Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami perbaikan meski tidak signifikan.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Selasa (2/6/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada Mei 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
Perusahaan Kesulitan Bahan Baku
S&P menjelaskan biaya operasional manufaktur Indonesia melonjak pada Mei 2026 dan mencatat kenaikan tercepat kedua sepanjang sejarah survei S&P Global. Perusahaan banyak mengaitkan kondisi ini dengan kenaikan harga bahan baku dan penurunan produksi yang terus berlanjut
Lonjakan harga bahan baku dan gangguan pasokan terus menekan produksi pabrik yang sudah turun selama tiga bulan beruntun.
Meski demikian, permintaan domestik masih cukup kuat. Pesanan baru naik untuk bulan kedua berturut-turut, meski ekspor mengalami kontraksi lebih dalam.
Di tengah sulitnya memperoleh bahan baku, perusahaan mulai mengurangi pembelian, memangkas persediaan, hingga menekan jumlah tenaga kerja.
Pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek ke depan, namun tingkat keyakinan bisnis masih berada di bawah rata-rata historis.
PMI Indonesia Foto: S&P
"Industri manufaktur Indonesia masih berada di bawah tekanan pada Mei, karena produksi tertahan kenaikan harga bahan baku dan terbatasnya ketersediaan input," ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dikutip dari website S&P.
Dia menambahkan meski perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini sebagian besar mencerminkan upaya pelanggan menambah persediaan di tengah gangguan harga dan pasokan.
Selain itu, perbaikan permintaan tampaknya masih terbatas di pasar domestik karena penjualan ekspor turun pada laju terdalam dalam hampir lima tahun terakhir.
Kesulitan memperoleh bahan baku menyebabkan pembelian dan persediaan input menurun. Jumlah tenaga kerja juga berkurang karena kebutuhan produksi melemah.
Data survei juga menunjukkan pesanan baru terus tumbuh dan mencatat kenaikan tercepat sejak Februari. Sebagian perusahaan menyebut pelanggan meningkatkan stok di tengah tekanan harga yang masih tinggi.
Namun permintaan ekspor turun untuk bulan ketiga berturut-turut dan mencatat kontraksi terdalam sejak Agustus 2021 akibat perang di Timur Tengah dan kenaikan harga.
Walaupun pesanan naik, mahalnya bahan baku dan keterbatasan pasokan membuat produksi kembali turun untuk bulan ketiga berturut-turut, meski penurunannya lebih ringan dibanding April.
Inflasi biaya input meningkat tajam dan menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei setelah September 2013. Perusahaan pun menaikkan harga jual dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.
Harga yang lebih tinggi dan kelangkaan pasokan menekan aktivitas pembelian. Banyak perusahaan juga mulai memakai stok lama karena kesulitan memperoleh bahan baku.
Waktu pengiriman pemasok memanjang untuk bulan kedelapan berturut-turut akibat keterlambatan dan gangguan pasokan terkait perang.
Jumlah pekerjaan yang belum terselesaikan meningkat untuk pertama kali sejak Februari karena kekurangan bahan baku menghambat penyelesaian produksi. Tekanan kapasitas diperparah oleh pengurangan tenaga kerja untuk bulan ketiga berturut-turut.
Perusahaan tetap yakin pertumbuhan produksi akan kembali meningkat dalam satu tahun ke depan, dan optimisme membaik dibanding April. Namun demikian, tingkat kepercayaan bisnis secara keseluruhan masih tergolong lemah.
(mae/mae)
Addsource on Google

2 hours ago
5

















































