Nelayan memindahkan kontainer berisi hasil tangkapan dari kapal pukat ke truk di dermaga, di provinsi Samut Sakhon, Thailand, Kamis (25/3/2026). Aktivitas pasar ikan di Samut Sakhon, yang biasanya ramai sejak sebelum matahari terbit, kini mulai tertekan akibat lonjakan harga bahan bakar. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Dampak konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, membuat biaya operasional nelayan melonjak tajam. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Setiap hari, kapal-kapal nelayan dari berbagai wilayah di Thailand berlabuh di kawasan tersebut untuk menurunkan hasil tangkapan. Namun kini, banyak nelayan mengaku kesulitan bertahan akibat harga solar yang terus naik. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Seorang nelayan, Boonchoo Lonluy (59), mengatakan para awak kapal terpaksa menerapkan berbagai langkah penghematan, termasuk memperlambat kecepatan berlayar demi mengurangi konsumsi bahan bakar. Namun langkah tersebut berdampak langsung pada hasil tangkapan yang semakin menurun. “Kalau kami berhenti, kami tidak dapat apa-apa. Tapi kalau terus melaut dengan kondisi ini, hasilnya juga tidak cukup untuk hidup,” ujarnya. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Pemerintah sebelumnya sempat menahan harga solar di bawah 33 baht atau Rp16.900 per liter. Namun pada Rabu (25/3/2026), pemerintah mengumumkan akan menyesuaikan harga energi mengikuti mekanisme pasar. Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas menyebutkan pemerintah tengah menyiapkan paket bantuan, termasuk pinjaman lunak dan subsidi tertentu untuk sektor terdampak. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Meski demikian, pada Kamis (26/3), harga solar dilaporkan telah melonjak mendekati 40 baht atau setara Rp20.000 per liter. Kondisi ini dinilai semakin memberatkan para pelaku usaha perikanan. Nelayan lainnya, Prapiyes Maneesumphan (36), yang memiliki tujuh kapal, mengatakan kenaikan harga bahan bakar sudah tidak lagi dapat ditanggung. “Jika seperti ini terus, kami harus berhenti. Dengan harga 40 baht per liter, kami tidak bisa bertahan,” katanya. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Dampak krisis ini mulai terlihat nyata. Menurut Jumpol Kanawaree, sekitar 60% kapal nelayan di Samut Sakhon telah menghentikan operasinya. Ia memperingatkan, jika situasi tidak membaik atau tidak ada intervensi pemerintah, seluruh aktivitas penangkapan ikan berpotensi terhenti. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)

5 hours ago
3

















































