Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
13 June 2026 12:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini, sekaligus menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$.
Melansir Refinitiv, pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (12/6/2026), rupiah ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp17.865/US$.
Penguatan tersebut membuat rupiah mencatatkan penguatan mingguan pertamanya sejak terakhir kali terjadi pada Maret 2026. Sepanjang pekan ini, rupiah menguat 0,81% secara point-to-point.
Penguatan rupiah membuat nilai tukar kembali menjauhi level psikologis Rp18.000/US$. Kondisi ini menjadi angin segar setelah sebelumnya mata uang Garuda berada dalam tekanan berat, bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp18.190/US$.
Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga kompak menguat terhadap dolar AS pada pekan ini.
Won Korea Selatan menjadi mata uang paling perkasa di Asia dengan penguatan 2,65%. Posisi berikutnya ditempati peso Filipina yang menguat 1,72%, disusul rupiah yang naik 0,81%.
Selain itu, dolar Singapura menguat 0,43%, baht Thailand 0,34%, dong Vietnam 0,08%, yen Jepang 0,05%, dan yuan China 0,04%.
Meski demikian, masih ada beberapa mata uang Asia yang melemah. Ringgit Malaysia menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,75%, disusul rupee India yang turun 0,16% dan dolar Taiwan melemah 0,10%.
Penguatan mayoritas mata uang Asia pada pekan ini tidak lepas dari pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,32% dalam sepekan ke posisi 99,747.
Pelemahan dolar AS terjadi seiring meredanya tensi geopolitik global. Presiden AS Donald Trump terus mendorong jalur perdamaian dengan Iran, meskipun pada awal pekan ini sempat terjadi aksi militer lanjutan antara kedua negara.
Ketegangan juga masih sempat terlihat antara Israel dan proksi Iran di Lebanon, yakni Hizbullah. Namun, harapan terhadap proses de-eskalasi membuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven ikut berkurang.
Saat risiko geopolitik mereda, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Kondisi inilah yang ikut menopang penguatan mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah, sepanjang pekan ini.
Khusus untuk rupiah, penguatan juga ditopang oleh langkah Bank Indonesia (BI) yang terus gencar menjaga stabilitas nilai tukar. BI berulang kali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Salah satu langkah terbaru BI adalah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (9/6/2026).
Kenaikan suku bunga tersebut menjadi sinyal bahwa BI masih menempatkan stabilitas rupiah sebagai prioritas utama. Suku bunga yang lebih tinggi juga dapat membantu menjaga daya tarik aset keuangan domestik, sehingga menahan tekanan keluar modal asing dan memberi dukungan bagi rupiah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































