Selat Hormuz Warning, Harga Minyak Bisa 'Meledak'

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah munculnya kemungkinan tindakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Situasi ini membuat Selat Hormuz, jalur minyak paling vital di dunia, kembali menjadi titik rawan yang berpotensi mengguncang pasar energi global.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi kebijakan terhadap Iran di tengah meningkatnya tekanan politik domestik. Para analis memperingatkan, eskalasi konflik dapat mendorong Teheran mengambil langkah ekstrem, termasuk mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab.

"Gangguan di Selat Hormuz bisa memicu krisis minyak dan gas global, terutama jika rezim Iran merasa terpojok dan bertindak secara putus asa," kata Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, seperti dikutip CNBC International, Senin (12/1/2026).

Data perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melintasi Selat Hormuz pada 2025. Ini setara 31% arus minyak mentah global melalui jalur laut.

Ancaman gangguan di jalur ini sebelumnya juga mencuat saat ketegangan AS-Iran meningkat pada Juni tahun lalu. Analis Minyak Mentah Senior Kpler, Muyu Xu, menilai dampak konflik Iran berpotensi jauh lebih besar dibandingkan Venezuela.

"Produksi dan ekspor Iran jauh lebih signifikan. Jika terjadi eskalasi, pasar global akan merasakan dampak yang lebih kuat, dan kilang minyak China kemungkinan harus mencari pasokan alternatif," ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Presiden Rapidan Energy Group Bob McNally. Ia menyebut konflik yang melibatkan Iran membawa risiko jauh lebih tinggi karena besarnya volume pasokan dan paparan jalur transit strategis.

Ia memperkirakan terdapat 70% peluang terjadinya serangan selektif AS terhadap Iran. Jika eskalasi memburuk hingga kapal tanker tak bisa melintas atau infrastruktur energi rusak, harga minyak diperkirakan melonjak tajam.

"Kekhawatiran penutupan Selat Hormuz saja bisa mendorong harga naik beberapa dolar per barel. Namun jika benar-benar ditutup, harga minyak bisa melonjak US$10-US$20 per barel," ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow.

Saat ini, harga minyak acuan global Brent berada di kisaran US$63 per barel. Harga West Texas Intermediate (WTI) AS bertahan di sekitar US$59 per barel.

Meski demikian, mayoritas analis menilai skenario terburuk masih berpeluang kecil. Xu menyebut Iran kemungkinan enggan menutup Selat Hormuz sepenuhnya mengingat kompleksitas geopolitik kawasan dan kehadiran Armada Laut AS di wilayah tersebut.

Bahkan jika Iran melakukan gangguan sementara, seperti menghambat kapal tanker dalam waktu singkat, dampak fisik terhadap pasokan global diperkirakan terbatas. Kpler mencatat pasar minyak saat ini justru cenderung kelebihan pasokan, dengan surplus sekitar 2,5 juta barel per hari pada Januari, dan lebih dari 3 juta barel per hari pada Februari hingga Maret.

Kavonic menambahkan, setiap upaya penutupan Selat Hormuz hampir pasti akan dibalas dengan pengerahan kekuatan AS dan sekutunya untuk memulihkan arus pelayaran.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |