Ada Data Genting dari AS, Mampukah IHSG Tembus 9000 Lagi?

9 hours ago 4

SENTIMEN PEKAN DEPAN

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

11 January 2026 18:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menyentuh rekor 9000 secara intraday pada Jumat kemarin (9/1/2026). Pelaku pasar kini beralih fokus ke penantian inflasi AS yang akan rilis pekan depan sampai memantau sejumlah harga komoditas yang terus bergerak naik.

Dari kawasan regional, pelaku pasar juga masih memantau bagaimana dinamika di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta sentimen pasar yang dipengaruhi rilis inflasi China.

Sementara dari dalam negeri, ada sejumlah data yang potensi masih direspon pasar pekan depan seperti defisit APBN yang melebar sampai penantian data penjualan ritel yang akan rilis Senin besok (12/1/2026).

Berikut kami ulas satu per satu beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pasar pekan depan:

Menanti data Inflasi Amerika Serikat (AS)

Pertama, data yang paling ditunggu investor adalah inflasi negeri Paman Sam untuk periode Desember 2025 yang akan diumumkan pada Selasa malam (13/1/2025) sekitar pukul 20.30 WIB.

Saat ini, pasar berangkat dari perkiraan sementara bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya di atas 3%. Angka tersebut bukan merupakan rilis resmi CPI Desember, melainkan estimasi berbasis data terakhir yang tersedia, mengingat Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) tidak mengumpulkan data pada Oktober 2025 akibat government shutdown dan tidak merilis data bulanan November.

Dalam periode tersebut, BLS hanya menyampaikan bahwa CPI naik sekitar 0,2% dalam dua bulan dari September hingga November 2025, sehingga analis dan pelaku pasar melakukan penghitungan konsolidasi untuk membaca arah inflasi akhir tahun.

Dari komposisinya, tekanan harga diperkirakan masih banyak berasal dari sektor energi, makanan, dan biaya tempat tinggal yang belum ikut melandai, sementara inflasi barang-barang lain seperti pakaian dan kendaraan baru relatif lebih terkendali. Di saat yang sama, survei Federal Reserve menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi jangka pendek masyarakat justru cenderung meningkat, diiringi dengan memburuknya persepsi terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Kombinasi antara inflasi headline yang melandai dan sentimen konsumen yang masih waspada inilah yang membuat rilis CPI Desember menjadi krusial.

Bagi The Fed, data inflasi resmi yang akan dirilis minggu depan akan menjadi validasi penting atas tren disinflasi yang selama ini dibangun oleh pasar. Jika inflasi Desember benar-benar mengonfirmasi pelemahan tekanan harga, ruang bagi bank sentral untuk bersikap lebih akomodatif akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika inflasi kembali menguat atau bertahan lebih tinggi dari perkiraan, The Fed berpotensi tetap berhati-hati dalam mengubah arah kebijakan suku bunga. Karena itu, rilis inflasi kali ini bukan sekadar soal angka, tetapi juga soal arah kebijakan moneter AS ke depan dan dampaknya ke pasar global.

Harga komoditas metal sejak akhir tahun kian menjadi sorotan pasar, terutama emas, perak, dan nikel.

Mulai dari harga emas dan perak dulu yang bergerak naik secara beriringan. Keduanya kini semakin dekat level All Time High (ATH) lagi.

Harga emas dunia pada Jumat (9/1/2026) ditutup di US$4.510,15 per ons menurut Refinitiv. Posisi ini lebih tinggi dibanding awal pekan di US$4.448,19 dan jauh di atas level awal tahun di US$4.329,89 pada 2 Januari. Dalam lima hari perdagangan pertama 2026, emas sudah naik lebih dari 4%.

Sementara itu, harga perak mengikuti dengan penguatan 3,98% dalam sehari ke posisi US$ 79,95 per troy ons. Kenaikan ini mengakumulasi reli sepanjang pekan sebanyak 10,10%.

Beralih ke harga komoditas lain, sepanjang pekan ini harga nikel menjadi salah satu sorotan utama pelaku pasar. Pasarnya, sejak akhir tahun lalu harganya terus nanjak, bahkan sudah menembus level US$18.875 per ton yang merupakan posisi tertinggi dalam tiga tahun.

Berkat itu, saham-saham related nikel seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Pam Mineral Tbk (NICL), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) kompak menguat hingga puluhan persen. Minggu depan pasar masih akan menantikan apakah reli harga nikel masih lanjut dan masih diikuti saham-saham nikel RI.

Update huru-hara AS : Invasi Venezuela - Keluar PBB - Incar Greenland

Baru awal tahun, negeri Paman Sam sudah membuat geger seluruh dunia gara-gara melancarkan invasi besar-besaran ke Venezuela, sang raja minyak dengan cadangan terbesar sedunia hingga 303 miliar barel.

Kabar terbaru setelah invasi Venezuela, pemerintahan AS menyatakan akan "mengelola" sektor minyak Venezuela untuk sementara waktu, dengan fokus pada penjualan dan distribusi minyak ke pasar global melalui pelabuhan dan infrastruktur AS.

US Energy Secretary bahkan menegaskan bahwa penjualan minyak ini akan dikendalikan untuk "kepentingan Venezuela dan Amerika". Pemerintah AS juga telah mencapai kesepakatan awal untuk mengekspor minyak Venezuela senilai miliaran dolar ke AS, termasuk rencana pengiriman 30-50 juta barel yang diperkirakan bernilai sekitar beberapa miliar dolar di pasar.

Di samping itu, Washington mendorong perusahaan-perusahaan minyak AS untuk kembali beroperasi di Venezuela, dengan proposal investasi besar-besaran hingga puluhan miliar dolar untuk memulihkan industri minyak yang hancur, meskipun banyak eksekutif industri menilai negara itu "belum layak investasi" tanpa reformasi signifikan dan proteksi hukum yang jelas. K

ondisi tersebut berlanjut di tengah blokade minyak yang diberlakukan AS, penyitaan beberapa kapal tanker yang terkait dengan Venezuela, dan penurunan tajam nilai mata uang bolívar karena keterbatasan ekspor minyak yang menjadi sumber pendapatan utama negara.

Pemerintah interim Venezuela menolak klaim bahwa negara akan "dikendalikan" dari luar, menegaskan komitmen untuk menjaga kedaulatan dan menegosiasikan hubungan yang lebih seimbang dengan AS tanpa kehilangan kendali atas sumber daya alamnya

Tak berhenti sampai situ, huru-hara masih berlanjut dengan AS mengatakan keluar dari PBB sampai ungkapan Trump yang akan mengincar Greenland setelah Venezuela.

Sebenarnya, AS tidak secara formal "keluar dari PBB" tetapi Presiden Trump telah menandatangani keputusan menarik negaranya dari puluhan organisasi internasional yang berafiliasi dengan PBB, mencerminkan skeptisisme Washington terhadap multilateralisme dan menimbulkan kekhawatiran tentang melemahnya peran lembaga global dalam menengahi konflik.

Pemerintahan AS juga menghidupkan kembali ambisinya terhadap Greenland, sebuah wilayah semi-otonom Denmark yang memiliki posisi strategis di Arktik. Trump secara terbuka menyatakan niat untuk "mendapatkan" Greenland, termasuk mengisyaratkan penggunaan militer, demi menahan pengaruh China dan Rusia, meskipun pemerintah Denmark, pemimpin politik Greenland, dan sekutu NATO lainnya mengecam keras kemungkinan apa pun yang mengancam kedaulatan wilayah itu.

Greenland sendiri mempercepat pertemuan parlemen untuk menanggapi tekanan tersebut dan menegaskan keinginan kuat rakyatnya untuk tetap merdeka, bukan diserap ke AS.

Menanti Data Ekonomi China

Beralih ke kawasan regional, dari sang Naga Asia atau Tiongkok, pelaku pasar menantikan rilis data neraca dagang. Sebelum itu pada pekan lalu, China juga merilis laju inflasi yang baik usai berbulan-bulan deflasi.

Untuk informasi saja, China mengalami inflasi 0,8% secara tahunan (yoy), ini merupakan yang tertinggi selama hampir tiga tahun, meskipun belum sepenuhnya meredakan tekanan deflasi.

Dan saat ini, pelaku pasar berharap surplus neraca dagang akan bertambah lebih banyak untuk periode Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebagai catatan, pada November lalu, surplus perdagangan China menembus rekor lebih dari US$ 1 triliun, meskipun pengiriman barang ke AS terus melemah. Selama periode tersebut, ekspor tumbuh 5,4%, sementara impor justru menyusut 0,6%.

Khusus pada bulan November, surplus perdagangan China mencapai US$ 112 miliar, menjadi yang terbesar ketiga sepanjang sejarah dan jauh di atas ekspektasi pasar. Capaian ini terjadi karena pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dibandingkan impor. Ekspor November naik 5,9% secara tahunan, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,8% dan berbalik arah dari kontraksi 1,1% pada Oktober.

Kinerja ekspor tersebut ditopang oleh lonjakan pengiriman ke negara-negara di luar AS, seiring upaya pemerintah China mendiversifikasi tujuan ekspor sejak kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS November lalu, serta memperdalam hubungan dagang dengan ASEAN dan Uni Eropa. Sebaliknya, pengiriman ke AS anjlok 28,6%, menandai delapan bulan berturut-turut penurunan dua digit.

Sementara itu, impor China pada November meningkat 1,9%, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 2,8%, namun lebih baik dibandingkan pertumbuhan 1,0% pada Oktober. Surplus perdagangan China dengan AS turun menjadi US$ 23,74 miliar pada November, dari US$ 24,76 miliar pada bulan sebelumnya.

Menanti Data Retail Sales Indonesia

Dari domestik, pelaku pasar juga masih menantikan data seperti penjualan ritel untuk periode November 2025.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat untuk penjualan ritel yang dicerminkan dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di 219,7 pada Oktober. Tumbuh 4,3% yoy, lebih tinggi dibandingkan September yang naik 3,7% yoy, capaian ini merupakan yang terkuat sejak Juli 2025.

Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh penjualan makanan, minuman, dan tembakau naik 6,4% (vs 5,4% pada September), sementara barang budaya dan rekreasi melonjak 6,7% (vs 2,6%), keduanya mencatatkan laju pertumbuhan tercepat dalam tujuh bulan terakhir.

Sementara itu, penjualan suku cadang dan aksesori otomotif sedikit melambat menjadi 12,0% dari 12,4%. Sebaliknya, penjualan mengalami penurunan pada bahan bakar (-1,0% vs 10,6%), peralatan rumah tangga (-2,3% vs -2,6%), perangkat informasi dan komunikasi (-28,3% vs -27,6%), serta pakaian (-5,8% vs -7,1%).

Adapun, secara bulanan (MoM), aktivitas ritel naik 0,6%, berbalik arah dari penurunan 2,4% pada September.

Sejumlah kenaikan penjualan tersebut utamanya dipengaruhi permintaan masyarakat jelang persiapan Hari Natal didukung kelancaran distribusi.

Terkini, pasar mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada Desember 2025 sebesar 4,3% yoy.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |