Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
23 January 2026 16:06
Jakarta, CNBC Indonesia- Menjelang Chinese New Year, di Asia Timur, kilau logam mulia ini masuk ke wilayah budaya. Simbol perlindungan, keberuntungan, dan kesinambungan nilai.
Kombinasi antara tradisi dan momentum musiman inilah yang membuat Imlek selalu menarik untuk dibaca dari kacamata pasar emas global.
Secara kultural, emas telah lama menempati posisi sentral dalam perayaan Tahun Baru China.
Sebagai catatan, libur panjang Spring Festival atau Chinese New Year di China pada 2026 berlangsung pada 15-23 Februari, mencakup Chinese New Year Eve hingga rangkaian hari libur nasional, dengan total sembilan hari libur sesuai jadwal resmi pemerintah China. Menjelang periode tersebut, aktivitas bisnis dan industri biasanya mulai melambat, seiring banyaknya pekerja yang menghentikan aktivitas lebih awal untuk persiapan Chunyun atau tradisi pulang kampung massal terbesar di dunia. Kondisi ini kerap berdampak pada pelemahan aktivitas ekonomi dan permintaan barang.
Pemberian perhiasan, batangan kecil, hingga koin emas menjadi praktik turun-temurun yang diasosiasikan dengan harapan kemakmuran.
Akar historisnya kuat mulai dari simbol kekuasaan kaisar, legenda angpao yang melibatkan koin emas untuk mengusir roh jahat Sui, hingga representasi visual emas dalam makanan seperti jiaozi yang menyerupai ingot. Artinya, setiap Imlek selalu membawa lapisan permintaan fisik yang relatif konsisten.
Namun yang menarik tahun ini, permintaan tersebut muncul di tengah harga emas global yang sudah berada di rekor tertinggi. Harga emas sudah menembus level uS$ 4.900 per troy ons dan terus mencetak rekor demi rekor.
Harga Rekor, Permintaan Tak Padam di China
Harga emas dunia akhirnya menembus level psikologis US$4.900 per troy ons dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high).
Lonjakan harga ini didorong oleh kombinasi faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, hingga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve. Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,47% ke level 98,29, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Terkait hubungan emas dan perayaan keagamaan juga kultur budaya, melansir Reuters per 16 Januari 2026 menunjukkan kontras tajam antara dua raksasa konsumen emas Asia.
Di India, lonjakan harga justru mematikan belanja ritel. Harga domestik mendekati rekor 143.590 rupee per 10 gram, membuat dealer menawarkan diskon hingga US$12 per ounce. Menurut pelaku pasar, pembelian perhiasan praktis berhenti, dengan minat terbatas pada ETF emas.
China bergerak berbeda. Meski harga global mencetak rekor baru, emas fisik di Negeri Tirai Bambu masih diperdagangkan dengan premium tipis hingga US$3 per ounce terhadap harga spot internasional. Ini terjadi tepat menjelang Lunar New Year, periode yang biasanya sangat sensitif terhadap harga.
Menurut analis independen Ross Norman, kondisi ini tidak lazim. Secara historis, lonjakan harga akan langsung menekan pembelian fisik di Asia. Fakta bahwa premium masih bertahan mengindikasikan permintaan yang lebih solid dari perkiraan. Mekanismenya sederhana: Imlek menciptakan kebutuhan riil hadiah, tabungan keluarga, simbol keberuntungan-yang tidak sepenuhnya elastis terhadap harga.
Implikasinya, pasar emas Asia tahun ini tidak hanya digerakkan oleh spekulasi finansial, tetapi oleh arus fisik yang nyata.
Lonjakan Impor Emas China via Hong Kong
Berdasarkan Discovery Alert, impor emas China via Hong Kong melonjak 101,5% secara bulanan pada November 2025, dengan net import mencapai 16,16 ton dari hanya 8,02 ton di Oktober. Lonjakan ini terjadi saat harga emas dunia sudah melampaui US$4.500 per ounce.
Sekilas, kenaikan impor di tengah harga mahal tampak kontradiktif. Namun jika dibedah, polanya cukup konsisten dengan struktur pasar China.
Hong Kong berfungsi sebagai gerbang utama emas ke China, menyediakan fleksibilitas logistik dan finansial yang tidak sepenuhnya tersedia di daratan.
Dari total impor kotor 30,22 ton pada November, sekitar 14 ton merupakan re-ekspor, menegaskan peran Hong Kong sebagai hub regional, bukan sekadar pintu masuk domestik.
Net import 16,16 ton setara nilai sekitar US$2,4 miliar. Volume tersebut mendekati produksi tahunan tambang emas menengah, dan menunjukkan keputusan pembelian yang bersifat terencana.
Imlek jelas memberi momentum waktu. Permintaan perhiasan dan emas hadiah biasanya meningkat sejak Desember hingga Januari.
Namun besarnya lonjakan impor menunjukkan faktor tambahan di luar konsumsi rumah tangga.
Salah satunya adalah akumulasi cadangan emas China. Pada November, cadangan emas resmi meningkat menjadi 74,12 juta troy ounce, menandai 13 bulan berturut-turut penambahan. Pola ini memperlihatkan pembelian yang relatif tidak sensitif terhadap harga, khas institusi, bukan konsumen ritel.
Dengan kata lain, arus emas ke China saat ini digerakkan oleh dua mesin sekaligus, permintaan budaya yang menguat jelang Imlek, menjaga pasar fisik tetap aktif
Dan strategi jangka panjang institusional untuk diversifikasi cadangan dan pengelolaan risiko moneter
Ketika keduanya bertemu di periode yang sama, volume impor menjadi jauh lebih besar dari pola musiman biasa.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

3 hours ago
4

















































