Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
13 September 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Masalah utang kembali menjadi perhatian serius di Amerika Serikat (AS). Bukan hanya utang pemerintah federal yang terus membengkak, sejumlah perusahaan terbesar Negeri Paman Sam juga memiliki kewajiban jumbo hingga ratusan miliar dolar AS.
Utang nasional bruto AS telah menembus kisaran US$40 triliun. Pembengkakan tersebut dipicu oleh defisit anggaran yang terus berlangsung, tingginya belanja pemerintah, serta beban bunga yang semakin berat.
Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan defisit anggaran federal AS mencapai sekitar US$1,9 triliun atau 5,8% produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2026. Sementara itu, utang yang dipegang publik diproyeksikan setara 101% PDB dan terus meningkat dalam satu dekade mendatang.
Masalahnya tidak berhenti pada pokok utang. Pembayaran bunga bersih pemerintah AS diperkirakan melampaui US$1 triliun pada 2026. Artinya, porsi anggaran yang dapat dialokasikan untuk program produktif berpotensi semakin tergerus oleh kewajiban pembayaran bunga.
Dana Moneter Internasional atau IMF turut mengingatkan perlunya penyesuaian fiskal jangka menengah yang kredibel agar utang publik AS dapat kembali menuju jalur yang lebih berkelanjutan.
Di tengah situasi tersebut, korporasi AS juga harus menghadapi lingkungan pembiayaan yang semakin menantang. Biaya pinjaman yang tinggi dapat meningkatkan beban refinancing, terutama bagi perusahaan yang sebelumnya menerbitkan utang ketika suku bunga masih rendah.
Lantas, siapa saja perusahaan penghuni indeks S&P 500 dengan total utang paling besar?
Bank Kuasai Daftar
Enam peringkat teratas seluruhnya ditempati institusi perbankan. JPMorgan Chase menjadi pemuncak dengan total utang sebesar US$942,38 miliar.
Dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, utang JPMorgan tersebut setara sekitar Rp16.491,65 triliun atau Rp16,49 kuadriliun. Angka ini lebih dari sepuluh kali lipat nilai produk domestik bruto Indonesia dalam satu tahun.
Posisi berikutnya ditempati Citigroup dengan utang US$715,80 miliar dan Bank of America sebesar US$710,62 miliar.
Secara kumulatif, sepuluh perusahaan tersebut mempunyai total utang sekitar US$4,40 triliun. Jika dikonversikan menggunakan kurs yang sama, nilainya mencapai sekitar Rp76.912,85 triliun atau Rp76,91 kuadriliun.
JPMorgan sendiri menyumbang lebih dari seperlima total utang dalam daftar tersebut. Setelah enam perusahaan perbankan, Oracle menjadi perusahaan nonbank dengan utang paling besar, yakni US$137,24 miliar.
Oracle diikuti Berkshire Hathaway dengan US$129,08 miliar. Dua raksasa teknologi lainnya, Microsoft dan Apple, masing-masing memiliki utang US$106,89 miliar dan US$99,89 miliar.
Utang Besar Belum Tentu Bermasalah
Meski nilainya fantastis, total utang tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa suatu perusahaan sedang berada dalam kondisi keuangan buruk.
Dominasi perbankan dalam daftar terutama berkaitan dengan model bisnis industri keuangan. Bank menggunakan utang dan berbagai instrumen pendanaan pasar untuk membiayai aset, penyaluran kredit, perdagangan surat berharga, serta aktivitas operasional lainnya.
Oleh karena itu, utang perusahaan perbankan tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan utang perusahaan teknologi atau manufaktur.
Investor perlu memperhatikan kualitas aset, kecukupan modal, likuiditas, profil jatuh tempo, arus kas, serta kemampuan perusahaan membayar bunga. Besarnya kas dan aset likuid juga menjadi faktor penting yang tidak tercermin apabila analisis hanya menggunakan total utang.
Hal serupa berlaku bagi Microsoft dan Apple. Meski memiliki utang mendekati atau bahkan melampaui US$100 miliar, kedua perusahaan tersebut juga ditopang arus kas operasional dan kepemilikan aset likuid yang besar.
Namun, kenaikan utang pemerintah dan besarnya kebutuhan refinancing korporasi tetap menjadi faktor risiko bagi pasar. Persaingan antara pemerintah dan perusahaan dalam mencari pendanaan dapat mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya modal, menekan valuasi saham, dan membuat ekspansi berbasis utang semakin mahal.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

6 hours ago
7

















































