Rupiah Goyang, Warga RI Ramai-Ramai Parkir Duit ke Deposito Dolar

4 hours ago 14

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

23 January 2026 15:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pelemahan rupiah, masyarakat justru terlihat makin agresif menambah simpanan dalam dolar Amerika Serikat (AS). Tren ini terlihat dari hasil rilis Uang Beredar (M2) Bank Indonesia (BI) periode Desember 2025 yang diumumkan pada Jumat (23/1/2026).

BI melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tumbuh lebih tinggi. BI mencatat M2 tumbuh 9,6% secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan November 2025 yang 8,3% yoy, sehingga mencapai Rp10.133,1 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,0% yoy serta uang kuasi yang tumbuh 5,5% yoy.

Di tengah kondisi itu, salah satu komponen yang paling menonjol adalah lonjakan simpanan berjangka dalam bentuk valas.

Simpanan berjangka merupakan simpanan di bank dengan jangka waktu tertentu (misalnya 1, 3, 6, atau 12 bulan) dan umumnya tidak bisa ditarik sewaktu-waktu tanpa konsekuensi.

Produk ini biasanya menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding tabungan biasa, sehingga kerap dipakai untuk "mengunci" dana, termasuk saat nasabah memilih menambah porsi simpanan dalam mata uang asing.

Pada Desember 2025, nilai simpanan berjangka valas naik menjadi Rp375,3 triliun, dari Rp362,7 triliun pada November 2025. Bukan cuma meningkat secara bulanan, lajunya juga makin cepat secara tahunan. Pertumbuhan simpanan berjangka valas meningkat menjadi 10,3% yoy di Desember 2025, dari 7,3% yoy pada November 2025.

Sementara itu, simpanan berjangka rupiah memang ikut naik, namun kecepatannya jauh lebih pelan. Nilainya meningkat dari Rp2.695,5 triliun pada November 2025 menjadi Rp2.735,4 triliun pada Desember 2025.

Secara tahunan, pertumbuhan simpanan berjangka rupiah hanya sekitar 5,2% yoy, naik tipis dari 4,5% yoy pada November 2025.

Sinyal pergeseran preferensi dari rupiah juga terlihat pada komponen simpanan rupiah lain yang cenderung lebih likuid.

Tabungan lainnya merupakan kelompok simpanan yang sifatnya lebih fleksibel dibanding simpanan berjangka, karena umumnya lebih mudah diakses untuk kebutuhan transaksi atau berjaga-jaga. Pergerakan pos ini bisa dijadikan indikator apakah dana jangka pendek masyarakat masih terparkir di rupiah atau mulai berpindah.

Pada Desember 2025, tabungan lainnya dalam bentuk rupiah tercatat turun menjadi Rp105,3 triliun, dari Rp106,5 triliun pada November 2025. Pelemahannya juga terlihat dari pertumbuhan tahunan yang melambat tajam, dari 18,3% yoy pada November 2025 menjadi hanya 7,1% yoy pada Desember 2025.

Kondisi tersebut sejalan dengan posisi rupiah yang memang sedang berada dalam tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejak akhir 2025, rupiah terus melemah dan pada penutupan 2025 secara kumulatif terdepresiasi 3,6% terhadap greenback.

Memasuki 2026, tekanan terhadap rupiah kian terasa. Puncaknya terjadi pada 15 Januari 2026, ketika rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah di Rp16.880/US$.

Setelah itu, dalam beberapa hari berikutnya rupiah kembali mencatat rekor penutupan terlemah baru di Rp16.945/US$, bahkan sempat bergerak mendekati level psikologis Rp17.000/US$.

Kombinasi data ini memberi pesan yang cukup jelas, ketika rupiah berada di bawah tekanan sebagian pelaku ekonomi memilih memperbesar porsi simpanan dolar AS sebagai langkah berjaga-jaga. Ini bukan hanya soal mengejar imbal hasil, tetapi juga meningkatnya kebutuhan lindung nilai di tengah volatilitas kurs.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |