Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
26 March 2026 12:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Gangguan di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko bagi negara-negara yang bergantung pada energi Teluk.
Perang antara Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir sebulan sejak 28 Februari lalu telah mengganggu salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia, yakni Selat Hormuz. Gangguan ini terjadi setelah Iran merespons perang dengan menyerang kapal-kapal yang berani melintasi jalur tersebut.
Kondisi itu langsung memicu lonjakan harga minyak dan gas global, sekaligus mendorong kenaikan harga berbagai produk turunan energi seperti bensin, avtur, dan bahan bakar industri.
Situasi ini menjadi perhatian besar karena kawasan Teluk Persia memegang peran sangat penting dalam pasokan energi dunia. Saat arus pengiriman dari kawasan tersebut tersendat, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga menjalar ke berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data Observatory of Economic Complexity (OEC) tahun 2024, banyak negara kini berada dalam posisi rawan karena masih sangat bergantung pada impor energi dari negara-negara Teluk. Semakin tinggi ketergantungan itu, semakin besar pula tekanan yang harus dihadapi saat pasokan terganggu dan harga melonjak.
Asia Jadi Kawasan Paling Rentan
Asia menjadi kawasan yang paling cepat merasakan guncangan energi akibat perang di Timur Tengah.
Pada 2024, sekitar 21 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz. Dari jumlah tersebut, sekitar empat perlima dikirim ke Asia. Karena itu, ketika jalur vital ini terganggu, tekanan paling awal dan paling besar langsung dirasakan negara-negara di Asia.
China selama ini menjadi pembeli terbesar energi dari negara-negara Teluk. Meski porsi ketergantungannya tidak setinggi beberapa negara Asia lain, sekitar 35% pasokan energinya masih berasal dari kawasan tersebut.
Dengan nilai impor energi yang mencapai US$413 miliar pada 2024, gangguan pasokan ini tetap menjadi persoalan serius bagi Beijing.
Namun, ada sejumlah negara Asia lain yang ketergantungannya bahkan lebih tinggi.
Pakistan menjadi salah satu yang paling rentan, dengan 81% impor energinya berasal dari kawasan Teluk. Setelah itu ada Jepang sebesar 57%, Thailand 56%, dan Korea Selatan 55%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa banyak negara Asia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Sementara itu, Indonesia relatif lebih rendah dibanding banyak negara Asia lain, dengan hanya 15% impor energinya yang berasal dari negara-negara Teluk.
Meski demikian, Indonesia tetap tidak sepenuhnya aman. Ketika harga energi global melonjak, dampaknya masih bisa terasa lewat kenaikan biaya impor, tekanan terhadap inflasi, hingga beban subsidi energi.
Selain itu, dampaknya juga merembet ke sektor transportasi udara. Di berbagai negara Asia, maskapai penerbangan mulai menghadapi tekanan akibat pasokan avtur yang mengetat dan harganya yang semakin mahal. Akibatnya, pembatalan penerbangan meningkat dan sejumlah penumpang pun terlantar.
Eropa Tidak Terlalu Bergantung, tetapi Tetap Tertekan
Dibanding Asia, Eropa memang tidak terlalu bergantung pada energi dari kawasan Teluk. Namun, itu bukan berarti Eropa aman dari ancaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Eropa sudah berkali-kali menghadapi tekanan energi, mulai dari perang Rusia-Ukraina pada 2022 hingga perubahan besar dalam sumber pasokan minyak dan gas.
Di antara negara-negara Eropa, Yunani menjadi salah satu yang paling bergantung pada energi dari negara-negara Teluk, dengan porsi mencapai 36% dari total impor energinya. Setelah itu ada Polandia 30%, Italia 22%, dan Prancis 18%.
Sementara itu, negara-negara besar lain seperti Inggris dan Belanda juga masih memiliki ketergantungan, meski porsinya lebih rendah, masing-masing 11% dan 10%.
Secara persentase, angka-angka tersebut memang masih di bawah banyak negara Asia.
Namun, tantangan Eropa bukan semata soal seberapa besar ketergantungannya terhadap energi Teluk. Eropa sedang berusaha memulihkan industri dan menopang pertumbuhan ekonomi yang masih lemah. Karena itu, lonjakan harga energi baru bisa menjadi tekanan tambahan bagi dunia usaha maupun rumah tangga.
Masalahnya semakin rumit karena Eropa juga belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang krisis energi sebelumnya.
Setelah pasokan dari Rusia terganggu dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini dipaksa menata ulang rantai pasok energinya. Dalam situasi seperti itu, kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah jelas menjadi kabar buruk.
Afrika Hadapi Risiko: Energi dan Pangan
Di Afrika, dampak perang di Timur Tengah tidak akan terasa sama di setiap negara. Ada negara yang cukup bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk, tetapi ada juga yang relatif lebih rendah. Karena itu, tekanan yang muncul cenderung tidak merata.
Mesir menjadi salah satu negara Afrika yang paling bergantung pada energi dari negara-negara Teluk, dengan porsi mencapai 45% dari total impor energinya. Setelah itu ada Afrika Selatan 33%. Sementara Nigeria tercatat jauh lebih rendah, yakni sekitar 12%, sehingga tekanannya relatif berbeda dibanding negara-negara lain yang lebih mengandalkan pasokan dari Timur Tengah.
Namun, ancaman bagi Afrika tidak berhenti pada minyak dan gas.
Kawasan Teluk juga punya peran besar dalam rantai pasok pupuk, karena wilayah tersebut memiliki basis energi yang kuat untuk memproduksi bahan baku berbagai kebutuhan pertanian.
Itu sebabnya, ketika harga energi naik dan pasokan terganggu, efeknya bisa merembet jauh ke luar sektor energi.
Jika kondisi ini berlangsung lama, biaya pupuk bisa ikut melonjak dan membebani sektor pertanian.
Pada akhirnya, harga pangan berisiko naik, terutama di negara-negara berkembang yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi. Dalam situasi seperti itu, pemerintah bisa dipaksa menambah subsidi untuk menahan lonjakan harga. Bagi banyak negara Afrika yang ruang fiskalnya terbatas, tekanan semacam ini jelas berbahaya.
Amerika Tidak Bergantung Besar, Tapi Tetap Kena Imbas
Di benua Amerika, terutama Amerika Serikat (AS), posisinya memang berbeda dibanding Asia dan sebagian Eropa.
AS merupakan salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia, sehingga ketergantungan langsungnya terhadap energi dari negara-negara Teluk relatif lebih kecil.
Brasil memiliki ketergantungan sekitar 13% terhadap energi dari kawasan Teluk, sementara Amerika Serikat 10% dan Kanada 5%. Ada pula negara-negara lain yang porsinya lebih kecil. Angka ini menunjukkan bahwa kawasan Amerika memang tidak terlalu terekspos secara langsung terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Namun, bukan berarti kawasan ini bisa sepenuhnya tenang. Sama dengan kawasan lainnya, saat harga minyak dunia melonjak, tekanan tetap terasa karena dampaknya menjalar lewat harga global. Kenaikan harga energi bisa langsung mendorong harga bensin, ongkos transportasi, serta biaya operasional berbagai sektor usaha.
Di AS, dampak semacam ini bisa cepat terasa pada kehidupan sehari-hari. Harga bahan bakar naik, maskapai menghadapi biaya avtur yang lebih mahal, dan tekanan inflasi ikut meningkat. Jika inflasi kembali memanas, efek lanjutannya bisa menjalar ke suku bunga, kredit, hingga daya beli masyarakat.
Dengan kata lain, Amerika mungkin tidak terlalu bergantung langsung pada pasokan energi Teluk, tetapi tetap tidak kebal terhadap gejolak harga energi dunia. Selama perang terus berlangsung dan harga minyak tetap tinggi, kawasan ini juga akan merasakan tekanannya, meski lewat jalur yang berbeda.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

4 hours ago
5

















































