FOTO : ilustrasi ( Ai)
Oleh : Rosadi Jamani
( Ketua Satupena Kalbar)
SAYA pernah ke Singapura lewat Batam. Bangga bisa ke sana. Kadang bermimpi kenapa tidak lahir di Singapura. Ternyata, itu dulu. Sekarang orang negeri jiran ini ekonominya sedang bermasalah, dan Batam diuntungkan.
Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Singapura itu dulu seperti Merlion yang tak pernah kehausan. Setengah singa setengah ikan, mulutnya menyemburkan air tanpa henti, simbol kemakmuran yang seolah abadi. Marina Bay Sands berdiri angkuh seperti altar dewa uang, Orchard Road berkilau bak etalase surga, dan Changi Airport berkali-kali dinobatkan sebagai bandara terbaik dunia,
tempat bahkan toilet pun terasa lebih berpendidikan dari sebagian manusia. Negara kecil tanpa sumber daya alam ini hidup dari otak, disiplin, dan presisi jam Swiss. Dunia kagum. Asia iri.
Lalu, entah sejak kapan, air di mulut Merlion mulai terasa mahal.
Hari ini, di balik kilap Marina Bay, Singapura sedang berjalan tertatih seperti MRT yang tetap tepat waktu tapi penumpangnya cemas. Ekonominya melambat. Biaya hidup melonjak seperti lift gedung 50 lantai. Sepanjang 2025, rata-rata 307 restoran dan kios F&B tutup setiap bulan, lebih parah dari masa pandemi.
Tahun 2024 “hanya” 254 per bulan, 2023 sekitar 230. Banyak yang tumbang bukan karena masakannya gagal, tapi karena sewanya terlalu sukses. Bahkan hotel kecil dan supermarket independen ikut mengibarkan bendera putih. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 dipangkas dari 2,6 persen menjadi 1,7 persen. Angka-angka ini dingin, lebih dingin dari AC Orchard Road.
Di titik inilah plot twist terjadi. Warga Singapura mulai melirik seberang laut, ke arah pulau yang dulu hanya jadi catatan kaki, Batam. Mereka tak datang untuk berfoto dengan patung atau berburu sunset. Mereka datang membawa koper kosong, kalkulator mental, dan niat belanja bulanan.
Pada periode Nataru 2025–2026 saja, dalam empat hari, 22 hingga 25 Desember 2025, sebanyak 10.063 wisatawan mancanegara masuk ke Batam, didominasi warga Singapura dan Malaysia. Empat hari. Sepuluh ribu orang. Ini bukan arus wisata, ini arus kebutuhan pokok.
Mall-mall di Batam mendadak seperti Orchard Road versi “hemat”. Media menyebut pusat perbelanjaan di Batam “merayap dan penuh sesak”. Troli saling senggol, kasir bekerja lembur, dan bahasa Singlish terdengar di antara rak beras dan minyak goreng.
Data lama pun menegaskan tren ini, Januari–Oktober 2023, jumlah wisatawan mancanegara ke Batam mencapai 940.046 orang, dan 55,85 persen di antaranya berasal dari Singapura. Lebih dari separuh. Singapura tidak sekadar berkunjung, ia rutin mampir.
Kenapa Batam? Karena angka bicara lebih keras dari slogan pariwisata. Beras di Batam Rp15.000–Rp18.000 per kilogram, di Singapura SGD 2,5–3 atau setara Rp28.750–Rp34.500. Gula pasir Batam Rp16.000–Rp18.000, Singapura bisa tembus Rp32.200.
Ayam di Batam Rp38.000–Rp42.000 per kilo, di Singapura bisa lebih dari Rp100.000. Minyak goreng? Hampir dua kali lipat lebih mahal di negeri Merlion. Dengan kurs SGD sekitar Rp11.500, belanja di Batam terasa seperti diskon nasional permanen.
Sementara Merlion menahan semburan airnya, Batam justru membuka keran baru. Agustus 2025, rute pelayaran langsung Batam–Yangpu, Hainan, resmi diluncurkan. Kapal-kapal COSCO Shipping Lines melaju dari Pelabuhan Batu Ampar langsung ke China, tanpa singgah di Singapura.
MV Sinar Bintan menjadi saksi bahwa jalur lama bisa dipotong. Batu Ampar dimodernisasi, dermaga ditambah, sistem logistik dan bea cukai didigitalisasi. Batam tidak lagi mau jadi halte, ia ingin jadi stasiun utama.
Gold Coast Ferry Terminal yang sempat sepi diaktifkan kembali sejak November 2025 untuk menampung lonjakan wisatawan Singapura. Pelabuhan Sekupang dan Harbour Bay tetap sibuk mengatur arus penumpang. Pelabuhan-pelabuhan itu kini seperti pintu-pintu alternatif ketika Changi terlalu mahal untuk ditinggali secara ekonomi.
Ironinya nyaris puitis. Singapura, dengan Merlion, Marina Bay Sands, dan Orchard Road, kini mengirim warganya menyeberang demi beras dan ayam. Batam, yang dulu dipandang sebagai halaman belakang, sibuk membangun pelabuhan internasional dan jalur langsung ke China. Satu negara menutup ratusan restoran setiap bulan, negara tetangga membuka jalur logistik baru.
Ini bukan kisah kejatuhan, tapi kisah dunia yang berputar tanpa permisi. Ketika ikon-ikon megah harus berhadapan dengan struk belanja, dan sejarah ekonomi tidak lagi ditulis di gedung pencakar langit, melainkan di koper kosong yang berangkat dari Singapura dan pulang penuh dari Batam.
Apakah kalian mau ke Singapura? Bagus ngopi di Pontianak aja, murah meriah, wak!
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

18 hours ago
1

















































