Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
25 January 2026 12:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Utang nasional Amerika Serikat (AS) kini telah menembus sekitar US$38 triliun, atau setara Rp641.820 triliun (asumsi kurs Rp16.890/US$1), dan sudah berada di level setara 100% Produk Domestik Bruto (PDB).
Kondisi ini membuat beban utang berpotensi tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian AS sendiri yang memunculkan risiko terjadinya krisis apabila tidak ada perbaikan.
Peringatan tersebut disampaikan Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB). Sebuah lembaga pengawas fiskal nonpartisan, melalui laporan terbarunya yang membahas seperti apa bentuk krisis fiskal bila utang terus membengkak.
CRFB menilai, jika utang nasional AS terus naik lebih cepat daripada pertumbuhan ekonominya, AS pada akhirnya bisa menghadapi berbagai bentuk krisis yang berdampak besar bagi standar hidup, bukan hanya bagi warga Amerika tetapi juga bagi ekonomi global.
Dengan posisi utang nasional yang secara efektif sudah setara ukuran total ekonomi AS, CRFB menyebut kondisi fiskal Negeri Paman Sam berada di jalur jangka panjang yang tidak berkelanjutan.
Laporan itu juga menegaskan, langkah pengurangan defisit tetap dibutuhkan. Namun, CRFB menekankan pentingnya paket kebijakan pengurangan defisit yang pro-pertumbuhan dan dirancang dengan matang, karena koreksi yang dilakukan secara mendadak justru bisa memicu guncangan yang lebih besar.
Enam Skenario Krisis yang Dipetakan CRFB
CRFB memetakan enam jenis krisis yang dapat muncul apabila jalur fiskal tidak berubah, yakni krisis keuangan, krisis inflasi, krisis pengetatan fiskal atau austeritas, krisis mata uang, krisis gagal bayar, serta krisis gradual atau krisis yang datang perlahan.
CRFB menilai, salah satu skenario atau kombinasi dari skenario tersebut bisa memicu disrupsi besar serta menekan standar hidup secara signifikan.
Skenario Austeritas, Kontraksi Terburuk Hampir Satu Abad
Salah satu skenario yang dianggap paling mengkhawatirkan adalah krisis austeritas, yakni kondisi ketika kepercayaan pasar melemah sehingga pembuat kebijakan terpaksa melakukan pemangkasan belanja besar-besaran atau menaikkan pajak secara cepat untuk meredam kepanikan.
CRFB memperkirakan kontraksi fiskal setara 5% dari PDB dapat membalikkan pertumbuhan yang moderat menjadi penyusutan ekonomi sekitar 3%. Jika terjadi, skenario ini berpotensi memicu resesi lebih dalam dibanding periode pascaperang yang disertai lonjakan pengangguran dan meningkatnya penutupan bisnis.
Sebagai contoh, CRFB menyinggung Yunani pada 2010-an, ketika pelemahan ekonomi mendorong lonjakan biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi, yang kemudian berujung pada pengetatan kebijakan dan tekanan sosial-ekonomi berkepanjangan. Portugal dan Spanyol juga mengalami krisis serupa pada periode tersebut, meski skalanya lebih ringan.
Risiko Keuangan hingga Gagal Bayar
Dalam skenario krisis keuangan, CRFB menilai kepercayaan investor terhadap pasar obligasi pemerintah AS dapat melemah dan mendorong lonjakan suku bunga yang tak terkendali. Kondisi ini bisa menekan harga obligasi yang sudah beredar dan memicu kegagalan berantai pada bank maupun lembaga keuangan.
CRFB menyebut runtuhnya Silicon Valley Bank pada 2023 sebagai gambaran skala kecil tentang bagaimana kenaikan suku bunga yang cepat dapat mengguncang sektor perbankan.
Sementara pada skenario krisis gagal bayar, CRFB menilai peluangnya sangat kecil. Namun jika terjadi kegagalan pembayaran bunga atau pokok atas sekitar US$31 triliun utang yang dipegang publik, dampaknya dinilai akan sangat parah, mulai dari pembekuan pasar kredit global hingga tekanan besar pada pasar saham dan ekonomi dunia.
CRFB juga mencatat bahwa sejumlah negara pernah mengalami gagal bayar dalam sejarah, termasuk Meksiko, Brasil, Peru, Argentina, serta Rusia pada akhir 1990-an. Argentina, menurut laporan tersebut, sempat mengambil jalur kredit sebesar US$20 miliar dari AS pada 2025, namun kemudian melunasinya sepenuhnya tak lama setelah itu, merujuk pada pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Krisis Inflasi hingga Krisis Dolar
Pada skenario krisis inflasi, CRFB memperkirakan bank sentral AS bisa berada di bawah tekanan untuk memonetisasi utang, yaitu mencetak uang untuk membeli obligasi pemerintah AS, guna menghindari gagal bayar atau kegagalan sistem perbankan. Langkah seperti itu berisiko memicu lonjakan inflasi yang menggerus tabungan dan daya beli.
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa Ray Dalio kembali mengingatkan risiko memonetisasi utang. Ia menilai besarnya krisis berpotensi memicu runtuhnya tatanan moneter, dengan pilihan yang sama-sama berat: mencetak uang atau membiarkan krisis utang terjadi.
Adapun pada skenario krisis mata uang, CRFB menilai kebijakan fiskal yang sembrono dapat memicu depresiasi mendadak dolar AS. Jika dolar melemah, posisi dolar sebagai mata uang cadangan dominan dunia bisa tergerus, impor menjadi jauh lebih mahal, dan pengaruh geopolitik AS dapat menurun.
Krisis yang Datang Perlahan, tapi Menggerus Dalam
Skenario lainnya adalah krisis gradual, yakni krisis yang tidak datang lewat satu peristiwa besar, melainkan lewat perlambatan pertumbuhan yang terjadi selama puluhan tahun karena utang tinggi menggeser investasi dan menekan produktivitas.
CRFB mengutip pemodelan Congressional Budget Office (CBO) yang menunjukkan lintasan ini dapat membuat pendapatan riil per kapita pada 2050 menjadi 8% lebih rendah dibandingkan jika tidak terjadi.
Jepang disebut sebagai contoh klasik krisis gradual, karena mempertahankan level utang sangat tinggi selama beberapa dekade, menghindari krisis akut, namun PDB riilnya hanya tumbuh sekitar 10% atau setara 0,5% per tahun dalam dua dekade terakhir.
Tanda Bahaya: Biaya Bunga Utang Tembus US$1 Triliun
CRFB juga menyoroti membengkaknya biaya bunga utang yang melonjak menjadi sekitar US$1 triliun tahun lalu. Artinya pemerintah AS harus membayar sekitar Rp16.890 triliun hanya untuk bunga nya saja. Beban tersebut menggerus sekitar 18% dari penerimaan federal, besaran yang sebanding dengan total anggaran Medicare.
Menurut CRFB, dengan utang berada di 100% PDB, ruang fiskal AS menjadi lebih sempit dibandingkan periode mana pun dalam sejarah jika terjadi guncangan besar seperti perang, pandemi, atau resesi.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa krisis tidak selalu membutuhkan satu titik balik tunggal. Berbagai pemicu bisa memantik tekanan, mulai dari resesi, lelang obligasi pemerintah AS yang buruk ketika permintaan investor melemah, hingga pelanggaran batas debt limit.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

14 hours ago
7
















































