Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
12 January 2026 18:30
Jakarta, CNBC Indonesia- Pengiriman perdana durian beku Indonesia ke Pelabuhan Qinzhou, Guangxi, pada 6 Januari 2026 menandai perubahan posisi Indonesia dalam ekonomi durian Asia.
Untuk pertama kalinya, produk durian Indonesia diterima secara resmi oleh sistem karantina China melalui jalur logistik cepat laut. Kontainer itu dilepas dari Indonesia pada 15 Desember 2025 dan dinyatakan memenuhi seluruh protokol fitosanitasi dan mutu yang disepakati kedua negara.
Bagi pasar durian China yang bernilai US$7 miliar pada 2024 atau sekitar Rp 117,8 triliun (US$1=Rp 16.825), inii pembukaan kanal pasok baru dari produsen yang selama ini berada di luar peta utama.
Selama bertahun-tahun, Indonesia adalah produsen besar yang tidak hadir dalam perdagangan.
Dengan produksi sekitar 2 juta ton per tahun, Indonesia sejatinya termasuk salah satu basis durian terbesar di Asia Tenggara. Namun sebelum 2024, nilai ekspor durian Indonesia hanya berkisar ratusan ribu dolar AS, dan pada 2023 baru menembus sekitar US$1 juta dan melampaui US$1.7 juta pada 2024.
Pada saat yang sama, Vietnam menguasai pasar China dengan nilai ekspor US$3,3 miliar, sementara Thailand menjadi pemasok terbesar di dunia. Kesenjangan ini bukan disebabkan kekurangan buah, melainkan ketidakmampuan sistem pascapanen, karantina, dan logistik Indonesia memenuhi protokol China.
Protokol ekspor durian beku yang disepakati antara otoritas Indonesia dan China mencakup skema ketertelusuran penuh, dari kebun terdaftar, fasilitas pengolahan, hingga kontainer ekspor.
Badan Karantina Indonesia menerapkan sistem yang memungkinkan setiap unit produk ditelusuri asal dan prosesnya. Dalam bahasa perdagangan internasional, ini adalah prasyarat utama untuk memasuki pasar berisiko tinggi seperti China, yang selama ini kerap menolak kiriman ASEAN karena isu residu pestisida, organisme pengganggu, atau pelabelan.
Di sisi China, pelabuhan ini menjadi pusat baru perdagangan buah ASEAN-China. Pada 2025, Qinzhou mengoperasikan 44 rute pelayaran langsung ke Asia Tenggara. Mulai 2026, ketika Terusan Pinglu dibuka, wilayah barat daya China memperoleh jalur laut langsung ke laut lepas tanpa memutar ke Hong Kong atau Shanghai.
Otoritas China memperkirakan koridor ini mampu memangkas biaya logistik produk pertanian ASEAN hingga 30%. Bagi durian beku, yang bergantung pada cold chain dan volume besar, efisiensi ini menentukan daya saing harga di pasar ritel China.
China memperlakukan durian segar sebagai komoditas berisiko tinggi karena umur simpan pendek dan sensitivitas terhadap organisme pengganggu.
Durian beku memiliki stabilitas mikrobiologis lebih tinggi, memungkinkan pengawasan mutu yang lebih konsisten dan pengiriman dalam kontainer penuh. Malaysia menempuh jalur ini lebih dulu sebelum akhirnya memperoleh akses untuk durian segar. Indonesia kini mengadopsi jalur yang sama.
Dari sisi pasar, taruhannya besar. Nilai impor durian China mencapai US$7 miliar pada 2024 dan terus tumbuh seiring meningkatnya konsumsi kelas menengah. Pemerintah dan pelaku usaha Indonesia menargetkan pangsa 10% pada tahun pertama, atau setara sekitar US$700 juta.
Bagi Vietnam dan Thailand, masuknya Indonesia mengubah peta persaingan. Selama ini mereka menikmati posisi oligopoli di pasar China. Durian beku Indonesia memberi China opsi pasok baru, sekaligus memperkuat posisi tawar importir China terhadap pemasok lama.
Pengiriman perdana ke Qinzhou belum mengubah statistik perdagangan, tetapi telah mengubah status Indonesia. Dari negara penonton, Indonesia kini resmi tercatat sebagai pemasok dalam sistem impor durian China.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

5 hours ago
1

















































