Susi Setiawati, CNBC Indonesia
22 January 2026 07:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok lebih dari 1% sehari akibat kondisi makro yang kurang sedap terutama dari blunder AS dan Uni Eropa soal Greenland dan tarif, ditambah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Jepang.
Hal tersebut membuat saham-saham konglomerasi dan bluechip lainnya kompak turun, menyeret IHSG koreksi 1,36% atau 124,37 poin menuju 9.010,33 pada perdagangan Rabu (21/1/2026).
Koreksi harga yang dalam dan total transaksi yang terbilang tinggi menunjukkan tekanan jual investor yang besar. Hingga akhir perdagangan, ada lima saham yang mencatat koreksi dalam dan nilai transaksi besar.
Bumi Resources (BUMI) mencatat total nilai transaksi mencapai Rp 7,3 triliun. Saham BUMI tercatat turun 6,76% ke level 386. Emiten kedua yang kena aksi jual besar adalah Bank Central Asia (BBCA) yang mencatat total nilai transaksi Rp 4,71 triliun.
BBCA anjlok 3,75% ke level 7.700. Hal ini seiring pula dengan aksi jual asing sebesar Rp 751,1 miliar pada sesi 1 hari ini.
Astra (ASII) dan United Tractor (UNTR) juga mencatat nilai transaksi besar dan koreksi dalam. ASII yang koreksi 9,28% membukukan total transaksi Rp 3,55 triliun dan UNTR yang merosot 14,93% ditransaksikan sebesar Rp 2,54 triliun.
Hal tersebut seiring dengan keputusan pemerintah mencabut sejumlah izin usaha kehutanan dan pertambangan imbas banjir Sumatra, termasuk podusen tambang emas Agincourt milik UNTR.
Selanjutnya Bumi Resources Minerals (BRMS) mencatat nilai transaksi Rp 3,15 triliun. Saham emiten grup Bakrie ini turun 3,44% ke level 1.265.
Kalau ditarik lebih banyak, pada Rabu (21/1/2026) ada 10 emiten yang menyeret IHSG turun paling banyak, berikut rincian-nya:
Seiring dengan koreksi dalam IHSG, aliran dana asing mengalir deras keluar dari pasar modal Tanah Air sepanjang sesi 1. Investor asing tercatat melakukan aksi jual Rp 5,1 triliun dan beli Rp 4,1 triliun, sehingga net foreign sell mencapai Rp 1 triliun.
Tantangan global masih menjadi perhatian pasar saat ini masih soal geopolitik setelah Presiden Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, Swedia, dan Finlandia.
Tarif impor sebesar 10% direncanakan mulai berlaku pada Februari 2026 dan berpotensi dinaikkan menjadi 25% pada Juni 2026 apabila negara-negara tersebut tetap menentang rencana AS terkait isu Greenland, yang oleh Trump dianggap memiliki nilai strategis dari sisi keamanan nasional dan sumber daya alam.
Trump bahkan mengancap tarif 200% untuk terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Macron menolak bergabung dengan "Dewan Perdamaian" yang dibentuknya.
Selain itu, pasar juga masih lanjut mencermati agenda World Economic Forum (WEF) yang digelar pada 19-23 Januari 2026 di Davos, Swiff. Ini akan menjadi perhatian pasar terutama soal arah kebijakan ekonomi dan geopolitik global.
Terkhusus soal kendali Greenland saat ini yang masih blunder antara AS dan Uni Eropa.
Ditambah dari pasar obligasi Jepang mengalami kenaikan yield kencang terkhusus untuk tenor jangka panjang.
Pada Selasa malam, yield obligasi 40 tahun itu kembali naik kencang sampai 22bps ke posisi 4.22%.
Sementara, untuk tenor 10 tahun juga mengalami lonjakan menembus 2,3% yang merupakan level tertinggi selama hampir tiga dekade.
Kenaikan yield ini memperkuat sentimen kehati-hatian investor global karena berpotensi memicu pengetatan kondisi keuangan lintas negara.
Kombinasi tekanan eksternal dari AS, Uni Eropa, sampai Jepang membuat pasar beralih ke aset safe haven seperti emas dulu, tak heran harga emas dunia kembali cetak rekor menembus US$ 4.800 per troy ons, momen ini juga membuat saham-saham emas RI dimanfaatkan sell on strenght terlebih dahulu bagi pelaku pasar.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menilai bahwa tekanan IHSG dipicu kombinasi sentimen geopolitik global dan isu domestik terkait saham-saham big caps berbasis sumber daya alam. Menurutnya, pasar cenderung menghindari ketidakpastian sehingga aliran dana beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS yang memicu capital outflow.
"Dampaknya lebih ke psikologis dan arus modal. Ketegangan global buat investor tarik dana dari emerging market balik ke AS, yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah," ungkap Wafi kepada CNBC Indonesia, Rabu, (21/1/2026).
Meski demikian, ia menilai secara jangka pendek IHSG berpotensi menguji support psikologis di level 9.000. Dari sisi fundamental, IHSG dinilai masih relatif resilien karena ditopang fundamental ekonomi yang solid serta dominasi investor domestik dalam transaksi harian.
Di sisi lain, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut koreksi IHSG hari ini relatif sejalan dengan proyeksi teknikal. Menurutnya, pelemahan IHSG juga mengikuti pergerakan bursa global dan regional Asia yang tertekan seiring meningkatnya tensi geopolitik.
"Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi imbas dari meningkatnya tensi geopolitik dengan adanya rencana AS untuk mengambil Greenland dan mengancam adanya pengenaan tarif impor baru terhadap negara-negara yang menentang rencana tersebut. Kami juga mencermati koreksi IHSG ini dibebani oleh sektor industri, properti dan infrastruktur," kata Didit.
Dari sisi teknikal, Senior Market Chartist M. Nafan Aji Gusta menilai indikator Stochastics masih menunjukkan sinyal positif. Adapun level support IHSG berada di kisaran 9.003 dan 8.970, dengan resistance di area 9.147 dan 9.181.
"Secara teknikal, IHSG berpotensi limited upside karena pola doji star candle terbentuk dan RSI sudah berada di zona overbought, sehingga perlu mewaspadai adanya potensi aksi profit taking. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, bahkan MA20&60 berada dalam positive crossover," tuturnya.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

3 hours ago
2

















































