Susi Setiawati, CNBC Indonesia
23 January 2026 08:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sepekan terakhir, harga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) tercatat terkoreksi lebih dari 15 %. Penurunan terjadi usai transaksi crossing BUMI di pasar negosiasi, yang tak banyak orang tahu dibalik alasan crossing tersebut.
Jika dianalisa lebih dalam, terdapat hal positif dibalik transaksi tersebut, meskipun membuat efek penurunan saham BUMI sementara waktu.
Diketahui, transaksi crossing berskala besar BUMI terjadi di pasar negosiasi pada 19 Januari 2026. Transaksi tersebut mencapai nilai sekitar Rp6,9 triliun yang berasal dari 182 juta lot saham pada harga Rp380 per saham. Pihak penjual dan pembeli sama-sama tercatat menggunakan broker Ina Sekuritas (kode: RB), yang dikenal sebagai broker yang menangani saham-saham Grup Salim. Dengan demikian transaksi tersebut dinilai lebih merupakan perpindahan kepemilikan internal.
Ina Sekuritas sendiri tercatat sebagai anggota bursa yang dikendalikan Grup Salim melalui PT Gema Insani Karya dengan kepemilikan sekitar 78,12 %. Pihak yang diketahui sebagai penjual dalam transaksi tersebut ialah Treasure Global Investments Limited (TGIL). Pasca-transaksi, kepemilikan TGIL terhadap BUMI turun signifikan dari 8,08 % menjadi 3,18 % hak suara.
Struktur TGIL dan Keterkaitan dengan Grup Salim
Treasure Global Investments Limited (TGIL) merupakan entitas investasi berbasis di Hong Kong yang dikendalikan oleh sejumlah pihak dengan koneksi bisnis kuat di Indonesia. Struktur kepemilikannya terdiri atas:
- Mach Energy (Singapore) Pte. Ltd. dengan porsi sekitar 83,85 %. Entitas ini berada dalam kendali Anthoni Salim.
- PT Aswana Pinasthika Investasi (API) dengan porsi sekitar 16,15 %, yang dikendalikan oleh Agoes Projosasmito.
Rinciannya dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:
- Mach Energy - 83,85 %:
o Anthoni Salim: 42,5 %
o Grup Bakrie: 42,5 %
o Agoes Projosasmito: 15 %
- PT API - 16,15 %:
o Seluruhnya dimiliki Agoes Projosasmito
TGIL menjadi salah satu investor utama dalam aksi penambahan modal tanpa HMETD (private placement) BUMI pada 2022, bersama Mach Energy (Hong Kong) Ltd. Aksi tersebut menghimpun dana sekitar US$1,6 miliar dan meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 343,8 miliar saham. Saat ini Mach Energy (Hong Kong) Ltd masih menggenggam sekitar 45,78 % saham BUMI.
Motif Transaksi dan Implikasi terhadap MSCI
Salah satu faktor yang dinilai mendorong terjadinya perpindahan kepemilikan internal saham BUMI adalah upaya perseroan agar dapat masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), tidak hanya untuk periode Februari 2026 tetapi juga periode Mei 2026.
MSCI diketahui tengah mengkaji perubahan metodologi penilaian free float yang akan berlaku pada peninjauan indeks Mei 2026. Aturan baru tersebut menetapkan bahwa kepemilikan oleh badan usaha (PT) tidak secara otomatis dikategorikan sebagai free float. Sebaliknya, kepemilikan perseorangan dinilai lebih memenuhi syarat free float.
Perpindahan saham BUMI dari TGIL ke akun perseorangan atau non-PT dinilai sebagai langkah untuk memperbesar free float BUMI sesuai persyaratan MSCI. Momentum Mei 2026 dianggap penting karena berdampak pada potensi aliran dana (inflow) lebih besar dibandingkan periode peninjauan Februari 2026.
Sejumlah pihak memperkirakan rebalancing indeks MSCI tersebut dapat memicu kenaikan harga saham BUMI. Sementara beberapa analis dan pengamat pasar memberikan target harga agresif hingga Rp1.000, proyeksi konservatif memperkirakan kisaran Rp600-Rp800 pada 2026.
Diversifikasi Bisnis: Target EBITDA Non-Batubara
BUMI juga tengah mengupayakan diversifikasi bisnis dengan target kontribusi EBITDA non-batubara mencapai sekitar 50 % pada 2030. Tren kontribusi pendapatan non-batubara menunjukkan peningkatan:
- 2023: sekitar 2 % total pendapatan
- 2024: sekitar 5 %
- 2025 (proyeksi): sekitar 10 %
Kendati masih jauh dari target, proyeksi pertumbuhan tersebut dinilai membuka ruang ekspansi melalui akuisisi sektor non-batubara. Untuk mendukung strategi tersebut, BUMI menerbitkan Program Obligasi Berkelanjutan I dengan plafon hingga Rp5 triliun.
Hingga akhir 2025, realisasi penerbitan obligasi baru mencapai sekitar Rp1,85 triliun, terdiri dari:
- Tahap I 2025: Rp350 miliar
- Tahap II 2025: Rp721,61 miliar
- Tahap III 2025: Rp780 miliar
Dengan demikian, BUMI masih memiliki ruang pendanaan sekitar Rp3,15 triliun untuk keperluan akuisisi dan ekspansi non-batubara sepanjang periode mendatang.
Berbagai dinamika kepemilikan, strategi free float, serta diversifikasi usaha menunjukkan bahwa BUMI tengah memasuki fase transformasi struktural. Tekanan harga jangka pendek diyakini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait strategi korporasi yang lebih luas dalam konteks indeks global dan ekspansi bisnis.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
2

















































