Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada pagi hari ini dengan kecenderungan mengalami depresiasi usai Presiden AS, Donald Trump mengumumkan soal tarif resiprokal.
Dilansir dari Refinitiv, pada 3 April 2025 pukul 09:13 WIB, mata uang asia bergerak variatif namun cenderung mengalami pelemahan.
Yuan China menjadi yang paling parah dengan penurunan sebesar 0,5%, diikuti oleh ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,38%. Begitu pula dengan rupee India yang terkoreksi sebesar 0,35%.
Namun berbeda halnya dengan yen Jepang yang menguat sebesar 1,07%. Pasar mata uang rupiah saat ini tengah tutup untuk merayakan Libur Lebaran Idul Fitri. Pasar akan dibuka pada Selasa mendatang (8/3/2025). Merujuk Refinitiv, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan terakhir sebelum libur, Kamis (27/3/2025) ditutup pada posisi Rp16.590/US$, rupiah atau menguat 0,12%.
Sementara indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan sebesar 0,67% ke angka 103,11.
Sebagai informasi, Trump mengatakan pada Rabu bahwa ia akan memberlakukan tarif dasar 10%pada semua impor ke AS, serta tarif yang lebih tinggi untuk puluhan negara lainnya, termasuk beberapa mitra dagang terbesar AS. Langkah ini semakin memperdalam perang dagang yang telah mengguncang pasar global dan membingungkan sekutu AS.
Kebijakan tarif yang luas ini akan menciptakan hambatan baru bagi ekonomi konsumen terbesar di dunia, membalikkan puluhan tahun liberalisasi perdagangan yang telah membentuk tatanan global. Para mitra dagang diperkirakan akan merespons dengan tindakan balasan, yang berpotensi menyebabkan lonjakan harga secara drastis untuk berbagai barang, mulai dari sepeda hingga anggur.
Impor dari China akan dikenakan tarif 34%, ditambah dengan 20% tarif sebelumnya, sehingga total beban pajak baru mencapai 54%. Sekutu dekat AS juga tidak luput dari kebijakan ini, termasuk Uni Eropa, yang akan menghadapi tarif 20%, serta Jepang, yang dikenakan tarif sebesar 24%.
Dengan tarif balasan ini, tampak DXY mengalami depresiasi namun bersamaan dengan mata uang Asia lainnya yang tampak mengalami pelemahan.
Hal berbeda terjadi dengan yen Jepang yang melesat signifikan mengingat yang secara tradisional dianggap sebagai safe-haven.
Mengapa Yen Aman?
Goldman Sachs memperkirakan yen Jepang akan naik ke kisaran rendah 140-an terhadap dolar AS tahun ini.
Bank investasi asal AS tersebut menyatakan yen adalah lindung nilai utama terhadap meningkatnya kekhawatiran atas pelemahan ekonomi AS dan ketegangan perdagangan.
Goldman juga mencatat bahwa yen cenderung berkinerja baik ketika ekuitas AS dan imbal hasil riil turun secara bersamaan.
"Yen memiliki ruang untuk terapresiasi dalam skenario yang kurang menguntungkan ini, di mana kami dan pasar semakin meningkatkan kemungkinan resesi," kata analis Goldman Sachs.
Mereka juga menambahkan jika data pasar tenaga kerja AS mengejutkan di sisi yang lemah, yen adalah lindung nilai yang sangat baik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(rev/rev)