Mentan Sebut Pertanian RI Ibarat Tarung Mike Tyson Vs Ellyas Pical

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi perdagangan komoditas pangan nasional yang dinilai tidak seimbang. Ia menyoroti derasnya arus impor yang membuat produk dalam negeri sulit bersaing, terutama karena minimnya kebijakan pengendalian seperti larangan dan/atau pembatasan (lartas).

Dalam konteks itulah, Amran kemudian melontarkan analogi yang cukup mencolok. Ia menyebut kondisi tersebut ibarat pertarungan yang tidak adil antara petani lokal dan produk impor yang lebih kuat.

"Ibaratkan Mike Tyson dihadapkan dengan Ellyas Pical tapi tanpa wasit, itu gambaran begitu. Nah ini harus kita kendalikan (dengan lartas), karena kita terima sarannya IMF (International Monetary Fund) pasar bebas, nggak ada Lartas," kata Amran dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Mike Tyson dan Ellyas Pical merupakan dua legenda tinju dunia yang dikenal karena prestasinya di level masing-masing. Adapun analogi keduanya juga sering digunakan untuk menggambarkan pertarungan yang sangat tidak seimbang.

Amran menjelaskan, tanpa intervensi pemerintah, mekanisme pasar bebas justru menciptakan ketimpangan. Produk impor yang lebih kompetitif dari sisi harga dan skala produksi membuat komoditas lokal semakin terdesak. Ia pun menegaskan, kondisi ini tidak hanya terjadi pada komoditas gula, tetapi juga pada komoditas strategis lainnya.

"Kita perjuangkan lartas karena ini terjadi bukan (di komoditas) gula saja. Itu terjadi di susu, kemudian terjadi di kedelai," sebut dia.

Menurutnya, ketergantungan impor yang tinggi saat ini merupakan akumulasi dari kebijakan masa lalu yang terlalu terbuka terhadap pasar global.

"Kami ini pandangan saja, Bu (pimpinan Komisi VI DPR RI), bahwa ini adalah (ulah atau karena) saran dari IMF kita terima mentah-mentah, ya berantakanlah ini pertanian. Akhirnya (sekarang) satu-satu kita selesaikan," jelasnya.

Ia memaparkan, sejumlah komoditas yang dulunya pernah mencapai swasembada kini justru berbalik menjadi sangat bergantung pada impor.

"Dulu, kedelai tahun 1993 kita swasembada, bawang putih juga dulu pernah swasembada. Kemudian susu," ungkap Amran.

Bahkan, tren ketergantungan impor terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. "Nah ini susu dulu impor 40%, sekarang jadi 81%. Kedelai, dulu kita swasembada tahun 1992-1993 sekarang 90% impor," katanya.

Amran menilai pola tersebut seragam di berbagai komoditas, yang menurutnya disebabkan oleh kebijakan pasar bebas tanpa perlindungan yang memadai bagi produksi dalam negeri.

"Polanya sama semua, karena IMF kita terima sarannya bulat-bulat, pasar bebas," tegasnya.

Karena itu, pemerintah kini mendorong penerapan lartas sebagai instrumen untuk menyeimbangkan pasar, sekaligus memperkuat kembali daya saing sektor pertanian nasional.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |