Jakarta, CNBC Indonesia - Suku bunga deposito perbankan terpantau masih melebihi tingkat bunga penjaminan (TBP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Padahal, sebelumnya rata-rata suku bunga deposito perbankan sempat berada di bawah TBP pada awal tahun hingga sebelum kuartal terakhir 2025.
Melihat grafik dari data perkembangan suku bunga LPS, nampak bahwa kurva rata-rata suku bunga deposito 1 bulan terus berada di bawah TBP LPS hingga bulan Agustus 2025. Sementara itu, rata-rata suku bunga deposito 3 bulan memiliki rentang tipis dengan kurva TBP LPS hingga Juni 2025, kemudian konsisten berada di atas TBP LPS yang diturunkan sebanyak 3 kali sepanjang tahun lalu.
Adapun TBP bank umum rupiah saat ini berada di tingkat 3,5%. Sebagai informasi, TBP akan menjadi patokan bank untuk mematok besaran bunga deposito, karena bunga yang lebih tinggi dari TBP tidak akan dijamin oleh LPS.
Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Anggito Abimanyu pada 2 Januari lalu bahwa sekitar 30% dari industri perbankan masih mematok bunga simpanan di atas TBP bank umum rupiah.
Menurut para bankir, kondisi ini terjadi karena adanya kenaikan persaingan likuiditas jelang akhir tahun. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas.
Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan faktor itu membuat beberapa bank agresif menarik dana pihak ketiga (DPK). Selain itu, penyebab bunga deposito kembali tinggi adalah adanya ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga yang tetap tinggi.
"Ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga yang cenderung tetap tinggi membuat bank mempertahankan pricing dana yang lebih menarik," ujar Efdinal saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Untuk OK Bank, ia mengatakan posisi likuiditasnya masih terjaga. Maka, penetapan suku bunga deposito tetap dilakukan secara hati-hati dan disesuaikan dengan kebutuhan funding bank.
Senada, Direktur Utama PT KB Bank Indonesia Tbk. (BBKP), Kunardy Darma Lie mengatakan faktor utama dari bunga deposito tinggi adalah dinamika persaingan likuiditas di industri perbankan serta kebutuhan masing-masing bank dalam menjaga stabilitas DPK.
Bahkan, ia mengakui KB Bank masih tetap menyesuaikan bunga deposito yang kompetitif dan sejalan dengan kondisi pasar. Meskipun bank itu telah menurunkan suku bunga deposito tenor pendek.
"Di KB Bank sendiri, kami telah melakukan penyesuaian dengan menurunkan suku bunga deposito tenor pendek, namun tetap menjaga tingkat suku bunga yang kompetitif dan sejalan dengan kondisi pasar," kata Kunardy saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa penurunan total dana deposito yang sempat terjadi di KB Bank lebih disebabkan oleh kebutuhan operasional nasabah menjelang akhir tahun.
Untuk tahun ini, Kunardy melihat ada ruang bagi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), serta peluang bahwa suku bunga deposito juga akan bergerak turun secara bertahap.
"Dengan demikian, kenaikan suku bunga deposito yang terjadi saat ini bersifat jangka pendek dan kompetitif, bukan mencerminkan perubahan fundamental," tutur Kunardy.
Terpisah, Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan juga mengamini hal yang diutarakan para bankir. Karena faktor itulah, perbankan perlu menawarkan bunga deposito yang lebih atraktif bagi para nasabah.
"Yang membuat bunga deposito bank lebih tinggi dari bunga penjaminan LPS adalah bagaimana persaingan untuk mendapatkan dana pihak ketiga melalui deposito masih ketat sehingga bank perlu menawarkan rate yang lebih menarik," pungkas Trioksa saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































