Jakarta, CNBC Indonesia - Bumi dan satelitnya, yaitu Bulan, tidak bergerak dalam jarak yang konstan di tata surya. Keduanya pelan-pelan saling menjauh dari waktu ke waktu.
Fakta ini terungkap setelah digelarnya Misi Apollo pada 1960. Misi itu menempatkan reflektor di permukaan Bulan untuk mengetahui jaraknya dengan Bumi.
Berdasarkan Lunar Laser Ranging Experiment, para peneliti bisa mengetahui perubahan jarak antara Bumi dan Bulan. Caranya dengan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk bisa dipantulkan kembali ke reflektor.
Dari pengukuran yang berulang para peneliti mencatat Bulan terus menjauhi Bumi. Kecepatannya cukup lambat sekitar 3,8 cm per tahun.
Menurut IFL Science, terus menjauhnya Bulan memiliki dampak langsung terhadap penduduk Bumi. Misalnya, Gerhana Matahari Total tidak lagi bisa dilihat dari Bumi karena ukuran Bulan yang makin mengecil akibat terus menjauh.
"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan melihat keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," kata ilmuwan NASA, Richard Vondrak pada 2017, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Berbeda dengan sekarang, ukuran Bulan hampir sama dengan Matahari. Hal ini membuat fenomena Gerhana Matahari Total masih bisa terlihat dari Bumi.
Sebagai informasi, jarak dengan Matahari mencapai 400 kali lebih jauh dari Bumi dan Bulan. Diameternya juga mencapai 400 kali lebih besar.
Bahkan ukuran Bulan jauh lebih besar pada 4 miliar tahun lalu. Saat belum menempati orbitnya sekarang, ukuran Bulan nampak tiga kali lebih besar dari sekarang.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































