Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru dari peneliti di Universitas Manchester menyatakan, bahwa peningkatan penggunaan media sosial (medsos) tidak memiliki dampak merugikan terhadap kesehatan mental remaja.
Para peneliti di Universitas Manchester mengikuti 25.000 anak berusia 11 hingga 14 tahun selama tiga tahun sekolah, melacak kebiasaan media sosial yang dilaporkan sendiri, frekuensi bermain game, dan kesulitan emosional untuk mengetahui apakah penggunaan teknologi benar-benar berdampak pada kesehatan mental para remaja di kemudian hari.
Para remaja ditanya berapa banyak waktu pada hari kerja normal dalam satu semester yang mereka habiskan untuk bermain game dan berselancar di TikTok, Instagram, Snapchat dan media sosial lainnya. Mereka juga ditanya tentang perasaan, suasana hati, dan kesehatan mental mereka yang lebih luas.
Studi ini tidak menemukan bukti penggunaan media sosial yang lebih berat atau aktivitas bermain game lebih sering meningkatkan gejala kecemasan atau depresi remaja pada tahun berikutnya.
"Kami tahu keluarga khawatir, tetapi hasil kami tidak mendukung gagasan bahwa hanya menghabiskan waktu di media sosial atau bermain game menyebabkan masalah kesehatan mental - ceritanya jauh lebih kompleks dari itu," kata penulis utama studi Qiqi Cheng, dikutip dari The Guardian, Minggu (18/1/2026).
Selain itu, para peneliti menemukan peningkatan penggunaan media sosial anak perempuan dan laki-laki dari tahun 8 hingga tahun 9 dan dari tahun 9 hingga tahun 10 tidak memiliki dampak yang merugikan pada kesehatan mental mereka pada tahun berikutnya.
Lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain game juga disebut tidak memiliki efek negatif pada kesehatan mental para siswa.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Public Health ini juga memeriksa apakah perilaku siswa dalam menggunakan media sosial membuat perbedaan. Para remaja ini ditanya berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengobrol dengan orang lain, memposting cerita, gambar dan video, menelusuri umpan, profil atau menelusuri foto dan cerita.
Para peneliti menemukan bahwa mengobrol secara aktif di media sosial atau hanya scrolling tidak mendorong masalah kesehatan mental.
Meski demikian, para penulis menekankan bahwa temuan tersebut tidak berarti pengalaman online tidak berbahaya. Pesan yang menyakitkan, tekanan online, dan konten ekstrem dapat memiliki efek yang merugikan pada kesejahteraan remaja.
Namun, para peneliti menyebut kita tidak bisa hanya menyalahkan screentime. "Temuan kami memberi tahu kami bahwa pilihan anak muda seputar media sosial dan permainan mungkin dibentuk oleh bagaimana perasaan mereka tetapi belum tentu sebaliknya," kata salah satu penulis studi, Neil Humphrey.
"Daripada menyalahkan teknologi itu sendiri, kita perlu memperhatikan apa yang dilakukan anak muda secara online, dengan siapa mereka terhubung dan seberapa didukung mereka merasa dalam kehidupan sehari-hari mereka," tambahnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































