Penjelasan Lengkap BMKG, Kondisi Musim Kemarau Tahun 2026-Jadwal di RI

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026 akan berakhir secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Untuk kawasan selatan Indonesia seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, puncak musim hujan diperkirakan mulai berakhir pada Februari hingga Maret.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan perbedaan waktu berakhirnya musim hujan tidak bisa disamaratakan karena karakteristik iklim Indonesia yang sangat beragam.

"Indonesia kan daerahnya sangat luas. Kalau di daerah yang dimaksud Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret ya. Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau," kata Faisal saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Dengan demikian, wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan mulai memasuki peralihan menuju musim kemarau sejak April, setelah intensitas hujan berangsur menurun sejak akhir Februari hingga Maret. Adapun musim kemarau di kawasan ini diproyeksikan berlangsung hingga sekitar September.

BMKG juga memperkirakan musim hujan di wilayah selatan Indonesia baru akan kembali terjadi menjelang akhir tahun.

"Baru musim hujan kembali dimulai di Oktober," lanjut Teuku.

Sementara itu, pola musim yang berbeda terjadi di wilayah Indonesia yang berada dekat garis Ekuator, khususnya di Sumatra bagian utara. Wilayah ini memiliki karakteristik dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam satu tahun.

"Tapi perlu diingat bahwa di daerah ekuator, bagian utaranya ini agak berbeda. Misalnya saya berikan contoh untuk daerah Sumatra ya, untuk Aceh, kemudian Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dia memiliki kondisi di mana terjadi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau," jelasnya.

Saat ini, sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, hingga Sumatra Barat bahkan sudah mulai memasuki awal musim kemarau, meskipun dengan kondisi yang tidak terlalu kering.

"Di mana sekarang kondisinya sudah masuk awal musim kemarau di daerah Aceh, Sumatra Utara, Riau, sampai dengan Sumatra Barat, itu sudah masuk kemarau. Tapi tidak begitu kering dia. Tapi Karhutla mungkin terjadi," kata Teuku.

BMKG memprakirakan hujan masih berpotensi kembali turun di wilayah tersebut pada periode April hingga Juni sebelum kembali memasuki musim kering berikutnya.

"Nanti di bulan April, Mei, Juni, ada hujan lagi sedikit, baru nanti musim kering lagi," ujarnya.

Teuku menegaskan perbedaan karakteristik iklim ini membuat waktu berakhirnya musim hujan di Indonesia tidak bisa disamakan antara wilayah selatan dan wilayah dekat ekuator.

"Jadi berbeda antara karakteristik iklim yang ada di daerah dekat ekuator dengan daerah Selatan, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara," tegas dia.

La Nina Lemah Diprediksi Bertahan hingga Maret

Di sisi lain, BMKG juga memantau fenomena La Nina yang saat ini masih berada pada kategori lemah. Menurut Teuku, kecil kemungkinan La Nina lemah tersebut berkembang menjadi kuat.

"Kalau berdasarkan pengalaman panjang itu tidak demikian. Karena la nina lemah itu kan dipantau dari Nino 3.4 yang ada di perairan Pasifik," ujarnya.

BMKG memprakirakan La Nina akan terus melemah hingga Maret. Setelah itu, kondisi iklim Indonesia diprediksi kembali normal mulai April hingga akhir tahun.

"Nah La Nina ini nanti akan terus melemah hingga sampai dengan bulan Maret. Ini berdasarkan dari perkiraan iklimnya. Lalu nanti pada bulan April hingga akhir tahun, itu cenderung dalam kondisi normal. Tidak ada El Nino, tidak ada La Nina. Jadi normal," jelasnya.

Produksi Pangan RI Bakal Melonjak

Dengan kondisi iklim yang lebih stabil tersebut, BMKG berharap produktivitas sektor pangan nasional dapat meningkat.

"Sehingga nanti harapannya, kita dapat meningkatkan produktivitas swasembada pangan kita pada posisi itu," kata Teuku.

Namun demikian, BMKG tetap mengingatkan dinamika iklim jangka menengah masih perlu diantisipasi.

"Karena tahun depan kita belum tahu, nanti apakah El Nino yang akan terjadi di tahun 2027, sehingga nanti musim keringnya akan lebih panjang," pungkasnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |