Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
16 January 2026 17:20
Jakarta, CNBC Indonesia- Di marketplace Amazon, 10 gram wild Himalayan Cordyceps sinensis diperdagangkan sekitar Rp6,30 juta. Angka itu setara Rp630.000 per gram atau lebih dari Rp600 juta per kilogram.
Sebagai perbandingan, 1 troy ons emas setara dengan US$4.600 atau per gram nya sekitar US$148 per gram atau senilai Rp 2,5 juta. Artinya, harga wild Himalayan seperempat emas.
Untuk komoditas biologis yang secara fisik adalah larva serangga mati yang ditumbuhi jamur, harga ini terlihat ekstrem. Namun jika ditelusuri dari sisi biologi, kimia, dan struktur pasarnya, harga tersebut justru masuk akal.
Spesies yang diperdagangkan itu bernama Ophiocordyceps sinensis, jamur parasit yang hanya hidup di padang rumput alpine Himalaya pada ketinggian sekitar 3.500 hingga 5.200 meter di atas permukaan laut, meliputi Tibet, Nepal, Bhutan, dan wilayah Himalaya India.
Foto: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/
Caterpillar fungus
Di ekosistem ini tekanan oksigen rendah, suhu ekstrem, dan radiasi ultraviolet tinggi membentuk tekanan evolusioner yang menghasilkan organisme dengan metabolisme yang berbeda dari jamur dataran rendah. Inilah sebabnya Cordyceps tidak pernah berhasil tumbuh stabil di luar Himalaya meski telah puluhan tahun dicoba.
Siklus hidupnya membatasi pasokan dunia sejak awal. Spora jamur menginfeksi larva ngengat tanah dari keluarga Hepialidae. Jamur menembus jaringan tubuh larva, mengkolonisasi organ, menggantikan jaringan hidup dengan miselium, lalu membunuh inangnya.
Dari kepala larva yang telah menjadi mumi biologis itu, jamur menumbuhkan tubuh buah yang muncul ke permukaan tanah untuk menyebarkan spora generasi berikutnya. Satu larva menghasilkan satu jamur. Proses ini memakan waktu panjang dan hanya terjadi di tanah alpine Himalaya. Tidak ada mekanisme produksi yang bisa diskalakan.
Di tingkat genetik, Ophiocordyceps sinensis membawa adaptasi molekuler terhadap hipoksia dan suhu ekstrem. Pemetaan genom menunjukkan ekspansi gen yang mengatur metabolisme energi, kemampuan menginfeksi inang, dan produksi metabolit sekunder. Adaptasi ini menjelaskan mengapa jamur tersebut memiliki profil kimia yang tidak bisa ditiru oleh kultur laboratorium. Versi budidaya hanya mampu mereplikasi sebagian kecil senyawa aktifnya.
Nilai ekonomi jamur wild Himalayan
Nilai ekonominya muncul dari apa yang diproduksi jamur ini di dalam tubuh larva. Cordyceps kaya akan nukleosida bioaktif, terutama adenosine dan cordycepin, molekul yang berperan dalam regulasi energi sel, respon imun, dan jalur peradangan.
Selain itu, miseliumnya mengandung polisakarida dan mannoglukan yang dalam uji sel dan hewan terbukti menekan fibrosis hati dengan menghambat jalur TGF dan Smad, mekanisme utama pembentukan jaringan parut pada organ. Senyawa ergosterol dari Cordyceps menunjukkan efek hepatoprotektif dan modulasi imun pada model yang sama.
Profil farmakologi ini menggeser Cordyceps dari wilayah jamu ke wilayah bahan baku farmasi.
Melansir G.B. Pant National Institute of Himalayan Environment pengaruhnya pada ginjal melalui penghambatan proliferasi sel mesangial, pada sistem imun melalui pengaturan keseimbangan T-cell, pada hati melalui penekanan fibrosis dan peradangan, serta pada kanker melalui hambatan terhadap metastasis dan sitokin pro-tumor. Begitu sebuah organisme memiliki molekul dengan mekanisme kerja yang terukur pada tingkat sel dan gen, ia masuk ke dalam ekonomi riset medis.
Di titik inilah struktur pasarnya berubah. Cordyceps tidak lagi diperdagangkan melalui pasar di desadesa Himalaya. Platform e-commerce global sudah menjadi rumahnya.
Survei sistematis terhadap 168 iklan Cordyceps di pasar online dunia menunjukkan bahwa perdagangan terkonsentrasi di Alibaba, IndiaMART, eBay, dan Etsy, dengan struktur harga yang sangat berbeda antar platform.
Harga juga ditentukan oleh klaim asal geografis. Cordyceps yang dipasarkan sebagai berasal dari Bhutan memiliki median harga US$47,07 per gram, disusul Tibet sebesar US$31,04 per gram.
Pasokan Cordyceps terkunci oleh biologi dan ekologi yang tidak elastis. Di sisi lain, permintaan didorong oleh riset farmasi dan konsumen premium Asia Timur yang memperlakukan Cordyceps sebagai simbol status dan aset kesehatan.
China mendominasi penelitian biokimia dan farmakologi Cordyceps, sementara negara Himalaya lain tertinggal dalam pemetaan stok dan teknologi budidaya, membuat nilai tambah semakin terkonsentrasi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

1 hour ago
1

















































