Salma Laiqa, CNBC Indonesia
07 September 2026 15:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Letusan gunung bukan hanya bencana geologi, tetapi juga dapat mempengaruhi cuaca hingga iklim.
Dampak bencana letusan gunung tengah menyita perhatian di tengah letusan Gunung Anak Krakatau. Gunung yang berada di Selat Sunda terus mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026). Abu vulkanik menyebar hingga Jakarta, Banten, dan sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra.
Kejadian ini memaksa delapan bandara menghentikan operasi dan mengganggu lebih dari 1.500 penerbangan serta sekitar 170.000 penumpang. Kolom abu bahkan terdeteksi mencapai sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer di sisi Sumatra.
Namun, apakah letusan seperti ini juga bisa mengubah iklim?
Gunung Meletus Bisa Mengubah Cuaca?
Dalam jangka pendek, letusan gunung berapi dapat mempengaruhi kondisi atmosfer di sekitar wilayah terdampak. Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan sinar matahari yang mencapai permukaan, sementara partikel dan gas vulkanik juga dapat berinteraksi dengan awan dan kondisi cuaca lokal.
Namun, pengaruh terhadap iklim global membutuhkan letusan dalam skala jauh lebih besar.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), letusan yang paling mampu mempengaruhi iklim adalah letusan eksplosif yang mendorong material dan gas dalam jumlah besar hingga ke stratosfer, lapisan atmosfer yang berada di atas sebagian besar sistem cuaca.
Di sinilah perbedaan antara abu vulkanik dan gas sulfur menjadi penting.
US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa sebagian besar abu yang mencapai stratosfer akan jatuh kembali dalam hitungan hari hingga pekan sehingga dampak iklimnya relatif kecil. Sebaliknya, sulfur dioksida atau SO₂ dapat berubah menjadi aerosol sulfat yang bertahan jauh lebih lama.
Kok Letusan Gunung Malah Bisa Mendinginkan Bumi?
Ketika SO₂ mencapai stratosfer, gas tersebut bereaksi dengan uap air dan membentuk aerosol sulfat berupa tetesan sangat kecil asam sulfat.
Partikel ini memantulkan dan menyebarkan sebagian radiasi matahari kembali ke luar angkasa, sehingga energi yang mencapai permukaan bumi berkurang dan suhu dapat turun sementara.
Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo) Foto: Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo)
Efek ini dapat bertahan berbulan-bulan hingga beberapa tahun karena aerosol sulfat di stratosfer tidak mudah tersapu hujan dan dapat menyebar luas mengikuti sirkulasi atmosfer.
NOAA menjelaskan, dampak pendinginan dari pantulan sinar matahari lebih besar daripada efek pemanasan akibat aerosol menahan sebagian radiasi inframerah bumi.
Perubahan tersebut juga dapat mempengaruhi sirkulasi atmosfer, pola angin, hingga curah hujan, meski dampaknya berbeda-beda antarwilayah.
Artinya, letusan besar memang dapat mempengaruhi iklim, tetapi efeknya umumnya sementara. Kondisi ini berbeda dengan pemanasan akibat gas rumah kaca dari aktivitas manusia yang terus terakumulasi selama emisi berlangsung.
Gunung Berapi Juga Menghasilkan Gas Rumah Kaca (GRK)
Gunung api memang menghasilkan karbon dioksida (CO₂), salah satu gas rumah kaca utama penyebab pemanasan global.
Namun, skalanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan emisi dari aktivitas manusia.
USGS memperkirakan seluruh gunung api di daratan dan bawah laut dunia mengeluarkan sekitar 0,13-0,44 gigaton CO₂ per tahun, dengan estimasi utama sekitar 0,26 gigaton per tahun.
Sebagai perbandingan, data International Energy Agency (IEA) menunjukkan emisi CO₂ global dari pembakaran energi dan proses industri terus meningkat dalam jangka panjang dan mencapai sekitar 38 gigaton pada 2025.
Emisi CO₂ dari Energi dan Industri Terus Meningkat. Sebagai perbandingan, seluruh gunung api dunia diperkirakan mengeluarkan sekitar 0,26 Gt CO₂ per tahun (USGS). Foto: IEA 2026
Artinya, emisi CO₂ dari pembakaran energi dan proses industri saat ini sekitar ratusan kali lebih besar dibandingkan estimasi emisi seluruh gunung api dunia. Jadi, meski erupsi gunung api dapat mempengaruhi iklim dalam jangka pendek melalui aerosol sulfat, kenaikan konsentrasi CO₂ dan pemanasan global jangka panjang tetap jauh lebih banyak didorong oleh aktivitas manusia.
Contoh Besar: Pinatubo dan Tambora
Letusan besar pernah terbukti menurunkan suhu global sementara. Erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 menyuntikkan sulfur dalam jumlah besar ke stratosfer dan menyebabkan pendinginan global yang terukur selama beberapa tahun.
erkontribusi pada fenomena "Year Without a Summer" pada 1816. Perubahan suhu dan pola cuaca tersebut mengganggu musim tanam dan memicu gagal panen di sejumlah wilayah dunia.
Lalu Bagaimana dengan Anak Krakatau Sekarang?
Meski abu Anak Krakatau kali ini telah mencapai ketinggian hingga sekitar 15 kilometer, belum ada bukti bahwa erupsi saat ini cukup besar untuk menghasilkan efek pendinginan iklim seperti Pinatubo atau Tambora.
Tinggi kolom erupsi saja juga belum cukup untuk menentukan dampak iklim. Faktor yang lebih penting adalah berapa banyak SO₂ yang benar-benar masuk dan bertahan di stratosfer, serta seberapa luas aerosol tersebut kemudian menyebar. USGS dan NOAA menekankan bahwa efek iklim besar terutama muncul ketika letusan eksplosif menyuntikkan sulfur dalam jumlah sangat besar ke stratosfer.
Jadi untuk Indonesia saat ini, dampak yang paling nyata justru bersifat lokal dan ekonomi, bukan perubahan iklim global.
Di sisi lain, efek pendinginan vulkanik juga bukan kabar baik untuk perubahan iklim. Pendinginan tersebut hanya sementara dan tidak menghilangkan CO₂ yang telah terakumulasi di atmosfer. Ketika aerosol sulfat akhirnya menghilang, pengaruh pendinginannya ikut hilang, sementara pemanasan akibat emisi manusia tetap ada.
(slm/slm)

2 hours ago
1

















































