Trump Sibuk Perang, Fresh Graduate Amerika Kesusahan Nyari Kerja

8 hours ago 6

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

29 March 2026 20:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek kerja bagi lulusan baru di Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tekanan serius.

Buruknya prospek kerja bagi lulusan baru AS ini justru terjadi di tengah pemerintahan Donald Trump 2.0 dengan semboyannya "Make America Great Again" (MAGA)" dengan fokus pada nasionalisme serta kebijakan ekonomi.

Trump justru lebih disorot dengan kebijakannya yang menuai banyak protes mulai dari perang dagang hingga perang Iran.

Melansir The New York Times, kondisi pasar tenaga kerja saat ini bahkan disebut sebagai yang terburuk sejak masa pandemi Covid-19, ditandai dengan meningkatnya pengangguran, menurunnya peluang kerja, serta semakin ketatnya persaingan di posisi entry-level.

Data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan tingkat pengangguran lulusan usia 22-27 tahun mencapai 5,6% pada akhir tahun lalu, lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional sebesar 4,2%. Sementara itu, lebih dari 40% lulusan bekerja di pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar sarjana.

Fenomena ini memicu kekhawatiran luas di tengah perubahan struktur ekonomi dan percepatan teknologi seperti kecerdasan buatan.

Fenomena Low Hire, Low Fire

Salah satu penyebab utama melemahnya peluang kerja bagi lulusan baru adalah perlambatan rekrutmen yang terjadi secara luas.

Alih-alih melakukan PHK besar-besaran, perusahaan justru menahan perekrutan tenaga kerja baru. Kondisi ini dikenal sebagai low hire, low fire, di mana aktivitas hiring menurun, tetapi tingkat PHK juga tetap rendah.

Adam Ozimek, Chief Economist di Economic Innovation Group, menyebut kondisi ini sebagai perlambatan dalam perputaran tenaga kerja.

"Ini adalah perlambatan umum dalam perekrutan dan mobilitas tenaga kerja. Mereka yang mencari pekerjaan pertama kemungkinan paling terdampak," ujarnya.

Dampaknya mulai terasa di berbagai kampus. Alli Goossens dari North Dakota State University mengungkapkan bahwa jumlah perusahaan yang mengikuti job fair menurun karena banyak perusahaan kini lebih konservatif dalam merekrut.

Struktur Tenaga Kerja yang Berubah Memperketat Persaingan

Selain perlambatan ekonomi, meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi juga memperketat persaingan di pasar kerja. Industri yang selama ini menjadi tujuan utama lulusan baru justru sedang mengalami perlambatan. Industri tersebut termasuk teknologi, media, akuntansi, dan konsultasi.

Di sisi lain, perubahan demografi turut memperparah kondisi. Semakin banyak pekerja senior yang bertahan lebih lama di dunia kerja, sehingga memperlambat pergerakan karier dan mengurangi kebutuhan perekrutan tenaga kerja baru.

Luke Pardue dari Aspen Institute menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang kompleks. Ia menilai, hingga kini belum ada jawaban pasti mengenai apa yang sebenarnya menjadi penyebab melemahnya pasar kerja bagi lulusan perguruan tinggi.

Akibatnya, terjadi "penumpukan" tenaga kerja di berbagai level, yang membuat lulusan baru semakin sulit memasuki posisi awal.

AI Jadi Sorotan, Tapi Bukan Penyebab Utama

Di tengah situasi ini, kecerdasan buatan (AI) turut menjadi perhatian. CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan memperingatkan bahwa AI berpotensi menghilangkan hingga setengah pekerjaan entry-level dalam lima tahun ke depan.

Laporan Stanford Digital Economy Lab juga menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam pekerjaan bagi perintis di sektor yang rentan terhadap AI, seperti teknologi dan pengembangan perangkat lunak.

Namun demikian, para ekonom menilai bahwa AI belum menjadi faktor utama dalam melemahnya pasar kerja saat ini.

Grace Zwemmer, ekonom dari Oxford Economics, menilai bahwa kondisi ini masih merupakan siklus ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |