Perang Iran Dorong Teluk Cari Sekutu Baru, Apa Kabar "NATO Muslim"?

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Teluk mulai meninjau ulang strategi keamanan mereka setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengguncang stabilitas kawasan dan merusak ekonomi. Selain mempercepat pemulihan, mereka juga mempertimbangkan menambah mitra pertahanan baru di tengah meningkatnya ketegangan dengan Teheran.

Para pemimpin kawasan menyadari ancaman dari Iran belum sepenuhnya hilang, terutama dengan sisa arsenal rudal yang dimiliki negara tersebut. Keberadaan pangkalan militer AS di wilayah Teluk bahkan menjadikan negara-negara itu sasaran serangan balasan Iran setelah operasi gabungan Washington dan Israel.

Namun, negara-negara Teluk menegaskan mereka tidak bisa menerima Iran mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sebagian besar perdagangan mereka.

Dalam kesepakatan gencatan senjata pekan ini, Iran bersikeras mempertahankan posisi yang diambil selama perang di jalur perairan tersebut, yang berpotensi memberi Teheran kemampuan menekan negara-negara Teluk sewaktu-waktu. Masa depan selat itu menjadi salah satu sengketa utama dalam perundingan antara AS dan Iran di Islamabad yang dijadwalkan mulai berlangsung secepatnya pada Jumat.

Negara-negara Teluk mengeklaim keberhasilan dalam mencegat sebagian besar serangan rudal dan drone Iran selama lima pekan konflik, sebagai bukti mereka mampu mempertahankan diri.

Meski demikian, para ahli menilai negara-negara tersebut terpecah dalam menentukan hubungan ke depan dengan Iran. Kelompok yang lebih keras dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, sementara negara lain berharap meredakan ketegangan melalui hubungan yang diperbarui dengan Teheran.

Media pemerintah Iran pada Rabu menuduh UEA kemungkinan berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak di Pulau Lavan beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, dan Iran disebut membalas. Jika benar, itu akan menjadi satu-satunya tindakan ofensif yang diketahui dari negara Teluk selama konflik.

Sementara itu, Arab Saudi dan Iran pada Kamis melakukan kontak resmi pertama sejak konflik dimulai melalui percakapan telepon antara menteri luar negeri kedua negara. Dalam pembicaraan tersebut, mereka "membahas cara mengurangi ketegangan untuk memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan".

Profesor di Kuwait University, Bader Mousa Al-Saif, mengatakan negara-negara Teluk perlu mempertimbangkan ulang arsitektur keamanan mereka dengan menjalin kemitraan dengan negara seperti Turki dan kekuatan menengah lainnya, bukan hanya bergantung pada AS. Ia menilai kawasan harus menjauh dari risiko konflik berulang agar fondasi ekonomi dapat dibangun kembali.

"Ini menjadi kewajiban semua negara di kawasan untuk memikirkan ulang modelnya," kata Al-Saif, dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026). "Pertanyaannya adalah bagaimana melindungi kawasan secara keseluruhan dari terjerumus ke dalam perang tanpa akhir."

Negara seperti Turki dan Pakistan yang memiliki militer besar diperkirakan akan memainkan peran lebih besar di Teluk. Langkah ke arah itu sebenarnya sudah terlihat sebelum perang.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Pakistan, sementara UEA mengumumkan kemitraan pertahanan dengan India. Selama konflik, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga menandatangani perjanjian pertahanan dengan Ukraina untuk menghadapi ancaman drone Iran.

Gagasan membentuk "NATO Muslim" sempat muncul, tetapi dinilai sangat kecil kemungkinan terwujud. Penyelarasan baru yang terbentuk pada Maret melibatkan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan dalam format yang disebut "Step".

Namun rivalitas di antara negara-negara tersebut serta ketidakjelasan apakah mereka fokus menghadapi Iran atau Israel membuat hubungan itu rumit. Turki dan Pakistan juga berbatasan langsung dengan Iran dan tidak ingin konfrontasi dengan Teheran.

Inggris, yang membantu mempertahankan langit Teluk selama perang, juga bisa terlibat lebih jauh. Saat tiba di Jeddah pada Rabu, Perdana Menteri Keir Starmer membahas dengan putra mahkota Arab Saudi "bagaimana Inggris dan Arab Saudi dapat memperdalam kerja sama industri pertahanan untuk meningkatkan kemampuan dan keamanan bersama".

Profesor ilmu politik di Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan ia memperkirakan hubungan keamanan dengan AS akan makin dalam, sekaligus lebih banyak negara mengikuti langkah UEA menjalin hubungan dengan Israel, termasuk kerja sama militer dan intelijen.

UEA disebut paling terdampak oleh serangan Iran, dengan menjadi target 2.256 drone dan lebih dari 563 rudal, di mana lebih dari 90% berhasil dicegat, menurut otoritas setempat. Angka itu dibandingkan dengan sekitar 850 proyektil yang ditembakkan Iran ke Israel.

"Iran telah berkembang selama 40 hari terakhir sebagai musuh publik nomor satu, bagi Uni Emirat Arab dan negara-negara Arab lainnya," kata Abdulla. "Dengan musuh publik nomor satu seperti itu, Anda benar-benar harus waspada 24 jam, tujuh hari seminggu."

Direktur proyek Teluk di International Crisis Group, Yasmine Farouk, menilai Arab Saudi berada pada posisi lebih baik untuk pulih, berkat jalur pipa minyak dan pelabuhan di Laut Merah, luas wilayah, serta infrastruktur energi yang tidak terkena dampak sebesar negara Teluk lainnya. Meski demikian, biaya rekonstruksi dapat memengaruhi ambisi Riyadh untuk mendiversifikasi ekonomi hingga 2030.

"Arab Saudi memiliki kedalaman strategis, dan sumber daya untuk pulih. Geografinya sangat membantu," kata Farouk.

Sementara itu, profesor asosiasi di King's College London, Andreas Krieg, mengatakan negara-negara Teluk tidak akan mengganti perlindungan Amerika Serikat, tetapi akan menambah kemitraan keamanan dengan pihak lain, khususnya Eropa.

Ia memperkirakan negara-negara Teluk akan meningkatkan investasi pada pertahanan udara dan rudal, penguatan pelabuhan serta pabrik desalinasi, pengawasan maritim, dan jalur ekspor alternatif.

"Amerika Serikat masih satu-satunya kekuatan luar dengan arsitektur militer nyata di Teluk, tetapi kini terlihat bagi banyak pemimpin Teluk sebagai penyedia keamanan yang tidak dapat diandalkan dan sangat mahal dalam hubungan di mana Teluk sering membayar mahal dan tetap menanggung risiko pembalasan," kata Krieg.

"Pangkalan itu akan tetap ada, tetapi kini terlihat kurang seperti perisai dan lebih seperti pemicu."

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |