Susi Setiawati, CNBC Indonesia
23 January 2026 10:02
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sampai ke bawah 9000. Salah satu alasan-nya kemungkinan pasar mulai antisipasi aturan free float baru dan rebalanci MSCI dalam waktu dekat.
Seperti diketahui, MSCI (Morgan Stanley Capital International) sedang membuka periode masukan dari pelaku pasar mengenai revisi metodologi perhitungan free float untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Hasil konsultasi tersebut kemudian dijadwalkan akan diumumkan pada 30 Januari 2026. Lalu finalnya, implementasi kebijakan akan berlaku efektif mulai rebalancing indeks MSCI pada periode Mei 2026.
Ke depan, peningkatan kewajiban free float berpotensi memperbaiki kualitas pasar saham nasional, memperdalam likuiditas, serta meningkatkan daya tarik IHSG di kancah global.
Dengan semakin ketatnya standar indeks global seperti MSCI, isu free float tidak lagi sekadar kewajiban regulasi, tetapi sudah menjadi faktor strategis bagi keberlanjutan pasar modal Indonesia.
Market pun mulai antisipasi dari penerapan aturan baru tersebut, tercermin dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang banyak dilego asing dari awal tahun sampai penutupan kemarin Rabu sampai Rp3,5 triliun. Ini merupakan net sell terbesar dibandingkan seluruh saham lain di bursa.
Ini sama seperti simulasi MSCI pada September lalu, yang menunjukkan bahwa saham BBCA akan mengalami outflow paling besar, seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Foto: MSCI
Menjelang tanggal efektif tersebut, pasar biasanya mengalami kenaikan volatilitas, terutama pada saham-saham yang berpotensi masuk atau keluar dari indeks, seiring dengan penyesuaian portofolio oleh dana pasif dan investor institusional global.
Secara struktural, posisi Indonesia di indeks MSCI Global Standard terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah saham Indonesia yang masuk indeks tersebut menyusut signifikan dari 28 saham pada 2019 menjadi hanya 18 saham pada 2025.
Penurunan jumlah konstituen ini berdampak langsung pada turunnya bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets, yang pada akhirnya membatasi aliran dana pasif dari ETF dan global funds ke pasar saham domestik.
Perlu dipahami, MSCI tidak mempertimbangkan valuasi murah atau mahal dalam menentukan konstituen indeks. Fokus utama MSCI terletak pada:
-
Floating market capitalization
-
Likuiditas perdagangan
-
Konsistensi dan keberlanjutan transaksi
Dengan pendekatan tersebut, saham yang secara fundamental menarik namun memiliki free float terbatas atau likuiditas yang tidak konsisten tetap berisiko tersingkir dari indeks.
Dalam konteks ini, terdapat empat saham yang dinilai berada di area risiko karena floating market cap-nya mendekati batas minimum MSCI, yaitu Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), Chandra Asri Pacific (TPIA), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), dan Indofood Sukses Makmur (INDF).
Saham-saham tersebut berpotensi menghadapi tekanan apabila terjadi penyesuaian metodologi atau cut-off yang lebih ketat, terutama jika tidak diimbangi peningkatan likuiditas atau free float yang memadai.
Dalam fase ini, narasi indeks tidak lagi cukup kuat untuk menopang harga saham, dan investor mulai kembali menekankan faktor likuiditas riil serta struktur kepemilikan sebagai penentu utama arah pergerakan.
Urgensi Akurasi Data Free Float
Saham Warkat: Saham yang masih berbentuk fisik dan belum dikonversi menjadi elektronik sering kali masih tercatat sebagai free float, padahal saham tersebut tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler. Kepemilikan Strategis Tersembunyi: Saham yang dimiliki oleh afiliasi pengendali atau investor strategis kadang tercatat sebagai saham masyarakat karena persentasenya dipecah, sehingga tidak wajib lapor. Hal ini menciptakan ilusi likuiditas yang tinggi. Ketersediaan bagi Asing (Foreign Room): Batasan kepemilikan asing pada sektor tertentu sering kali membuat saham terlihat likuid secara total, namun tidak dapat diakses oleh investor asing. Jika MSCI menggunakan data yang tidak akurat, hal ini berisiko bagi investor institusi global yang mengikuti indeks tersebut. Mereka diwajibkan membeli saham yang sebenarnya tidak tersedia di pasar, yang dapat memicu pergerakan harga yang tidak wajar (cornering) dan distorsi valuasi.
Kekhawatiran utama MSCI bersumber pada indikasi bahwa porsi saham publik yang dilaporkan emiten sering kali tidak mencerminkan likuiditas yang sebenarnya. Beberapa isu utama yang menjadi sorotan meliputi:
Definisi dan Standar Regulator Domestik
Secara definisi, free float adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama, yang siap ditransaksikan di bursa. Saham ini harus bersih dari kepemilikan manajemen, saham treasuri, dan saham yang sedang dalam periode penguncian. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mewajibkan perusahaan tercatat memiliki porsi saham publik minimal 7,5% atau 50 juta lembar saham. Tujuannya adalah memastikan terciptanya pasar yang wajar dan efisien. Ketidakpatuhan terhadap aturan ini dapat berujung pada sanksi administratif, masuk ke Papan Pemantauan Khusus (FCA), hingga delisting. Insentif Fiskal dan Akses Modal Institusi Bagi emiten, menjaga porsi free float bukan sekadar kepatuhan regulasi, melainkan strategi korporasi yang pragmatis. Pertama, terdapat insentif penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar 3% (menjadi 19%) bagi emiten yang memiliki porsi saham publik minimal 40%. Bagi perusahaan berkapitalisasi besar (Big Caps), insentif ini berdampak signifikan terhadap laba bersih. Kedua, likuiditas adalah prasyarat utama bagi masuknya dana institusi besar. Investor global membutuhkan pasar yang dalam untuk memastikan mereka dapat masuk dan keluar tanpa memicu fluktuasi harga yang ekstrim.
Dampak Masuk Indeks MSCI: Arus Modal dan Valuasi
Jika sebuah emiten berhasil memenuhi kriteria ketat MSCI, termasuk aturan baru yang akan diumumkan, maka emiten tersebut akan mendapatkan manfaat fundamental sebagai berikut:
1. Passive Inflow (Arus Modal Masuk Otomatis)
Indeks MSCI menjadi acuan bagi manajer investasi global, termasuk Exchange Traded Fund (ETF). Ketika saham masuk ke dalam indeks, manajer investasi wajib melakukan rebalancing dengan membeli saham tersebut, menciptakan permintaan beli dalam volume besar.
2. Peningkatan Likuiditas dan Valuasi
Masuknya arus dana asing umumnya diikuti dengan penilaian ulang (re-rating) terhadap valuasi saham. Pasar cenderung memberikan premium valuasi karena emiten dianggap memiliki tata kelola yang baik dan stabilitas yang teruji.
3.Efisiensi Penggalangan Dana
Status sebagai konstituen MSCI dapat menurunkan biaya modal (Cost of Equity). Hal ini menguntungkan saat perusahaan melakukan aksi korporasi seperti Rights Issue, karena tingginya serapan pasar terhadap saham baru yang diterbitkan.
Implikasi Penerapan Standar Baru Pengumuman pada 30 Januari 2026 nanti akan menjadi validasi penting. Penerapan data KSEI yang lebih transparan oleh MSCI diharapkan dapat menyaring emiten dengan likuiditas riil. Bagi emiten yang memenuhi kriteria baru, hal ini akan memperkuat posisi mereka di mata investor global. Sebaliknya, bagi emiten yang memiliki isu pada struktur kepemilikan publiknya, risiko penurunan bobot (weighting) atau penghapusan dari indeks menjadi konsekuensi yang harus diantisipasi oleh pasar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
3

















































