Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih mencatatkan tren pertumbuhan komoditas pangan, yang didorong oleh berbagai faktor seperti infrastruktur, kebijakan pemerintah, hingga tren iklim pada 2024 dan 2025.
Direktur Utama Rumah Tani Bahtiar menyebut produktivitas itu pun menjadi ukuran bagi Indonesia untuk menuju swasembada pangan. Namun selain itu diperlukan juga kesejahteraan bagi para petani.
"Meskipun menurut data itu NTP petani meningkat, namun kita juga harus perdalam. Petani mana yang meningkat? Menurut pandangan kami yang meningkat itu memang yang sudah dilakukan intervensi oleh pemerintah, yaitu petani jagung dan petani padi. Memang itu meningkat dan itu cukup baik sekali," terang Bahtiar dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema 'Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian', Selasa (23/6/2026).
Menurut Bahtiar, ketika petani menerima kesejahteraannya, mereka akan otomatis melakukan penanaman kembali atau menggarap sawah kembali. Ditambah saat ini kaum petani didominasi oleh generasi dengan usia di atas 45 tahun.
"Mungkin sekitar 15% adalah petani-petani muda. Yang saya lihat petani muda ini mengalami demotivasi," jelas dia.
Di sisi lain kata Bahtiar para petani dari generasi muda tersebut mendapatkan dorongan dari keluarganya untuk mencari penghidupan baru di kota besar, dan meninggalkan profesi bertani.
"Itu akibat daripada pengalaman orang-orang tuanya tersebut yang tidak mengalami kesejahteraan. Maka dari itu kalau kita bicara mendorong petani muda agar menjadi petani, saya kira langkah awalnya adalah kita ciptakan orang tua-orang tua yang saat ini menjadi petani," tambah Bahtiar.
Adapun dalam mendorong minat generasi mudah untuk bertani, dibutuhkan dorongan atau motivasi bagi mereka. Mereka memerlukan contoh konkret keberhasilan dalam bidang pertanian.
"Maka dari itu kita harus munculkan bahwa ekosistem pertanian itu berhasil dan mampu dipublikasi terhadap anak-anak muda bahwa itu bisa menjadi salah satu solusi," kata dia.
"Kami melihat bahwa contohnya di beberapa daerah petani-petani kami itu income-nya itu di atas UMK loh. Di atas UMK-UMK daerah karena memang pendapatannya itu lebih tinggi," tambah Bahtiar.
Untuk itu Rumah Tani memberikan berbagai pembinaan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani. Para petani diberikan edukasi soal bertani, akses pasar, hingga literasi keuangan.
Bahtiar menyebut pihaknya memberikan kepastian pemasaran dan pembelian. Sehingga petani dapat menjaga proses pertaniannya sejak masa tanam.
"Ketika orang tuanya masuk ke dalam ekosistem kami (Rumah Tani), kami memberikan kepastian market dan kesejahteraannya naik, anaknya menjadi petani dan menjadi mitra kami juga," kata dia.
Saat ini Rumah Tani memiliki sebanyak 27.400 petani yang tergabung sebagai anggota yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali. Rumah Tani memiliki kekuatan dalam rantai pasok dengan berada di 13 pasar induk meliputi Sumatra, Jawa, dan Bali.
"Dari total 27.400 petani kami hampir 30%-nya itu petani-petani muda dan masih sangat muda. Masih usia 21 tahun, 22 tahun. Mereka memilih menjadi petani bahkan bikin komunitas sendiri," tambah dia.
Bahkan menurut dia petani generasi muda memiliki prospek positif. Hal ini karena mereka dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu kegiatan bertani.
"Jadi mereka lebih cepat dalam mengakses informasi mengenai cara bertani, cara pascapanen dan lain sebagainya," ungkap dia.
Tak hanya itu, Rumah Tani tengah membangun sekitar 2.000 gerai untuk komoditas sayuran. Gerai ini diharapkan dapat memperluas pasar para petani anggota.
"Sehingga kami mampu membuka lebih banyak lagi petani karena animo petani saat ini cukup tinggi sekali. Hampir ratusan petani yang ingin bergabung ke Rumah Tani," pungkas Bahtiar.
(rah/rah)
Addsource on Google

4 hours ago
6
















































