Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat lima tahun setelah Taliban kembali menguasai Kabul, Afghanistan memang menjadi lebih tenang. Namun, stabilitas tersebut harus dibayar mahal dengan kemiskinan, keterasingan dari dunia internasional, serta pembatasan kebebasan yang semakin ketat.
Pada 15 Agustus 2021, Taliban kembali merebut Kabul setelah 20 tahun berperang melawan pemerintah Afghanistan dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat.
Perang tersebut dimulai pada 2001 ketika AS menggulingkan pemerintahan Taliban karena rezim tersebut memberikan perlindungan kepada kelompok yang merencanakan serangan 11 September.
Lima tahun kemudian, Taliban telah memperkuat kendalinya atas Afghanistan. Bendera Taliban terlihat di berbagai kota, ladang, pos pemeriksaan hingga kantor pemerintahan dan universitas.
Afghanistan Lebih Aman
Salah satu perubahan terbesar adalah tingkat keamanan. Setelah puluhan tahun dilanda perang dan serangan bom, sejumlah kota kini jauh lebih tenang.
Warga Afghanistan juga merasakan manfaat dari kondisi tersebut. Petani lebih mudah membawa hasil panen ke pasar, perjalanan antarkota menjadi lebih aman, dan anak-anak dapat pergi ke sekolah meski akses pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi.
Tahun lalu, jumlah warga sipil yang tewas dalam serangan teror turun menjadi kurang dari 100 orang. Taliban juga berhasil menekan aktivitas ISIS-K dan Al-Qaeda di Afghanistan.
Jumlah kematian akibat teror di Afghanistan Foto: Economist
Namun, stabilitas tersebut datang bersama represi. Aparat keamanan bertindak keras terhadap aksi penentangan. Dalam sebuah demonstrasi perempuan di Herat pada Juni lalu, sejumlah peserta dipukuli dan seorang remaja perempuan dilaporkan tewas ditembak.
Penerimaan Negara Naik, Bantuan Anjlok
Secara fiskal, pemerintah Taliban sebenarnya berhasil meningkatkan penerimaan negara.
Bank Dunia memperkirakan pemerintah Afghanistan kini mengumpulkan sekitar US$4 miliar atau sekitar Rp 72 triliun (US$1= Rp 18.000) dari pajak dan penerimaan lainnya setiap tahun, hampir 60% lebih tinggi dibandingkan 2020.
Namun, kenaikan tersebut tidak mampu mengimbangi anjloknya bantuan internasional.
Peta kekurangan pangan di Afghanistan Foto: Economist
Bantuan kemanusiaan dan pembangunan yang mencapai sekitar US$4 miliar pada 2020 turun menjadi hanya US$1,2 miliar pada 2025, dan diperkirakan kembali lebih rendah pada 2026.
Kondisi ini membuat rumah sakit dan klinik kekurangan pendanaan. Pemerintah bahkan mengalokasikan sekitar separuh penerimaannya untuk keamanan, sementara belanja kesehatan dan kesejahteraan dipangkas.
Ekonomi Masih Terpuruk
Di tengah stabilitas keamanan, kondisi ekonomi Afghanistan masih jauh dari sejahtera.
Produk domestik bruto (PDB) per kapita berdasarkan paritas daya beli kini hanya sekitar US$2.300, atau kurang lebih kembali ke level pertengahan 2000-an.
Kemiskinan juga masih menjadi persoalan utama. Kekeringan berkepanjangan membuat pasokan pangan terbatas, sementara banyak masyarakat harus berutang untuk bertahan hidup.
"Kami punya perdamaian, tetapi kantong kami kosong," ujar seorang tetua desa menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat, dikutip dari The Economist.
Afghanistan juga menghadapi tekanan tambahan akibat sekitar 6 juta warga Afghanistan yang dipulangkan secara paksa dari Pakistan dan Iran. Banyak dari mereka kembali tanpa uang dan pekerjaan, semakin membebani sumber daya negara.
Pendidikan Perempuan Jadi Sorotan
Salah satu kebijakan Taliban yang paling kontroversial adalah larangan pendidikan menengah bagi anak perempuan.
Sebelum Taliban kembali berkuasa, angka partisipasi sekolah meningkat selama dua dekade. Namun, sejak 2021, perempuan berusia di atas 12 tahun dilarang mengikuti pendidikan menengah secara resmi.
Sejumlah sekolah agama atau madrasah kemudian menjadi jalan alternatif bagi sebagian perempuan untuk tetap belajar. Di salah satu sekolah di Kabul, sekitar 600 perempuan dilaporkan mendapatkan pendidikan, termasuk matematika, sains, geografi dan bahasa Inggris.
Seorang petugas polisi berjaga di sepanjang jalan menuju perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan di Provinsi Balochistan, Chaman, Pakistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Abdul Khaliq Achakzai) Foto: Seorang petugas polisi berjaga di sepanjang jalan menuju perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan di Provinsi Balochistan, Chaman, Pakistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Abdul Khaliq Achakzai)
Namun, para siswi tetap menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan mereka.
"Kami tidak ingin hanya tinggal di rumah dan membesarkan anak atau menjadi guru di sekolah Islam. Itu bukan impian kami," kata seorang siswi.
Investasi dan Infrastruktur Tetap Berjalan
Di tengah keterasingan internasional, pemerintah Taliban tetap mencoba membangun ekonomi.
Pembangunan jalan terus dilakukan. Pemerintah juga berinvestasi pada kanal, jaringan pipa gas, pembangkit tenaga surya serta memberikan izin pertambangan untuk komoditas seperti emas, tembaga dan litium.
Di Kabul, pelebaran jalan dan pembangunan rumah juga meningkat. Sebagian proyek perumahan dibiayai diaspora Afghanistan untuk keluarga mereka yang masih tinggal di dalam negeri.
Namun, Taliban masih kesulitan menarik investasi asing karena Afghanistan tetap terisolasi dari sistem keuangan global dan sebagian pejabatnya masih dikenai sanksi internasional.
Lima tahun setelah kembali berkuasa, Taliban berhasil mencapai satu hal penting yakni Afghanistan relatif lebih aman setelah puluhan tahun perang.
Namun, keamanan belum otomatis membawa kesejahteraan.
Ekonomi masih lemah, bantuan asing menyusut, kemiskinan tinggi, layanan kesehatan tertekan, sementara hak-hak perempuan semakin dibatasi.
Dengan populasi sekitar 45 juta jiwa, hampir dua pertiga di antaranya bahkan belum lahir ketika perang dimulai pada 2001, Afghanistan kini menghadapi tantangan besar: bagaimana mengubah stabilitas keamanan menjadi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.
PDB per kapita Afghanistan Foto: Economist
Bagi banyak warga Afghanistan, lima tahun sudah cukup lama untuk menunggu perubahan.
"Kami tidak ingin menunggu lagi," ujar seorang siswi Afghanistan.
(mae/mae)

6 hours ago
6

















































