Jakarta, CNBC Indonesia - Asia, utamanya negara berkembang, menjadi bright spot pertumbuhan ekonomi saat seluruh dunia mengalami perlambatan.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 tumbuh 2,3%, melambat dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 2,8%.
Meskipun demikian, negara berkembang di Asia menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi yang resilien. Misalnya saja Indonesia yang ekonominya diperkirakan tumbuh 5,2% pada 2025 dan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8,02%.
Laporan Danantara Indonesia bertajuk "Economic Outlook 2026" menjelaskan alasan negara di selatan dunia mampu muncul sebagai titik cerah saat dunia sedang gloomy._
Saat Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat dan mengeluarkan kebijakan tarif resiprokal ke hampir seluruh negara, yang terjadi adalah kejar-kejaran waktu melakukan ekspor. Hal ini yang kemudian memberikan keuntungan tersendiri bagi negara di Asia.
"Peningkatan ekspor di awal tahun menjelaskan sebagian, tetapi tidak semua, dari kinerja yang lebih baik ini, dengan negara-negara besar seperti India dan Indonesia masih dapat mengandalkan permintaan domestik mereka," tulis Danantara dalam laporannya dikutip pada Senin (12/1/2026).
Selain itu, mengorbitnya negara berkembang tersebut ke China menjadi kekuatan tersendiri. Manfaat yang dirasakan seperti adanya relokasi industri dan potensi investasi asing langsung.
Dua faktor di atas adalah daya tahan yang bersifat momentum terhadap kondisi ketidakpastian saat ini. Namun jika ditelaah lebih dalam, kredibilitas moneter dan fiskal adalah tameng utama dalam menahan gempuran pergolakan ekonomi.
"Selain itu, kita juga dapat menambahkan kebijakan yang baik-dengan prospek terbaru IMF yang mengakui bahwa negara-negara berkembang telah meningkatkan kredibilitas moneter dan fiskal mereka secara signifikan dalam dua dekade terakhir, sehingga meningkatkan ketahanan mereka terhadap guncangan eksternal," tulis Danantara.
Lebih dari itu, Danantara melihat peluang ekonomi Indonesia mampu bertumbuh saat ekonomi tak menentu seperti saat ini. Danantara menjelaskan saat ini ada faktor-faktor yang menyesuaikan ketidakseimbangan ekonomi dunia yang dapat memberi keuntungan terhadap negara-negara berkembang.
"Inflasi yang terjadi kemudian meringankan beban utang, meningkatkan keuntungan, dan membantu menyesuaikan ketidakseimbangan global. Semua efek ini sangat dibutuhkan saat ini, mengingat tingginya tingkat utang fiskal di AS dan negara-negara maju lainnya; merosotnya keuntungan industri di Tiongkok; dan semakin lebarnya kesenjangan antara surplus neraca transaksi berjalan Tiongkok dan defisit neraca transaksi berjalan AS," tulis Danantara.
"Situasi seperti itu akan menguntungkan negara-negara berkembang seperti Indonesia, baik karena dolar yang lemah maupun peningkatan ekspor komoditas."
Danantara menjelaskan kondisi yang mirip pernah terjadi pada 1970-an. Akhir 1980-an, dan pada 2000-an.
"Semuanya bertepatan dengan pertumbuhan PDB yang tinggi di Indonesia. Apakah siklus ini benar-benar akan segera terjadi tentu saja masih diperdebatkan," kata Danantara.
Meskipun ada peluang menguntungkan bagi Indonesia, namun pada akhirnya tetap bergantung pada manuver dua negara ekonomi terbesar, Amerika Serikat dan China.
"Pada akhirnya, pemicunya mungkin menunggu pergeseran kebijakan akomodatif dari Washington dan Beijing, yang bertujuan untuk melawan perlambatan dalam lintasan pertumbuhan masing-masing negara," tulis Danantara.
Danantara menilai saat ini masa depan ekonomi dunia sedang dicatat ulang dengan arah yang berbeda, namun tidak menciptakan blok-blok yang terpisah. Kondisi ini bisa menguntungkan Indonesia.
"Singkatnya, kita melihat kemungkinan masa depan di mana sistem perdagangan dan keuangan global membengkok (bergerak ke fase baru dalam siklus) tetapi tidak pecah (terpecah menjadi blok-blok terpisah). Dan dalam pembengkokan ini terdapat peluang bagi Indonesia," katanya.
(ras/mij)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3














































