Rupiah Menguat, Dolar AS Turun ke Rp16.710

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (28/1/2026). Seiring berlanjutnya tren pelemahan yang pada dolar AS di pasar global.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terapresiasi sebesar 0,30% dan bergerak ke level Rp16.710/US$. Penguatan ini melanjutkan tren positif rupiah setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (27/1/2026), rupiah ditutup menguat tipis 0,06% di posisi Rp16.760/US$, sekaligus memperpanjang penguatan menjadi lima hari perdagangan beruntun.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,16% ke level 96,066. Pelemahan ini meneruskan tekanan tajam pada sesi sebelumnya, saat DXY ditutup turun 0,85% ke level 96,217 dan tercatat sebagai level terendahnya dalam empat tahun terakhir.

Penguatan rupiah pagi ini berpeluang mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY mengindikasikan investor mulai melepas aset berdenominasi dolar, sehingga arus dana berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelemahan dolar dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut dirinya tidak terlalu khawatir dengan penurunan dolar belakangan ini dan menilai pelemahannya belum terlalu besar.

Pernyataan tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa pemerintah AS relatif nyaman dengan dolar yang lebih lemah karena dapat meningkatkan daya saing ekspor.

Tekanan terhadap greenback turut diperbesar oleh ketidakpastian kebijakan di Washington, termasuk kembali mencuatnya ancaman Trump terkait Greenland serta kritik terhadap independensi Bank Sentral AS (The Federal Reserve). Selain itu, spekulasi mengenai potensi koordinasi intervensi valuta asing AS dan Jepang untuk menopang yen juga ikut membebani dolar.

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan terus menguat ke depan, tidak hanya bersifat sementara seperti penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level Rp17.000/US$.

"Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan terus menguat," ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (27/1/2026).

Perry menilai, posisi rupiah yang telah kembali ke kisaran Rp16.700/US$ sejatinya masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalue. Ia menegaskan terdapat sejumlah faktor kuat yang menopang prospek penguatan rupiah, mulai dari inflasi yang tetap rendah, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan membaik, hingga arus investasi asing yang masih masuk ke dalam negeri.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |