimbangkan menghidupkan kembali kapasitas PLTU batu bara. Pasar ARA paling rentan karena bergantung pada impor gas, sehingga peralihan ke batu bara semakin kuat.

Di sisi pasokan, tekanan juga meningkat.

Wood Mackenzie menyebut biaya produksi marjinal sebelum gangguan sekitar US$112/ton, dan diperkirakan naik karena harga minyak mentah lebih tinggi.

Setiap kenaikan US$10 per barel harga minyak dapat menaikkan biaya tambang batu bara sebesar US$1-3/ton, terutama akibat harga diesel yang lebih mahal untuk alat berat dan transportasi.

Kembalinya batu bara menunjukkan konflik antara keamanan energi dan komitmen iklim.

Meski banyak negara berjanji mengurangi ketergantungan pada batu bara, kondisi pasar saat ini memaksa pembalikan sementara. Dengan pasar LNG tertekan dan risiko geopolitik berlanjut, batu bara kembali menjadi bahan bakar cadangan utama dunia.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |