Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memutuskan untuk memangkas produksi batu bara di dalam negeri pada 2026. Produksi batu bara ditargetkan akan dipangkas menjadi kurang lebih 600 juta ton dari realisasi produksi batu bara pada 2025 sebesar 790 juta ton.
Keputusan pemangkasan produksi batu bara pada tahun ini dinilai perlu diwaspadai dampaknya, khususnya terkait persaingan dengan produsen negara lain. Pasalnya, beberapa negara diperkirakan bisa saja merebut pasar batu bara Indonesia.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menyadari keputusan pemerintah yang memangkas pasokan batu bara Indonesia ke pasar global diduga dapat menaikkan harga. Namun di sisi lain, faktor demand atau permintaan dari negara importir batu bara seperti China dan India juga sangat dapat mempengaruhi perubahan harga.
Menurut dia, penurunan volume impor batu bara negara China ini luar biasa berdampak kepada turunnya harga batu bara secara signifikan. Hal ini lantaran China merupakan salah satu negara utama pengimpor batu bara dari pasar internasional, selain negara India.
"Jadi seandainya di tahun 2026 ini China dan India kembali menurunkan impor volume batu baranya dari pasar internasional, maka bukan tidak mungkin penurunan volume produksi batu bara dari Indonesia juga tidak banyak mempengaruhi untuk kenaikan harga batu bara di pasar internasional," kata dia kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (20/1/2026).
Ia menilai kemungkinan penurunan impor batu bara oleh China dan India antara lain dapat disebabkan berbagai faktor. Mulai dari meningkatnya target produksi dalam negeri nya, serta pengurangan penggunaan batu bara sebagai sumber energi dengan meningkatkan produksi listrik dari sumber energi lain seperti energi baru terbarukan (EBT).
Dia pun menyebut, sejumlah negara berpotensi menggantikan pasokan batu bara dari Indonesia, antara lain Rusia, Mongolia, maupun Australia.
"Jangan dilupakan juga kemungkinan mereka mengalihkan impor batu baranya dari negara produsen batu bara lain selain Indonesia, seperti misalnya dari Rusia; Mongolia; Australia; maupun negara-negara eksportir batubara lainnya," kata dia.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemangkasan produksi menjadi sekitar 600 juta ton ini dilakukan guna mendorong kenaikan harga batu bara dan menjaga cadangan batu bara ke depannya. Terlebih dari jumlah batu bara yang diperjualbelikan di pasar global kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton.
"Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita," jęłas Bahlil dalam konferensi pers terkait Capaian Kinerja Tahun 2025 Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (08/01/2026).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2025 tercatat mencapai 790 juta ton, turun dari 2024 yang tercatat mencapai 836 juta ton.
Dari produksi batu bara tersebut, sebesar 514 juta ton atau 65,1% dijual ke luar negeri alias diekspor, dan 254 juta ton atau 32% dijual untuk pasar dalam negeri (domestik).
Penjualan batu bara untuk pasar domestik ini termasuk untuk sumber bahan bakar pembangkit listrik dan juga untuk pasar non kelistrikan, seperti untuk pabrik semen maupun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

15 hours ago
1
















































