Gurun Sahara Makin Jadi Basah, Ada Apa?

2 hours ago 4

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

24 January 2026 20:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanasan global yang berimbas pada perubahan iklim yang makin sulit diprediksi membuat banyak fenomena aneh bermunculan di dunia, di mana salah satunya di Gurun Sahara Afrika Utara.

Hal tersebut merubah Gurun Sahara dari tempat yang kering di dunia hingga menjadi lebih basah. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2025 di jurnal Climate and Atmospheric Science menunjukkan perubahan yang mencolok, di mana pada akhir abad ini, curah hujan tahunan di Sahara dapat meningkat sekitar 75%, tergantung pada emisi gas rumah kaca.

Bagi wilayah yang selama ini dianggap sebagai definisi kekeringan, angka tersebut membuat banyak orang sangat terkejut karena efek dari pemanasan global sudah sangat parah.

Tim peneliti, yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Illinois Chicago, menganalisis data dari 40 model iklim, di mana mereka membandingkan periode historis dari 1965 hingga 2014, dengan proyeksi hingga 2099 di bawah dua skenario yang banyak digunakan oleh para ilmuwan iklim, yakni 'jalur tengah' dan 'jalur ekstrem'.

Dalam kedua skenario tersebut, model-model tersebut bertemu pada satu poin kunci, yakni iklim Afrika menjadi lebih lembap dan hal itu terjadi dengan cepat.

Atmosfer, yang menghangat akibat kenaikan suhu, menampung lebih banyak uap air. Kelembapan ekstra tersebut memicu kejadian hujan yang lebih sering dan lebih intens di sebagian besar wilayah benua.

Dari kelembapan laut hingga badai di daratan

Studi ini mengaitkan masa depan curah hujan di Gurun Sahara dengan perubahan skala besar dalam sirkulasi atmosfer. Seiring pemanasan planet, permukaan laut di Samudra Atlantik dan Samudra Hindia melepaskan lebih banyak uap air ke udara. Transportasi uap air yang lebih kuat dari cekungan-cekungan ini mendorong udara lembap lebih dalam ke benua tersebut.

Pada saat yang sama, posisi dan kekuatan sel Hadley, lingkaran sirkulasi besar yang menggerakkan udara hangat dari daerah tropis menuju lintang yang lebih tinggi mulai bergeser. Pergeseran ke utara dari sel-sel ini mendorong sabuk hujan tropis lebih dekat ke Sahara, terutama selama musim panas di belahan bumi utara.

Ini menandakan bakal ada lebih banyak badai petir di wilayah yang saat ini hanya mengalami beberapa hari hujan setiap tahunnya. Tanah kering yang terbakar matahari, tiba-tiba diterjang hujan deras, bereaksi sangat berbeda dari tanah yang dalam dan bervegetasi di daerah tropis yang lembap.

Gurun Sahara bukanlah satu-satunya wilayah di mana pola curah hujan berubah. Di seluruh Afrika Selatan dan Afrika Tengah, model menunjukkan peningkatan curah hujan sebesar 17-25%. Hal itu dapat menguntungkan waduk pembangkit listrik tenaga air, pengisian ulang air tanah, dan beberapa pertanian tadah hujan, jika pemerintah mengelola air dengan baik.

Namun pola tersebut tetap tidak merata. Bagian paling selatan Afrika, termasuk sebagian Namibia, Botswana, dan Afrika Selatan, mungkin mengalami sedikit penurunan curah hujan hingga sekitar 5% dalam beberapa simulasi.

Penurunan tersebut dikombinasikan dengan suhu yang lebih panas dapat meningkatkan risiko kekeringan bagi wilayah yang sudah kekurangan air.

Dari gurun menjadi tanah semi-kering?

Seiring dengan meningkatnya frekuensi badai konvektif di pinggiran Sahara yang dapat mulai bergeser dari gurun yang sangat kering menuju stepa semi-kering secara musiman.

Bahkan, tanah seperti sabana, semak-semak, rumput, dan pohon-pohon yang tahan banting mungkin akan mengkolonisasi daerah-daerah yang saat ini hanya ditumbuhi tanaman langka yang tahan kekeringan.

Bukti fosil menunjukkan bahwa Gurun Sahara pernah menjadi hijau sebelumnya, yakni sekitar 6.000-8.000 tahun yang lalu. Selama Periode Lembap Afrika, sebagian besar gurun saat ini merupakan danau, lahan basah, dan padang rumput.

Perubahan itu disebabkan oleh pemicu yang berbeda yakni variasi halus dalam orbit Bumi yang mengubah kekuatan monsun. Tetapi hal itu membuktikan bahwa Sahara dapat berubah-ubah kondisinya.

Berbeda dengan zaman dulu, transisi ini akan terjadi di dunia dengan lebih dari satu miliar penduduk di Afrika, infrastruktur yang padat, dan sistem pangan yang sangat terbatas. Reaksi gurun terhadap hujan tidak hanya bergantung pada iklim, tetapi juga pada penggunaan lahan, tekanan penggembalaan, pengambilan air tanah, dan politik regional.

(chd)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |