Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah akan menindaklanjuti praktik goreng-menggoreng saham yang masih marak di pasar modal Tanah Air. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan secara terbuka meminta agar oknum pelaku penggorengan saham ditangkap dan dihukum. Menurutnya, pasar perlu dibersihkan lebih dulu agar investor ritel tidak terus menjadi korban. Setelah itu, pemerintah berencana memberikan insentif fiskal agar partisipasi investor ritel di pasar saham semakin besar.
Praktik mengerek harga saham tanpa dasar bisnis yang jelas ini sejatinya bukan barang baru. Jauh sebelum istilah pom-pom saham, pump and dump, atau saham gorengan dikenal, sejarah mencatat aksi serupa telah terjadi lebih dari tiga abad lalu. Pelaku pertamanya bukan influencer atau bandar ritel, melainkan sebuah perusahaan yang didukung penuh negara, yakni South Sea Company.
Kejadian ini terjadi pada tahun 1720 ketika Inggris berada dalam kondisi keuangan rapuh setelah melewati perang panjang dan mahal melawan kekuatan Eropa. Utang negara membengkak, sementara pemasukan terbatas. Dalam situasi itu, pemerintah melahirkan South Sea Company.
Menurut situs Britannica, dalam menjalankan kepengurusan, perusahaan ini diberi hak istimewa untuk mengambil alih dan mengelola utang negara. Sebagai imbalannya, perusahaan ini dijanjikan monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang kala itu dikenal kaya sumber daya.
Dari sini banyak orang percaya perusahaan akan melesat di masa depan dan memberi keuntungan luar biasa. Apalagi, setelah pemerintah turut membeli legitimasi. Alhasil, banyak rakyat biasa, anggota parlemen, bangsawan, hingga Raja Inggris, George I, memiliki saham. Namun, mereka tidak diberi tahu pengurus kalau wilayah Amerika Selatan tak dikuasai Inggris, tetapi Spanyol. Secara teori, perusahaan akan kesulitan berkembang.
Propaganda pengurus menutupi itu semua. Situs Historic mencatat, harga saham yang awalnya sekitar 100 pound sterling melonjak drastis dalam waktu singkat, hingga menembus lebih dari 1.000 pound.
Euforia menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Orang-orang berlomba membeli saham karena takut ketinggalan peluang. Akibatnya, harga saham naik bukan karena laba atau kinerja, melainkan karena keyakinan akan selalu ada pembeli berikutnya. Inilah pom-pom dalam bentuk paling awal.
Yang tidak diketahui, di balik hiruk-pikuk itu, para petinggi South Sea Company justru mulai menjual saham mereka secara diam-diam. Mereka tahu fondasi bisnis perusahaan rapuh dan janji keuntungan sulit terwujud. Ketika sebagian investor mulai mempertanyakan sumber laba yang sebenarnya, kepercayaan pun runtuh. Kepanikan menyebar cepat. Harga saham jatuh bebas, dan pasar ambruk hampir seketika.
Melansir Royal Society Publishing, dampaknya membuat ribuan orang kehilangan seluruh tabungan hidupnya. Banyak bangsawan dan pengusaha jatuh miskin dan bangkrut dalam semalam. Salah satu korban terkenalnya adalah Isaac Newton. Dia sempat meraih keuntungan. Sayang, kembali masuk saat harga sudah terlalu tinggi dan akhirnya menanggung kerugian besar. Newton kemudian menyimpulkan dia mampu menghitung gerak benda langit, tetapi tidak kegilaan manusia.
Penyelidikan pemerintah kemudian membuka skandal besar. Terungkap praktik suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar yang melibatkan elite politik. Sejumlah pejabat dihukum, sementara kepercayaan publik terhadap negara dan pasar modal runtuh. Kejadian inilah yang kemudian dikenal sebagai praktik menggoreng saham pertama di dunia. Sayangnya, praktik demikian tak pernah benar-benar berhenti.
(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































