China Belum Merayakan Imlek, Dunia Sudah Gemetar Duluan

16 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

25 January 2026 10:00

Jakarta, CNBC Indonesia- Chinese New Year 2026 akan jatuh pada 17 Februari. Dalam perdagangan global, periode ini secara konsisten menjadi fase penghentian produksi paling besar di dunia.

Aktivitas manufaktur di China berhenti sementara, tenaga kerja industri meninggalkan pusat produksi, dan jaringan logistik menyesuaikan jadwal secara serentak. Dampaknya langsung terasa pada arus impor internasional.

Pola ini kembali muncul di awal 2026. Bahkan, penyesuaian impor global tahun ini terjadi lebih cepat dari kalender liburannya.

Memasuki Januari 2026, pasar pengapalan trans-Pasifik menunjukkan peningkatan aktivitas lebih awal dari biasanya.

Melansir Metro Global News per 21 Januari 2026 mencatat volume pengiriman Asia-Amerika Serikat mulai naik tiga hingga empat minggu lebih cepat dibanding pola historis, meskipun Chinese New Year tahun ini jatuh lebih lambat.

Pemesanan impor dari Asia ke Amerika Utara menguat sejak Desember hingga awal Januari, mencatatkan kenaikan bulanan pertama dalam enam bulan terakhir. Di West Coast AS, volume mingguan sempat mencapai level yang umumnya dikategorikan sebagai minggu operasional solid.

Namun, National Retail Federation menilai kenaikan ini bersifat sementara. Aktivitas tersebut mencerminkan penyesuaian jadwal menjelang libur, bukan siklus restocking baru.

Tahun Baru China menciptakan gangguan rantai pasok melalui mekanisme yang relatif konsisten setiap tahun.

Pabrik-pabrik di China menghentikan produksi selama sekitar dua minggu, sering kali dimulai lebih awal karena pekerja mudik sebelum tanggal resmi libur. Setelah libur, pemulihan produksi tidak berlangsung serentak karena sebagian tenaga kerja kembali secara bertahap.

Kondisi ini mendorong importir untuk memajukan pengiriman. Barang dikapalkan lebih awal agar tiba sebelum pabrik tutup, meskipun permintaan akhir belum menunjukkan percepatan. Akibatnya, volume impor terkonsentrasi di periode pra-libur, lalu melemah setelahnya.

Pola tersebut terlihat jelas di awal 2026. Proyeksi throughput di pelabuhan West Coast menunjukkan volume mencapai puncak jangka pendek di awal Januari, kemudian turun ke fase seasonal lull sebelum kembali pulih pada pertengahan Februari, saat kargo yang dimuat tepat sebelum penutupan pabrik mulai tiba.

Di sisi pelayaran, carrier merespons lonjakan musiman dengan penarikan kapasitas. Dalam periode minggu ke-4 hingga ke-8, tercatat 68 blank sailing dari sekitar 698 jadwal keberangkatan Asia, setara dengan sekitar 10% kapasitas yang ditarik.

Sebanyak 47% pembatalan terkonsentrasi pada rute trans-Pasifik eastbound. Penarikan ini dilakukan secara selektif untuk menjaga utilisasi kapal, bukan sebagai respons terhadap lonjakan permintaan ekstrem.

Strategi tersebut berdampak langsung pada harga. Tarif spot Asia-US West Coast meningkat lebih dari 40% dalam empat minggu terakhir, sementara tarif ke East Coast naik sekitar sepertiga. Kenaikan ini terjadi meskipun tidak terdapat indikasi kekurangan ruang secara luas.

Konsekuensi Harga

Meski tarif menguat, daya tahannya terbatas. Upaya general rate increase (GRI) menunjukkan resistensi pasar, menandakan bahwa kenaikan harga lebih mencerminkan manajemen kapasitas ketimbang tekanan permintaan.

Spot rate saat ini berada di atas level kontrak, cukup untuk memperkuat posisi carrier dalam negosiasi layanan. Namun, struktur harga tetap sensitif terhadap perubahan volume. Ini menunjukkan pasar belum memasuki fase permintaan yang kuat.

Indikator inventori mendukung gambaran tersebut. Importir AS sebagian besar mengirim barang untuk memenuhi pesanan berjalan, bukan menarik stok secara agresif.

Pertumbuhan inventori melambat, dan volume impor kuartal IV 2025 tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, setelah lonjakan signifikan pada awal 2025 menciptakan basis yang tinggi.

Proyeksi perdagangan global 2026 berada pada kisaran pertumbuhan satu digit rendah, mengindikasikan kembalinya pola musiman yang lebih konvensional.

Implikasi bagi Indonesia: Gangguan Datang Lewat Bahan Baku

Bagi Indonesia, dampak Chinese New Year tidak berhenti pada keterlambatan impor barang jadi. Risiko utama berada pada impor bahan baku dan barang antara dari China yang menopang produksi domestik. Ketika pabrik di China berhenti sementara, rantai pasok industri di Indonesia ikut kehilangan ritme.

Dalam periode pra Chinese New Year, importir Indonesia cenderung memajukan jadwal pengiriman untuk menghindari jeda produksi. Namun, langkah ini berhadapan dengan pasar pelayaran yang sedang mengetat akibat penarikan kapasitas di jalur Asia-Amerika Serikat. Blank sailing di rute utama mendorong tarif naik secara regional dan mempersempit ketersediaan ruang kapal.

Ketergantungan Indonesia terhadap China tercermin dari neraca perdagangan bilateral. Melansir Kementerian Perdagangan, pada 2025 Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan China sebesar US$17,74 miliar, melebar dibandingkan US$11,12 miliar pada tahun sebelumnya.

Nilai impor dari China mencapai US$78,04 miliar, jauh melampaui ekspor yang sebesar US$60,30 miliar.

Struktur perdagangan ini membuat Indonesia lebih rentan terhadap gangguan pasokan dari China. Ketika produksi dan logistik di negara tersebut berhenti sementara selama Chinese New Year, dampaknya tidak berhenti pada keterlambatan barang, tetapi berpotensi mengganggu kelancaran pasokan bahan baku industri di dalam negeri.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |