Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 January 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah era monumental dalam sejarah pasar modal global resmi mencapai titik kulminasinya pada November 2025. Warren Edward Buffett, figur yang selama lebih dari tujuh dekade menjadi kompas moral dan intelektual bagi investor di seluruh dunia, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari peran operasional aktif di Berkshire Hathaway.
Buffett resmi mundur sebagai CEO Berkshire Hathaway pada akhir 2025, tepatnya 31 Desember 2025. Ia menyerahkan jabatan itu kepada Greg Abel, yang mulai menjabat sebagai CEO 1 Januari 2026. Buffett sendiri tetap menjadi chairman dan akan tetap terlibat dalam beberapa kapasitas meskipun bukan CEO lagi.
Dalam rilis resmi tertanggal 10 November 2025, Buffett mengonfirmasi bahwa Greg Abel akan mengambil alih kendali penuh sebagai pimpinan perusahaan pada akhir tahun. Pengumuman ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan penanda transisi terbesar dalam sejarah korporasi Amerika Serikat.
Berikut adalah laporan khusus mendalam mengenai perjalanan hidup, evolusi strategi investasi, bedah portofolio, hingga pesan kebijaksanaan terakhir sang "Oracle of Omaha" sebelum menyerahkan tongkat estafet.
Foto: Ist
Warren Buffet
Gen dan Keberuntungan Statistik (1930-1950)
Lahir di Tengah Krisis Warren Buffett lahir pada tahun 1930 di Omaha, Nebraska. Kelahirannya bertepatan dengan masa Depresi Besar, periode kontraksi ekonomi terburuk dalam sejarah Amerika. Dalam refleksi pribadinya di tahun 2025, Buffett mengakui peran besar keberuntungan dalam hidupnya
Ia menyebut dirinya memenangkan "lotere ovarium" karena lahir sebagai laki-laki kulit putih di Amerika Serikat pada tahun 1930, sebuah kondisi yang memberikannya keuntungan struktural yang tidak dimiliki oleh banyak orang lain pada masa itu.
Insiden Medis 1938 Masa kecil Buffett tidak lepas dari krisis yang mengancam nyawa. Pada tahun 1938, ia mengalami sakit perut hebat yang didiagnosis sebagai pecah usus buntu oleh dokter keluarga, Dr. Harley Hotz. Ia dilarikan ke Rumah Sakit St. Catherine untuk operasi darurat.
Pengalaman dirawat selama tiga minggu di rumah sakit yang dikelola biarawati tersebut meninggalkan kesan mendalam. Dalam anekdot yang ia bagikan, Buffett kecil menerima hadiah alat sidik jari dari bibinya dan mulai mengambil sidik jari para biarawati, dengan imajinasi bahwa J. Edgar Hoover (Direktur FBI) suatu saat akan membutuhkan bantuannya untuk melacak biarawati yang menyimpang.
Fondasi Intelektual Ketertarikan Buffett pada bisnis berkembang seiring usianya. Namun, kerangka berpikirnya baru terbentuk kokoh setelah membaca The Intelligent Investor karya Benjamin Graham.
Graham mengajarkan konsep Margin of Safety prinsip membeli aset jauh di bawah nilai intrinsiknya. Buffett belajar bahwa kecerdasan tinggi (IQ) bukanlah penentu utama kesuksesan investasi; stabilitas emosi dan kemampuan berpikir independen jauh lebih krusial.
Ia sering menekankan bahwa "seseorang duduk di tempat teduh hari ini karena seseorang menanam pohon lama yang lalu," sebuah metafora tentang pentingnya kesabaran dan visi jangka panjang.
Transformasi Berkshire Hathaway (1960-1970)
Kesalahan Tekstil yang Menjadi Raksasa Pada tahun 1962, Buffett mulai mengakumulasi saham Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan manufaktur tekstil yang sedang merugi. Awalnya, ini adalah penerapan strategi klasik Graham yaitu membeli perusahaan puntung rokok yang asetnya dijual murah.
Namun, karena tersinggung oleh manajemen lama terkait harga tender offer, Buffett mengambil alih kendali perusahaan. Ia kemudian menyadari bahwa industri tekstil tidak memiliki masa depan cerah.
Pivot ke Asuransi dan Mekanisme Float Untuk menyelamatkan modalnya, Buffett melakukan diversifikasi ke sektor asuransi dengan mengakuisisi National Indemnity dan kemudian GEICO.
Akuisisi GEICO menjadi salah satu pilar kesuksesannya. Buffett menyukai model bisnis GEICO yang menjual langsung ke konsumen tanpa perantara agen, menciptakan efisiensi biaya.
Namun, elemen paling krusial dari bisnis asuransi adalah Float. Dalam asuransi, premi dibayar di muka oleh nasabah, sementara klaim dibayarkan di kemudian hari. Dana mengendap ini digunakan Buffett sebagai modal investasi dengan biaya nol persen. Berkshire Hathaway bertransformasi dari pabrik tekstil menjadi wahana investasi dengan leverage yang aman dan legal.
Pergeseran Paradigma Bersama Charlie Munger (1970-1980)
Meninggalkan Strategi Puntung Rokok Pertemuan dengan Charlie Munger mengubah filosofi investasi Buffett secara fundamental. Munger, yang tumbuh besar hanya satu blok dari rumah Buffett di Omaha, meyakinkan Buffett untuk meninggalkan strategi membeli perusahaan buruk di harga murah, dan beralih membeli "perusahaan hebat di harga wajar." Munger digambarkan oleh Buffett sebagai sosok "kakak" yang protektif dan mitra debat yang rasional selama lebih dari 60 tahun.
- American Express Penerapan awal filosofi kualitas terlihat pada investasi di American Express. Saat perusahaan tersebut terpukul oleh salad oil scandal pada tahun 1960-an, harga sahamnya anjlok. Buffett melakukan riset lapangan dan menemukan bahwa kepercayaan konsumen terhadap kartu kredit Amex tidak terguncang. Ia membeli saham tersebut secara agresif saat pasar panik, memanfaatkan diskrepansi antara persepsi pasar dan realitas bisnis.
- The Washington Post Pada tahun 1973, Buffett berinvestasi di The Washington Post. Ia menganalisis bahwa nilai aset media dan properti perusahaan tersebut jauh melebihi kapitalisasi pasarnya. Selain itu, The Washington Post memiliki moat berupa dominasi pasar di wilayah ibu kota AS. Investasi ini menjadi salah satu contoh terbaik penerapan Margin of Safety pada perusahaan berkualitas tinggi.
Foto: Charlie Munger, Berkshire HathawayLacy O’ Toole via CNBC.com
Dominasi Sektor Konsumer dan Koneksi Personal (1980-2000)
Koneksi Omaha dan Coca-Cola Investasi legendaris Buffett di Coca-Cola pada tahun 1988 tidak lepas dari koneksi personalnya di Omaha. Don Keough, yang kemudian menjadi Presiden Coca-Cola, adalah tetangga Buffett yang tinggal di seberang jalan pada tahun 1959. Saat itu, Keough hanyalah seorang penjual kopi dengan gaji US$ 12.000 per tahun.
Buffett mengenang momen kritis Coca-Cola pada tahun 1985 saat peluncuran "New Coke" yang gagal total. Keough harus melakukan pidato permintaan maaf kepada publik dan mengembalikan formula lama.
Buffett mencatat bahwa Keough dengan ceria mengakui bahwa produk Coca-Cola sesungguhnya adalah milik publik, bukan milik perusahaan. Pemahaman mendalam tentang loyalitas konsumen inilah yang mendasari keyakinan Buffett untuk memegang saham Coca-Cola dalam jangka panjang.
Media dan Buffalo News Selain Coca-Cola, Buffett juga berekspansi di sektor media cetak melalui Stan Lipsey, warga Omaha lainnya yang menjual Omaha Sun ke Berkshire pada 1968. Lipsey kemudian dikirim Buffett ke Buffalo untuk mengelola Buffalo Evening News yang saat itu sedang berdarah-darah melawan kompetitor.
Di bawah strategi yang tepat, koran tersebut berhasil berbalik laba dan memberikan imbal hasil lebih dari 100% per tahun (sebelum pajak) dari investasi awal US$ 33 juta, yang menjadi arus kas penting bagi Berkshire di awal 1980-an.
Era Konsolidasi Energi dan Media (2000-2008)
Memasuki milenium baru, Warren Buffett menggeser fokus alokasi modal Berkshire Hathaway dari sekadar portofolio saham menuju kepemilikan penuh atas bisnis padat modal yang menghasilkan arus kas stabil. Periode ini ditandai dengan penguatan fondasi di sektor utilitas dan optimalisasi aset media.
Fondasi Sektor Energi Ekspansi ke sektor energi tidak lepas dari peran Walter Scott, Jr., sahabat dekat Buffett dan sesama warga Omaha. Scott adalah sosok kunci yang membawa MidAmerican Energy ke dalam payung Berkshire pada tahun 1999.
Akuisisi ini menjadi cikal bakal Berkshire Hathaway Energy. Scott, yang wafat pada 2021, dikenal sebagai pemimpin filantropi Nebraska yang meninggalkan jejak mendalam bagi perusahaan.
Mesin Uang Media Di sektor media, keberhasilan Berkshire tidak hanya bergantung pada The Washington Post. Buffett menunjuk Stan Lipsey, tetangga masa kecilnya yang tumbuh hanya lima blok dari rumah Buffett, untuk mengelola Buffalo Evening News.
Di bawah manajemen Lipsey, surat kabar tersebut bertransformasi dari bisnis yang mengalami pendarahan kas menjadi aset yang sangat menguntungkan. Pada puncaknya, Buffalo News mampu menghasilkan imbal hasil tahunan lebih dari 100% (sebelum pajak) dari investasi awal sebesar US$ 33 juta, yang menjadi arus kas penting bagi Berkshire di awal 1980-an hingga 2000-an.
Visi Awal Kendaraan Listrik Menjelang akhir periode ini, tepatnya pada 2008, Berkshire mengambil langkah anomali dengan berinvestasi di BYD, produsen baterai dan kendaraan listrik asal China.
Meskipun Buffett dikenal menghindari sektor teknologi, keputusan ini diambil berdasarkan keyakinan Charlie Munger terhadap visi manajemen BYD, membuktikan kemampuan Berkshire mengidentifikasi pergeseran tren global sejak dini.
Pasca-Krisis Subprime hingga Transisi Digital (2008-2025)
Periode pasca-krisis subprime mortgage menjadi panggung pembuktian ketangguhan model bisnis Berkshire. Di saat likuiditas pasar mengering, Buffett hadir sebagai lender of last resort sebelum akhirnya beradaptasi dengan realitas ekonomi digital.
Penyelamatan Finansial dan Infrastruktur Krisis 2008 dimanfaatkan Buffett untuk memperkuat posisi di sektor finansial melalui suntikan modal ke Bank of America pada 2011. Tak lama berselang, Buffett melakukan akuisisi terbesar dalam sejarahnya dengan membeli penuh BNSF Railway. Langkah ini merupakan pertaruhan "all-in" pada ekonomi riil Amerika Serikat.
Pergeseran strategi paling signifikan terjadi pada 2016 ketika Berkshire mulai mengakumulasi saham Apple. Buffett melihat Apple sebagai perusahaan barang konsumsi dengan ekosistem yang kuat, menjadikannya porsi terbesar dalam portofolio saham publik Berkshire hingga 2025.
Baru-baru ini Berkshire juga memiliki kepemilikan saham di GOOGL dengan sistem pemberian dividen kuartalan kepada Berkshire dengan harga yang cukup tinggi beberapa waktu ke belakang ini.
Transisi Kepemimpinan ke Greg Abel Menjelang akhir 2025, fokus pasar tertuju pada suksesi. Greg Abel dipastikan akan mengambil alih posisi pimpinan pada akhir tahun. Buffett menilai Abel memiliki pemahaman yang jauh lebih baik mengenai potensi keuntungan dan risiko bisnis asuransi properti/kecelakaan (P/C) dibandingkan banyak eksekutif asuransi lainnya.
Ia menegaskan bahwa Berkshire tidak akan mengalami bencana finansial yang menghancurkan dan akan terus dikelola sebagai aset bagi Amerika Serikat.
Wisdom dan Filosofi Kehidupan
Di balik kesuksesan finansialnya, Buffett dikenal karena kebijaksanaan hidup yang ia bagikan secara konsisten.
- Buffett selalu menekankan, "Butuh 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya." Integritas adalah harga mati. Ia mengingatkan bahwa dalam memilih pemimpin atau mitra, integritas harus menjadi prioritas di atas kecerdasan atau energi.
- Buffett berpendapat bahwa investasi tidak membutuhkan IQ jenius (cukup 120). Yang lebih dibutuhkan adalah stabilitas emosi untuk tidak terombang-ambing oleh euforia atau kepanikan pasar. Investor sukses harus mampu berpikir independen dan tidak sekadar mengikuti kerumunan (herd mentality).
- Kesabaran dan Waktu Metafora "Duduk di tempat teduh hari ini karena seseorang menanam pohon lama yang lalu" menggambarkan esensi investasi jangka panjang. Kekayaan Buffett adalah hasil dari bunga majemuk yang bekerja selama puluhan tahun. Ia tidak mencari kekayaan instan, melainkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
- Iri Hati dan Kompensasi Eksekutif Dalam surat terakhirnya, Buffett mengkritik sistem kompensasi eksekutif modern. Ia menyoroti bagaimana transparansi gaji CEO justru memicu rasa iri dan keserakahan, di mana CEO membandingkan gaji mereka dengan kompetitor dan menuntut kenaikan, menciptakan inflasi gaji yang tidak sehat.
Transisi Kepemimpinan dan Pesan Terakhir (2025)
Pada tanggal 10 November 2025, Buffett merilis surat yang menandai akhir dari kepemimpinannya. Surat ini berisi refleksi mendalam dan arahan masa depan bagi perusahaan.
Penunjukan Greg Abel Buffett secara tegas menyatakan kepercayaannya kepada Greg Abel, yang akan menjadi pimpinan penuh pada akhir tahun. Ia memuji Abel sebagai manajer yang hebat, pekerja keras, dan komunikator yang jujur.
Buffett bahkan menyatakan bahwa Abel memahami banyak aspek bisnis dan risiko asuransi Berkshire jauh lebih baik daripada dirinya saat ini. Ia berharap Abel akan memimpin untuk jangka waktu yang panjang.
Filosofi Keberuntungan Buffett merenungkan usianya yang mencapai 95 tahun dan mengakui peran besar keberuntungan. Ia menyebut dirinya beruntung lahir di Amerika pada tahun 1930, sebuah kondisi yang memungkinkannya memaksimalkan potensi dirinya. Ia mengingatkan bahwa banyak orang lain yang sama cerdasnya tidak mendapatkan kesempatan yang sama karena faktor lingkungan atau kelahiran.
Rencana Filantropi Menyadari usianya, Buffett mengumumkan percepatan donasi sahamnya kepada yayasan-yayasan yang dikelola oleh ketiga anaknya (Susie, Howard, dan Peter). Ia melakukan konversi saham A menjadi saham B untuk didonasikan segera.
Buffett menjelaskan bahwa anak-anaknya kini telah berusia 70-an tahun dan berada pada puncak kematangan untuk mengelola dana amal tersebut. Ia ingin memastikan distribusi kekayaannya dilakukan saat anak-anaknya masih mampu mengelolanya dengan bijak.
Foto: Gerard Miller/CNBC
Greg Abel
Nasihat Terakhir
Dalam pesan perpisahannya, Buffett memberikan nasihat tentang kehidupan yang bermakna. Mengutip kisah Alfred Nobel yang mengubah hidupnya setelah membaca obituarinya sendiri yang salah, Buffett menyarankan agar setiap orang memutuskan apa yang ingin ditulis dalam obituari mereka dan hidup sesuai dengan itu.
Ia menekankan bahwa kehebatan tidak datang dari akumulasi uang atau kekuasaan, melainkan dari membantu orang lain. "Kebaikan itu tidak berbiaya, tetapi sangat berharga" (Kindness is costless but also priceless).
Ia juga mengingatkan untuk memperlakukan semua orang dengan setara, mencatat bahwa "petugas kebersihan adalah manusia yang sama berharganya dengan seorang Chairman".
Harapan untuk Berkshire Menutup suratnya, Buffett meyakinkan pemegang saham bahwa Berkshire Hathaway akan terus dikelola dengan prinsip yang mengutamakan kepentingan pemegang saham dan menjadi aset bagi Amerika Serikat.
Meskipun harga saham mungkin akan mengalami volatilitas di masa depan, ia optimis bahwa "Amerika akan bangkit kembali, begitu juga saham Berkshire".
Kesimpulan Pengunduran diri Warren Buffett menandai akhir dari era seorang visioner yang mengajarkan dunia bahwa etika dan profitabilitas dapat berjalan beriringan.
Melalui transisi kepemimpinan ke Greg Abel, Buffett memastikan bahwa filosofi investasi dan budaya perusahaan yang ia bangun akan tetap hidup. Warisan Buffett bukan hanya terletak pada kekayaan yang ia ciptakan, tetapi pada kebijaksanaan yang ia bagikan yaitu bahwa integritas, kesabaran, dan kebaikan adalah investasi terbaik yang dapat dilakukan siapa saja.
THANK YOU WARREN EDWARD BUFFET FOR YOUR INSPIRATION AND LEGACY YOU'VE CRAFTED FOR THE FUTURE GENERATION
(gls/gls)

2 hours ago
5

















































