Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
22 June 2026 12:29
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian global membuat cadangan devisa masih perlu perhatian. Di tengah tekanan dolar Amerika Serikat (AS), gejolak pasar keuangan, hingga risiko geopolitik, cadangan devisa menjadi bantalan penting bagi sebuah negara.
Cadangan devisa bisa menjadi amunisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memenuhi kebutuhan valuta asing, hingga membayar kewajiban luar negeri. Semakin besar cadangan devisa, semakin besar pula ruang suatu negara untuk meredam tekanan eksternal.
Di antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), kondisi cadangan devisa bergerak beragam. Sebagian negara berhasil menambah bantalan devisanya, tetapi Indonesia dan Filipina justru mencatat penurunan.
Berdasarkan data Trading Economics, dari tujuh negara ASEAN, lima negara mencatat kenaikan cadangan devisa. Negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, dan Laos. Sementara itu, Indonesia dan Filipina masuk dalam negara yang mengalami penyusutan.
Indonesia dan Filipina Masuk Barisan yang Menyusut
Indonesia menjadi salah satu negara ASEAN yang mencatat penurunan cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar.
Angka tersebut turun US$1,3 miliar dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$146,2 miliar.
BI menjelaskan, perkembangan cadangan devisa pada Mei 2026 dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Namun, cadangan devisa juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Tekanan terhadap rupiah memang masih menjadi perhatian besar. Di tengah volatilitas pasar keuangan global, kebutuhan stabilisasi nilai tukar bisa membuat cadangan devisa berkurang karena bank sentral perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak terlalu tajam.
Meski turun, posisi cadangan devisa Indonesia masih dinilai kuat. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Selain Indonesia, Filipina juga mencatat penurunan cadangan devisa. Posisi cadangan devisa Filipina turun dari US$104,3 miliar menjadi US$104,0 miliar pada Mei 2026. Artinya, ada penurunan sekitar US$0,3 miliar dalam sebulan.
Malaysia Paling Kencang Tebalkan Devisa
Di sisi lain, sebagian besar negara ASEAN justru mampu menambah cadangan devisanya. Malaysia menjadi negara dengan kenaikan paling besar dalam daftar ini.
Cadangan devisa Malaysia naik dari US$113,8 miliar menjadi US$130,6 miliar pada Mei 2026. Dengan demikian, ada tambahan cadangan devisa sebesar US$16,8 miliar hanya dalam sebulan.
Kenaikan ini membuat posisi cadangan devisa Malaysia menjadi salah satu yang paling menarik di ASEAN. Di saat beberapa negara masih menghadapi tekanan nilai tukar dan arus modal, Malaysia justru mampu mempertebal bantalan devisanya cukup besar.
Vietnam juga mencatat kenaikan cadangan devisa. Posisinya naik dari US$81,4 miliar menjadi US$83,6 miliar. Dengan demikian, cadangan devisa Vietnam bertambah sekitar US$2,2 miliar. Namun, data Vietnam terakhir tersedia untuk periode Desember 2025, sehingga periode laporannya berbeda dengan mayoritas negara lain yang sudah melaporkan data Mei 2026.
Thailand turut mencatat kenaikan meski lebih tipis. Cadangan devisa Negeri Gajah Putih naik dari US$286,9 miliar menjadi US$287,5 miliar pada Mei 2026, atau bertambah sekitar US$0,5 miliar.
Laos juga mencatat kenaikan kecil. Cadangan devisanya naik dari US$4,2 miliar menjadi US$4,3 miliar pada April 2026.
Singapura Masih Punya Bantalan Jumbo
Singapura juga mencatat kenaikan cadangan devisa. Namun, perlu dicatat bahwa data Singapura dalam daftar ini menggunakan satuan dolar Singapura atau SGD, bukan dolar AS.
Cadangan devisa Singapura naik dari SGD544,1 miliar menjadi SGD548,6 miliar pada Mei 2026. Artinya, cadangan devisa Singapura bertambah sekitar SGD4,5 miliar dalam sebulan.
Kenaikan ini menunjukkan Singapura masih memiliki bantalan devisa yang sangat besar untuk menghadapi tekanan eksternal. Sebagai salah satu pusat keuangan terbesar di Asia, posisi cadangan devisa Singapura menjadi penting karena negara ini sangat terhubung dengan arus perdagangan dan keuangan global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































