Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
06 April 2026 18:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Iran kini bukan hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga mengancam hubungan aliansi militer terbesar di dunia, NATO. Serangan udara Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran disebut membuat hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya di Eropa makin memburuk.
Presiden AS Donald Trump disebut semakin marah kepada negara-negara Eropa karena menolak membantu operasi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Bahkan, beberapa negara Eropa justru dinilai membuat operasi militer AS di Timur Tengah semakin sulit.
Dalam unggahan media sosial pada 20 Maret 2026 yang dikutip dari The Economist, Trump menyebut para sekutu Eropa sebagai "pengecut" dan menegaskan bahwa dia akan mengingat sikap mereka.
Dalam beberapa wawancara, Trump juga mengatakan dirinya "benar-benar" mempertimbangkan untuk keluar dari NATO, meski ancaman itu tidak dia ulangi dalam pidato di televisi tentang perang Iran pada 1 April lalu.
Nada keras Trump juga diikuti Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Padahal, Rubio sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat hubungan trans-Atlantik. Kini dia menyebut NATO sebagai hubungan satu arah. Dia juga mengatakan setelah konflik ini selesai, hubungan tersebut harus ditinjau ulang.
Perubahan sikap Rubio membuat suasana di negara-negara Eropa makin muram. Saat masih menjadi senator, Rubio ikut mensponsori undang-undang bipartisan pada 2023 yang bertujuan mencegah presiden menarik AS keluar dari NATO secara sepihak. Aturan itu menegaskan bahwa Presiden AS tidak bisa menangguhkan, mengakhiri, atau menarik AS dari Traktat Atlantik Utara tanpa persetujuan dua pertiga Senat.
Kini, sebagai salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Trump, Rubio justru terlihat berbalik arah. Selama ini, dia kerap dianggap sebagai figur dewasa terakhir dalam lingkaran Trump yang masih berupaya menjaga hubungan dengan Eropa dan mencegah AS benar-benar meninggalkan Ukraina. Namun kini, benteng terakhir itu dinilai mulai runtuh.
Ivo Daalder, mantan Duta Besar AS untuk NATO, mengatakan ini adalah momen terburuk yang pernah dihadapi NATO.
Menurutnya, ketimbang terus berusaha meyakinkan Trump agar tidak keluar dari aliansi, para sekutu kini harus fokus memperkuat kapasitas militer mereka sendiri.
Dia juga menilai penolakan Eropa untuk mempermudah perang ini telah melemahkan posisi kelompok pro-NATO di AS, yang selama ini berargumen bahwa Eropa memberi AS landasan strategis untuk memproyeksikan kekuatan militernya secara global.
Eropa Tak Kompak Dukung AS
Dari antara sekutu Eropa, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dinilai paling konfrontatif.
Spanyol nyaris hanya memenuhi target lama belanja pertahanan NATO sebesar 2% dari produk domestik bruto (PDB), tetapi menolak target baru 3,5% ditambah 1,5% untuk infrastruktur terkait pertahanan. Spanyol juga menutup pangkalan dan wilayah udaranya bagi pasukan AS yang menyerang Iran.
Prancis mengambil sikap yang lebih hati-hati. Jet tempurnya membantu Uni Emirat Arab menembak jatuh drone, dan Prancis juga mengirim kapal induk untuk membantu mempertahankan Siprus. Meski begitu, Trump tetap mengecam Prancis karena menolak memberi izin kepada sebagian pesawat militer AS melintas di wilayahnya.
Inggris awalnya juga menolak pangkalannya digunakan oleh AS. Namun kemudian London mengizinkannya, meski hanya untuk melindungi negara-negara tetangga dari serangan balasan Iran.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berulang kali menegaskan bahwa ini bukan perang Inggris. Trump membalas dengan mengatakan bahwa Starmer bukan Winston Churchill.
Italia, yang juga dinilai tertinggal dalam belanja pertahanan, dilaporkan sempat melarang beberapa pesawat AS menggunakan pangkalan di Sisilia.
Kurt Volker, mantan Duta Besar AS untuk NATO, menyebut langkah negara-negara Eropa ini bodoh, meski bisa dipahami. Menurutnya, mereka bereaksi secara emosional terhadap Trump, bukan bertindak rasional sesuai kepentingan mereka sendiri.
Ancaman Trump ke NATO Makin Serius
Sejak masa jabatan pertamanya, Trump memang sudah beberapa kali memainkan wacana keluar dari NATO.
Namun tahun lalu dia sempat memosisikan dirinya sebagai penyelamat aliansi, setelah berhasil meyakinkan para sekutu untuk menaikkan belanja pertahanan dan infrastruktur terkait hingga setidaknya 5% dari PDB.
Setelah itu, hubungan kembali memburuk saat Trump mendekati Rusia. Dia juga membuat marah para sekutu dengan menghidupkan kembali kampanyenya untuk merebut Greenland, wilayah otonom milik Denmark. Kini, perang Iran membuat ketegangan itu mendidih.
Pejabat AS bahkan disebut memberi sinyal bahwa mereka bisa menahan pengiriman senjata untuk Ukraina. Sebagian alasannya adalah frustrasi karena tidak ada kemajuan dalam pembicaraan damai dengan Rusia, dan sebagian lagi karena stok senjata AS sendiri mulai menipis.
Volker masih berharap Kongres bisa menghentikan Trump jika benar-benar ingin meninggalkan NATO. Menurutnya, isu itu menjadi garis merah bagi banyak politisi Partai Republik, bahkan mungkin satu-satunya. Namun undang-undang 2023 yang membatasi Trump untuk keluar dari NATO bisa saja diabaikan atau dinilai bertentangan dengan konstitusi.
Selain itu, Trump sebenarnya tidak perlu benar-benar keluar dari NATO untuk melumpuhkan aliansi. Dia cukup menarik pasukan AS dari Eropa atau memanggil pulang panglima militer NATO yang selama ini selalu dijabat jenderal Amerika.
Seorang diplomat Eropa di Washington bahkan mengatakan selama lima tahun terakhir dia selalu menenangkan orang-orang agar tidak khawatir soal Trump dan NATO. Namun kini, untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasa cemas.
Selat Hormuz Jadi Titik Pecah Baru
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan mengunjungi Washington pada 8 April untuk mencoba meredakan ketegangan. Sebelumnya, Rutte sempat menuai perhatian karena pernah menyebut Trump sebagai "daddy" dan mendukung serangan AS ke Iran.
Inggris juga menggelar konferensi video dengan sekitar 40 negara pada 2 April, tanpa melibatkan AS, untuk membahas cara meningkatkan tekanan politik dan ekonomi kepada Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur laut internasional itu mengangkut sekitar seperempat minyak dunia yang diperdagangkan lewat laut, serta porsi besar gas alam cair dan pupuk.
Sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari, Iran telah mencegah hampir semua kapal melintas masuk dan keluar Teluk Persia, kecuali beberapa kapal tertentu, biasanya yang membawa minyak Iran atau berasal dari negara-negara yang dianggap bersahabat seperti India.
Pada 28 Maret, sebuah kapal kontainer milik Prancis berhasil melintas. Kini Iran bahkan disebut mulai membicarakan kemungkinan mengenakan tarif bagi kapal-kapal yang ingin menggunakan selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengatakan Iran sedang mencoba menyandera ekonomi global.
Dia menegaskan para peserta konferensi mendesak pembukaan selat secara segera dan tanpa syarat.
Dalam pertemuan serupa pada 19 Maret, negara-negara peserta juga menyatakan kesiapan berkontribusi pada upaya yang dianggap tepat untuk menjamin jalur aman di selat itu. Pekan depan, para kepala militer diperkirakan akan membahas opsi pengawalan kapal.
Eropa Ingin Gencatan Senjata Dulu
Dalam pidatonya pada 1 April, Trump mengatakan dia bisa mengakhiri perang dalam hitungan minggu meski Selat Hormuz tetap tertutup.
Dia menyebut Iran sudah hancur total. Menurut Trump, negara-negara yang bergantung pada selat itu seharusnya mengambil alih dan menjaganya, karena bagian tersulit menurutnya sudah selesai.
Namun sampai sekarang, belum ada kapal perang AS yang benar-benar mencoba menembus ancaman di selat itu.
Negara-negara Eropa menilai misi pengawalan belum mungkin dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. Para diplomat juga menyebut ada perbedaan pandangan soal bentuk misi tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, saat berkunjung ke Korea Selatan, menegaskan bahwa membuka kembali selat dengan kekuatan militer adalah hal yang tidak realistis. Menurutnya, langkah pertama haruslah gencatan senjata dan kembalinya perundingan.
Dalam kerangka itu, Macron mengatakan misi penenangan mungkin bisa dilakukan. Para diplomat menyebut Prancis ingin memimpin misi itu, tanpa melibatkan AS, serta mengajak India dan mungkin China. Inggris punya pandangan berbeda. London menilai Iran kecil kemungkinan berhenti mengancam kapal, sehingga demi melindungi pasukan sekutu, AS seharusnya tetap memimpin misi tersebut.
Trump sendiri justru mengatakan negara-negara Eropa seharusnya mengambil peran utama, sementara AS hanya akan membantu.
Eropa Mulai Bersiap untuk Skenario Terburuk
Seorang pejabat Finlandia yang pesimistis menilai semua langkah itu mungkin tidak banyak mengubah keadaan. Menurutnya, situasi mungkin sudah melewati titik di mana tindakan Eropa bisa melunakkan penghinaan Trump terhadap NATO.
Aliansi itu kini menghadapi masa yang suram menjelang pertemuan puncak tahunan di Ankara pada Juli. Menurut pejabat tersebut, pilihan terbaik NATO sekarang adalah melipatgandakan upaya membangun pilar Eropa di dalam aliansi.
Mungkin itu bisa meyakinkan Trump bahwa para sekutu bersedia memikul beban lebih besar. Namun kemungkinan lainnya, langkah itu setidaknya menjadi awal persiapan bagi Eropa menghadapi tugas berat mengambil alih NATO jika suatu saat Trump benar-benar meninggalkannya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

9 hours ago
1

















































