BMKG: Hujan di Wilayah Terdampak Erupsi Anak Krakatau 9-12 September

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan berpotensi turun di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau pada 9-12 September 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi dampak abu vulkanik yang mengganggu aktivitas, termasuk penerbangan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, dalam rapat perkembangan penanganan bencana alam bersama Presiden Prabowo Subianto, secara virtual, Senin (7/9/2026).

BMKG memperkirakan akan terdapat pertumbuhan awan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dalam periode tersebut.

"Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Teuku, dalam paparannya.

Menurut Teuku, hujan menjadi salah satu fenomena yang paling efektif untuk mengurangi dampak abu vulkanik. Oleh karena itu, potensi hujan tersebut akan diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Perubahan arah angin juga menjadi perkembangan positif dalam penanganan sebaran abu vulkanik. Saat ini, angin di berbagai lapisan atmosfer, mulai dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki maupun lapisan yang lebih tinggi hingga 50.000 kaki, bertiup ke arah barat, termasuk sebagian ke barat laut dan barat daya.

"Jadi tidak ada lagi yang sebelumnya untuk abu vulkanik di bawah ketinggian 15.000 feet itu masih bertiup ke arah tenggara sehingga beberapa sampai saat ini ada sembilan bandara yang masih ditutup, jadi sekarang anginnya ke sana," katanya.

Lebih lanjut, BMKG juga memantau pergerakan abu vulkanik pada berbagai lapisan ketinggian. Untuk abu vulkanik di lapisan tinggi hingga sekitar 50.000 kaki, sebagian material telah bergerak menjauh ke arah Samudra Hindia. Sementara itu, abu vulkanik pada lapisan yang lebih rendah, mulai dari permukaan hingga sekitar 15.000 kaki, masih berada di sekitar wilayah terdampak.

Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian karena keberadaan abu vulkanik di atmosfer dapat mengganggu keselamatan penerbangan. BMKG pun terus berkoordinasi dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) yang ditunjuk oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), yakni VAAC Darwin di Australia.

Untuk itu, koordinasi akan terus dilakukan untuk memantau perkembangan sebaran abu vulkanik. Hal ini juga menjadi bagian proses evaluasi sebelum aktivitas penerbangan kembali dibuka.

"Nanti untuk dapat pembukaan kembali bandara juga kami berkomunikasi dengan Darwin Australia agar Significant Meteorological Information dapat disesuaikan," katanya.

BMKG berharap perubahan arah angin, hujan yang diperkirakan turun pada 9-12 September, serta pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dapat membantu mempercepat pengurangan abu vulkanik di wilayah terdampak.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah akan terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi cuaca untuk mendukung pemulihan aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah terdampak.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |