Ramai IQ Warga RI Disandingkan dengan Gorila: Angka Mirip, Makna Beda

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

19 January 2026 19:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Perbandingan antara rata-rata IQ orang Indonesia dan gorila kembali beredar di ruang publik. Klaim ini biasanya bersumber dari satu angka lama, skor IQ Indonesia 78,5 dalam studi The Intelligence of Nations karya Richard Lynn dan David Becker.

Angka tersebut lalu disejajarkan dengan estimasi IQ gorila yang berada di rentang 70-90 berdasarkan sejumlah eksperimen kognitif pada primata besar. Dari sini, kesimpulan liar muncul. Indonesia disebut setara gorila.

Masalahnya bukan sekadar benar atau salah, melainkan pada cara membaca data dan memahami konteks global pengukuran kecerdasan.

Sebetulnya, data terbaru memberi gambaran berbeda. International IQ Test (IIT) 2024, yang menghimpun lebih dari 1,35 juta peserta di seluruh dunia melalui satu instrumen tes daring yang sama, mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 93,2.

Posisi Indonesia berada di peringkat ke-98 global dari sekitar 200 negara. Angka ini memang berada di bawah rata-rata dunia 100, namun secara statistik jauh dari kisaran yang lazim dilekatkan pada kecerdasan primata non-manusia.

Perbedaan ini menunjukkan skor IQ nasional sangat bergantung pada metode, cakupan sampel, dan asumsi dasar yang digunakan.

Studi Lynn-Becker banyak dikritik karena dua hal. Pertama, keterbatasan data primer. Becker mengklasifikasikan skor berdasarkan dua sumber T, hasil tes aktual; dan E, estimasi berbasis negara sekitar.

Untuk banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, skor berasal dari estimasi lama dengan data pendidikan yang terbatas. Kedua, pendekatan teoritisnya memicu kontroversi serius. Becker secara terbuka mempromosikan gagasan predisposisi genetik rasial terhadap kecerdasan, sehingga objektivitas metodologinya sering dipertanyakan oleh komunitas akademik.

Sebaliknya, IIT menggunakan satu tes yang sama secara global. Metode ini mengurangi variasi instrumen, namun menghadirkan bias baru partisipasi berbasis internet. Artinya, responden berasal dari kelompok yang memiliki akses digital, pendidikan dasar, dan literasi teknologi. Hasilnya cenderung merepresentasikan populasi urban dan terdidik, bukan keseluruhan demografi nasional.

IQ nasional bukan potret biologis, semua terakumulasi dari ekosistem pendidikan, nutrisi, kesehatan anak, dan distribusi akses belajar.

Negara dengan sistem sekolah solid, gizi anak memadai, dan paparan literasi sejak dini hampir selalu mencatat skor IQ lebih tinggi. Ini menjelaskan dominasi Asia Timur dalam berbagai pemeringkatan global.

World Population Review 2024 mencatat China, Taiwan, Hong Kong, dan Makau berada di puncak dunia dengan rata-rata IQ 107. Jepang dan Korea Selatan menyusul di angka 106. Pola ini konsisten dengan hasil PISA OECD 2022, di mana negara-negara tersebut unggul dalam matematika, sains, dan membaca. Artinya, skor IQ berjalan seiring dengan kualitas sistem pembelajaran, bukan faktor genetik semata.

Di tingkat global, lembaga internasional tidak pernah menjadikan IQ sebagai satu-satunya indikator kecerdasan kolektif. OECD menggunakan PISA untuk mengukur kemampuan aplikatif siswa usia 15 tahun.

Intelligence Capital Index (ICI) yang dikembangkan ekonom Kai L. Chan menilai inovasi, kapasitas riset, dan kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan. Dalam komparasi lintas metode ini, hanya Singapura dan Finlandia yang konsisten muncul di papan atas. Fakta ini menegaskan bahwa kecerdasan nasional adalah konstruksi multidimensi.

Eksperimen kognitif pada gorila mengukur kemampuan spesifik, memori visual, pengenalan simbol, atau pemecahan masalah sederhana. Angka IQ 70-90 pada gorila bukan hasil tes IQ manusia, konversi kasar dari performa eksperimen ke skala manusia.

Menyamakan skor ini secara langsung dengan IQ manusia adalah kesalahan kategorikal. Instrumennya berbeda, konteksnya berbeda, dan tujuan pengukurannya berbeda.

Klaim bahwa IQ orang Indonesia setara gorila tidak berdiri di atas landasan ilmiah yang sahih. Yang lebih relevan adalah membaca IQ sebagai indikator kualitas pembangunan manusia.

Perdebatan tentang IQ seharusnya tidak berhenti pada angka, bukan seberapa rendah kita dibanding siapa, tetapi seberapa serius negara memperbaiki fondasi yang membentuk kecerdasan kolektifnya.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |