Ringgit, Peso, Dong Sampai Baht 'Nyungsep', Cuma Yen dan Won Selamat

4 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 June 2026 12:21

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Tekanan terjadi seiring indeks dolar AS kembali menguat setelah sempat melemah pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv per pukul 11.55 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara dua lainnya menguat.

Tekanan paling dalam dialami ringgit Malaysia yang melemah 0,30% ke posisi MYR 4,060/US$. Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 0,25% ke posisi PHP 60,353/US$.

Dong Vietnam juga melemah 0,24% terhadap dolar AS. Dolar Taiwan terkoreksi 0,10% ke posisi TWD 31,568/US$, sementara baht Thailand turun 0,06% ke THB 32,56/US$.

Dolar Singapura dan yuan China ikut melemah masing-masing 0,05%. Dolar Singapura berada di posisi SGD 1,283/US$, sementara yuan China berada di CNY 6,76/US$.

Di sisi lain, yen Jepang masih mampu menguat tipis 0,04% ke posisi JPY160,24/US$. Penguatan yen terjadi setelah bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin dari 0,75% menjadi 1%. Kenaikan tersebut membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak 1995. Langkah BOJ ini diambil untuk merespons tekanan inflasi, termasuk dampak kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Won Korea Selatan juga masih mampu menguat tipis 0,03% ke posisi KRW 1.512,7/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,14% ke posisi 99,765 pada waktu yang sama. DXY kembali stabil di sekitar level 99,7 setelah sebelumnya melemah akibat sentimen kesepakatan damai AS-Iran.

Perhatian pasar kini mulai bergeser dari kabar damai AS-Iran ke agenda bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pertamanya di bawah pimpinan baru Kevin Warsh.

Meski demikian, ruang gerak The Fed tidak mudah. Data inflasi terbaru AS masih lebih panas dari perkiraan, terutama karena konflik dengan Iran sebelumnya sempat mendorong harga energi naik.

Investor juga menunggu keputusan sejumlah bank sentral utama dunia pekan ini, termasuk Jepang, Australia, Inggris, dan beberapa ekonomi besar lainnya. Kondisi ini membuat pasar valuta bergerak hati-hati.

Pada Senin kemarin, dolar AS sempat tertekan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Kesepakatan itu disebut akan memulihkan akses melalui Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut rencananya akan ditandatangani di Swiss pada Jumat. Namun, menjelang kepastian final, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dan kembali mencermati arah suku bunga The Fed.

Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali mendapat pijakan pada perdagangan hari ini. Akibatnya, mayoritas mata uang Asia bergerak melemah.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |